Jatuh cinta yang tak berakhir manis
Selepas mendengar cerita Rika dan Goplo saya beralih ke Nurva. Seorang laki-laki yang juga merasakan cinlok saat KKN. Namun, ceritanya tak semulus Rika dan Goplo.
Nurva mengatakan, sebenarnya mengenal cewek ini semenjak mahasiswa baru di tahun 2019. Namun, Nurva harus berbesar hati karena cewek tersebut justru dekat dengan temannya.
Setelah itu, Nurva tidak memedulikan lagi dengan sosok perempuan itu, sampai pada titik mereka bertemu dalam satu kelompok KKN. Pendekatan yang ia lakukan relatif berhasil. Ia jadi dekat dengan Nana. Semangatnya juga makin membara melihat perempuan itu seperti memberikan lampu hijau dirinya untuk mendekati.
Nurva tak tahan untuk mengungkapkan perasaannya. “Aku juga sebenarnya suka, cuma aku masih kebayang masa lalu,” kata Nurva menirukan jawaban cewek itu. Apa boleh buat, Nurva hanya mengatakan ya sudah jalani saja dulu.
Minggu-minggu selanjutnya tak membuat Nurva tenang. Saingannya bertambah dan berlipat ganda. Mulai dari teman KKN beda kelompok, cowok dari kampus berbeda. Bahkan juga didekati oleh warga lokal yang punya pekerjaan tetap.
Puncaknya terjadi pada minggu ke-4 KKN. Nurva lagi-lagi mendengar kata-kata yang sedikit mengandung unsur penolakan. Cewek itu mengatakan tidak bisa bersama karena kalau jadi hubungan serius, mereka akan menjalani pacaran jarak jauh.
“Loh kan satu kampus” kata saya kaget. Di sini Nurva menjelaskan kalau LDR yang dimaksud itu adalah asal rumah. Nurva berasal dari Jawa Timur sementara cewek itu dari Jawa Tengah. Menurut cewek itu, akan kesulitan nanti berhubungan bila sudah tidak sama-sama kuliah. Terlebih kakaknya si cewek juga menyarankan untuk mencari yang satu daerah saja.
Pantang menyerah mengejar cinta di tempat KKN
Ungkapan cewek itu tidak menyurutkan semangat Nurva untuk terus mendekati Nana. Nurva mengatakan bahwa hubungan mereka sudah selayaknya orang pacaran, hanya saja tak ada ikatan dalam sebuah hubungan.
“Jadi setiap sudut tempat KKN itu kek bener-bener ya banyak cerita lah di situ. Jalan dari perbatasan kabupaten, ke kota, ke coffee shop, berdua,” ceritanya sembari menghembuskan napas panjang.
Di waktu-waktu itu pula kerjanya sewaktu KKN sudah tak menentu. Nurva sangat-sangat menyadari bahwa dirinya egois. Ini semua dilakukan demi kepentingan perasaannya. Hematnya tak akan ada lagi momen seperti ini bila masa KKN telah selesai.
“Aku ngerasa egois tapi yaudah. Puas-puasin sama dia karena ngerasa untuk kedepannya ketika balik di Jogja itu gak bakal bisa kek gini,” kata Nurva.
Pernah suatu ketika saking pesimisnya Nurva mengatakan “hubungan ini hanya sebatas KKN aja atau bakal lanjut?” Sontak perempuan itu terkejut. Menurut gadis yang disukainya tersebut, terlalu mengerikan bila hanya terjadi di KKN. Di sini Nurva merasa ditarik ulur kembali. Karena ungkapan yang begitu, ia pun merasa masih punya secercah harapan.
Sampailah akhirnya waktu pulang tiba. Di sini Nurva menceritakan begitu dalam. Jalan Daendels merupakan jalan yang menyimpan kenangan terbaik menurutnya. Ia dapat berboncengan dengan Nana selama kurang lebih enam jam.
“Cerita-cerita layaknya orang pacaran lah. Kami sempet dengerin musik juga. Dari headset kami bagi dua. Jadi kek dia kiri, aku kanan. Jadi kek bener-bener nyanyi di jalan,” ujarnya dengan sekali lagi menghembus nafas panjang.
Patah hati ditinggal pujaan hati
Setelah KKN berakhir, seminggu pertama Nurva dengan Nana masih mengadakan pertemuan. Pertemuan pertama itu ketika Nana memintanya untuk membeli suatu barang. Pertemuan keduanya atas inisiatif Nurva yang memang sudah terlalu rindu. Kala itu mereka saling berbincang panjang terkait banyak hal.
