Kosakata Bahasa Indonesia yang Bikin Salah Paham, dari ‘Nyinyir’ Hingga ‘Wacana’

MOJOK.CO – Dari sekian banyak kosakata bahasa Indonesia, ada yang memiliki makna bertolak belakang dari apa yang dipahami masyarakat luas. Coba, apa sih makna kata ‘wacana’ yang sebenarnya???

Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia—merupakan salah satu poin dalam Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang menandai lahirnya bahasa Indonesia. Disebutkan oleh Badan Bahasa, Kemdikbud, bahasa Indonesia ini berasal dari bahasa Melayu yang berkembang di Asia Tenggara sejak abad ke-7.

Meski begitu, saking pesatnya perkembangan bahasa Indonesia, ada beberapa hal yang terjadi di luar kendali. Perkembangan kosakata bahasa Indonesia, misalnya, mengalami kemajuan pesat hingga tak jarang melahirkan bahasa slang atau justru menimbulkan salah kaprah tersendiri.

Jika sebelumnya kita telah mempelajari kesalahan memaknai kosakata bahasa Indonesia yang umumnya berarti sebaliknya (kita menganggap sebuah kata bermakna “A”, padahal seharusnya “bukan A”), kali ini kita akan bertemu beberapa kata yang justru dimaknai sangat berbeda dengan arti sebenarnya. Entah apa yang mendasarinya, tapi fenomenan ini disebutkan terjadi karena perkembangan kosakata bahasa Indonesia itu sendiri.

Berikut adalah 5 di antaranya:

1. Nyinyir

Berkat akun-akun gosip yang ramai bertebaran di Instagram, kata nyinyir telah populer di kalangan rumpi Indonesia dan sering kali dianggap bermakna sama dengan kata nyindir. Padahal sebenarnya, tahukah kamu bahwa kata nyinyir dan nyindir itu benar-benar seperti kamu dan dirinya—alias beda banget???

Menurut KBBI, nyinyir berarti mengulang-ulang perintah atau permintaan, nyenyeh, cerewet. Nah, menilik definisi ini, jelaslah sudah bahwa nyinyir itu bukan nyindir, Sayangku—melainkan aktivitas kebanyakan omong karena selalu diulang-ulang—persis kayak kamu mengulang-ulang memori saat bersamanya. Eaa~

2. Jengah

Oleh sebagian orang, kata jengah diyakini sebagai padanan kata bosan atau jenuh. Entah darimana asalnya, tapi jengah memang tampaknya identik dengan makna tersebut. Padahal ternyata, jengah sendiri artinya adalah…

malu.

Iya, jengah berarti malu, atau kemalu-maluan. Kira-kira, bagaimana bisa kata ini mengalami perkembangan makna sampai-sampai dianggap bermakna jenuh? Apakah ini berarti kalau kita lagi bosan kita akan terlihat malu? Atau kalau kita malu-malu, kita akan menjadi orang membosankan? Hmm?

3. Gahar

Kata yang satu ini identik dengan kesan garang dan sangar. Kaum lelaki pun dianggap pantas menerima julukan gahar atas sikapnya yang berani dan jantan. Pokoknya, kata gahar itu kesannya keren, lah!

Tapi, siapa sangka takdir berkata la—eh, maksudnya, siapa sangka KBBI menuliskan definisi yang lain untuk kata gahar. Alih-alih garang, kuat, dan laki-banget, makna kata gahar yang sesungguhnya adalah gosok kuat-kuat (kata kerja).

Baiklah, sekarang kamu sudah tahu: kalau kelak ibumu bilang gahar padamu, mungkin maksudnya beliau minta tolong kamu untuk bersih-bersih perabotan rumah yang perlu digosok kuat-kuat. Nggak usah GR dulu, Beb~

4. Tegar

Kata tegar selama ini selalu dimaknai sebagai tabah, berkat lagu Tegar yang dinyanyikan oleh Rossa. Ingat, kan, lagu yang liriknya “Tergoda aku tuk berpikir, dia yang tercinta”? *jebakan umur*

Ya, sejak tahun 1999—tahun rilis album Rossa tersebut—beberapa orang menilai tegar adalah kata lain dari tabah. Padahal,mulanya, bahasa Indonesia tidak mengamini hal tersebut. Faktanya, dari Kamus Umum Bahasa Indonesia buah karya W.J.S Purwadarminta, tegar memiliki arti keras kepala, kepala batu, dan ngeyel.

Namun, dalam perkembangannya, KBBI menunjukkan bahwa bahasa Indonesia tidak membatasi makna kata tegar. Berikut adalah makna kata tegar yang paling up-to-date di KBBI:

  1. keras dan kering,
  2. keras kaku,
  3. tidak dapat diubah,
  4. tabah.

Yaaah, kalau dipikir-pikir, mungkin makna yang keempatlah yang mendasari beberapa orang tua menamai anaknya dengan kata Tegar. Nggak mungkin juga, kan, para Tegar di dunia diharapkan menjadi orang yang keras, apalagi orang yang kering? :((

5. Wacana

Menurut KBBI, kata wacana berarti:

  1. komunikasi verbal; percakapan,
  2. keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan
  3. satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh, seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah,
  4. kemampuan atau prosedur berpikir secara sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat, dan
  5. pertukaran ide secara verbal.

Coba lihat baik-baik, adakah kata rencana sebagai padanan makna wacana?

Ya, nyatanya, orang-orang menganggap wacana adalah rencana. Lebih lengkapnya: rencana yang tidak terwujud. Padahal sebenarnya, wacana jauuuuh lebih dalam daripada itu.

Dalam bahasa Inggris, wacana serupa dengan kata discourse, yang merujuk pada satuan bahasa dalam bentuk tulisan, percakapan, atau diskusi. Nah, mungkin, makna percakapan inilah yang kemudian diartikan sebagai rencana yang nggak kesampaian. Betul?

Jadi, sudahlah, jangan terlalu sering dibiasain menyamakan rencana dengan wacana. Harap diingat, di mana-mana, yang namanya disama-samain itu nggak enak….

Exit mobile version