Nurva memutuskan akan melanjutkan hubungan dengan cewek tersebut, apa pun tantangan yang ada di depan mata. Namun, betapa lemas lutut Nurva ketika mendapat kabar bahwa Nana pergi bersama laki-laki lain ke Kota Solo.
“Dia pergi ke Solo berdua sama cowok nggak tahu siapa. Pergi ke Solo pagi-pagi. Bilangnya sama temen cewek, banyakan. Ternyata sama cowok berdua ke Solo,” imbuhnya.
Betapa hancur hatinya. Nurva memilih pulang ke kampung halamannya di Jawa Timur untuk menenangkan diri. Di sana ia masih dapat beberapa kata penyemangat dari teman-temannya. Berbekal kata-kata itu dan rasa cinta yang teramat sangat, Nurva masih ingin memperjuangkan perasaannya kepada si Nana.
“Aku coba ajak dia main lagi, ternyata dia gak mau berdua, maunya sama teman-teman KKN. Dan setelah beberapa hari ternyata dia upload foto cowok di sosial medianya. Cowok ini ternyata yang ngedeketin waktu jaman KKN,” ungkap Nurva.
Cerita setelah KKN
Saya bertemu Rika pada hari Rabu. Tepatnya di tanggal 16 November 2022. Di situ Rika mengatakan bahwa sampai hari ini ia masih berpacaran dengan Reyhan. Hanya saja ia belum berani menyampaikan kedekatan ini kepada orang tuanya. Hal itu menyangkut ketakutannya kalau ini terjadi hanya karena momen belaka.
“Aku takut ini cuma momen. Pengalamanku, cinta itu butuh waktu. Gak langsung instan kek gini. Makanya aku merasa kek syok gitu,” imbuhnya. Selain menyembunyikan dari orang tua, Rika pun tidak pernah posting fotonya bersama pacar ke sosial media. Itu ia lakukan dengan alasan yang sama.
Karena beda daerah, mereka mengatur pertemuan secara terjadwal. “Setiap hari Kamis dia ke Jogja. Hari Sabtu aku yang ke sana. Jadi kadang seminggu sekali kadang seminggu dua kali,” kata Rika.
Sementara Gaplo hubungannya lancar sampai selesai KKN. Hanya saja sekitar dua bulan berselang. Badai menghantam hubungan mereka. Gaplo mengaku terpaksa mengambil keputusan berpisah karena ada kepercayaan yang tak sejalan.
“Loh kan sama-sama Islam” kata saya dengan sedikit terkejut. “Iya tahu, cuma pahamnya beda. Gak usah aku kasih tau pahamnya apa,” kata Gaplo menjawab.
Dalam hal ini Gaplo mengatakan bahwa ia merasakan bagaimana cinlok sewaktu KKN. Jadi pendapatnya bahwa cinlok itu benar-benar ada. Berbeda dengan Nurva yang tak percaya dengan cinlok KKN.
“Jangan percaya cinlok KKN, itu cuma mitos. Mending jangan. Karena dari beberapa cerita kemaren setelah KKN, hubungannya selesai,” ucapnya.
Cinlok sampai nikah?
Perdebatan cinlok KKN mitos atau bukan itu benar adanya. Buat mereka yang gagal seperti Nurva maka tentu dengan lantang berteriak bahwa cinlok KKN hanya mitos belaka. Namun, saya berkesempatan ngobrol dengan Inur, yang dari cinlok KKN berujung naik pelaminan.
“Mimpi apa ya, pas acara pembukaan. Dulu nggak nyangka juga dapat jodoh teman KKN,” katanya tertawa.
Sebelumnya Inur mengatakan bahwa ia sama sekali tidak mengenal suaminya saat itu. Perkenalannya terjadi sewaktu KKN. Semasa KKN pun sejatinya mereka tidak saling dekat. Kegiatan selalu berkelompok, bukan berdua.
Setelah KKN selesai, ada satu teman cowok di kelompok menghubunginya secara intens. Dari situ pula Inur tahu bahwa pria tersebut sudah menyukainya sewaktu masih KKN.
“Pasca-KKN dia ngajak ketemu terus ngobrol serius gitu,” ungkapny. Mereka kemudian memutuskan menikah di akhir tahun 2019, dua tahun setelah pertemuan mereka saat KKN.
Inur berpendapat, cinlok saat KKN itu fakta. Meski ia mengalami cinta setelah KKN, ada beberapa temannya yang cinlok KKN. Persoalan kemudian hubungan itu berlanjut setelah KKN, itu soal lain. Bahkan salah satu temannya yang terlibat cinlok KKN sebenarnya sudah punya pacar saat itu, namun mereka tahu sama tahu.
“Tapi memang mereka nggak lanjut, mereka menikah dengan orang yang berbeda,” katanya.
