Peringatan Hari Kemerdekaan, Netizen Malah Sedih

Apa yang orang tulis untuk status Facebook mereka di peringatan hari kemerdekaan? Pindaian sekilas Mojok, rata-rata sedih euy. Tentang penegakan HAM yang menggantung, harga garam yang tinggi, keprihatinan atas intoleransi, hingga konflik agraria yang masih subur.

Tahun lalu, suasana lebih gembira karena pasangan Owi-Butet memenangkan medali emas di Olimpiade Rio. Tapi, agak suram juga karena sejumlah netizen menyundul lagi status penulis Tere Liye yang sebenarnya diposkan bulan Maret.

Kayaknya memang nggak ada waktu yang paling tepat untuk membaca lagi buku sejarahmu selain di hari peringatan kemerdekaan.

Berikut tiga status soal kemerdekaan pilihan Mojok hari ini.

Irwan Bajang (17 Agustus 2015): Merdeka itu wajah sedih petani yang membuang tomatnya karena ongkos angkut ke pasar lebih mahal dari harga jualnya. Merdeka itu barisan konvoi Harley Davidson yang dikawal polisi untuk menerobos lampu merah. Merdeka itu kenaikan pajak buku di toko buku dan harga kertas yang tidak pernah stabil. Merdeka itu harga buku mahal yang membuat pembaca harus menambah anggaran untuk pintar dan bersenang-senang.

Merdeka itu harga rupiah yang terjun bebas dan harga dolar yang meroket mengencinginya. Merdeka itu Megawati pertama kali upacara di Istana negara setelah 10 tahun tidak mau memenuhi undangan SBY. Merdeka itu SBY bikin upacara sendiri dan membalas tidak hadir ke Istana.

Merdeka itu hotel-hotel di Yogya makin banyak dan sumur warga jadi kering. Merdeka itu boleh mengafirkan orang dan memukulnya di jalan karena tidak sepaham. Merdeka itu seorang pendaki yang hilang di jalan usai mengibarkan bendera di puncak gunung. Merdeka itu barisan sendu anak-anak Porong upacara di genangan Lumpur Lapindo. Merdeka itu mahasiswa baru siap-siap ospek dan dimarahi senior.

Merdeka itu upacara di bawah laut yang terumbu karangnya sering dibom. Merdeka itu orang hutan dibunuh dan kebun sawit makin luas. Merdeka itu bekas lubang tambang yang digali dan jadi tanah mati milik hantu-hantu. Merdeka itu panitia Frankfurt Book Fair masih bingung mau undang siapa dan menolak siapa. Merdeka itu Saut Situmorang nggak diundang ke Jerman dan Goenawan Mohamad dapat penghargaan dari Jokowi. Merdeka itu Soeharto dan istri mau dijadikan pahlawan sementara Tan Malaka entah kabarnya bagaimana. Merdeka itu reklamasi Teluk Benoa di Bali yang pasirnya diimpor dari perluasan pelabuhan di Lombok. Merdeka itu media online berebut bikin berita dengan judul mencengangkan. Merdeka itu Telkomsel yang menerapkan tarif mahal untuk Indonesia di bagian timur.

Merdeka itu harga beras naik terus tapi panen petani tepok jidat. Merdeka itu sekilo kopi seharga dua puluh ribu di petani dan dua puluh lima ribu segelas di kafe tongkronganmu. Merdeka itu ajakan berdoa untuk menguatkan harga rupiah. Merdeka itu siaran langsung kawinan dan lahiran anak artis di televisi. Merdeka itu Sitok tidak kunjung dipenjara karena memperkosa.

Rijal Mumazziq Z (17 Agustus 2017): Bendera merah putih dijahit oleh Fatmawati, perempuan Bengkulu. Nampan berisi sang saka merah putih dibawa Ilyas Karim, pemuda Minang, didampingi Suhud Sastrokusumo dan Singgih, dua pemuda Jawa; kemudian dikibarkan oleh Latif Hendraningrat, prajurit PETA, keturunan Jawa kelahiran Batavia. Disaksikan oleh sebagian kecil rakyat Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta, sang saka merah putih dikibarkan, dikerek melalui tali di atas bambu yang tertancap di bumi ibu pertiwi.

Beberapa saat sebelum pengibaran merah putih dalam prosesi sederhana ini, atas nama bangsa Indonesia, Sukarno, peranakan Jawa-Bali, didampingi Mohammad Hatta, orang Minang, memproklamirkan kemerdekaan sebuah bangsa. Naskah proklamasi diketik Sayuti Melik, pemuda Jawa, menggunakan mesin ketik yang “dipinjam” dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler. Konsep isi teks proklamasi dirapatkan di rumah Laksamana Maeda, serdadu AL Jepang.

Malam hari sebelum proklamasi, Sukarno dan Hatta diculik oleh Sukarni, pemuda asal Blitar; Chairul Saleh gelar Datuk Paduko Rajo kelahiran Sawahlunto, Sumatra Barat; dan Wikana, pemuda blasteran Jawa-Sunda. Ketiga-tiganya orang Kiri. Rapat kilat soal narasi proklamasi dilaksanakan di Rengasdengklok, di rumah seorang Tionghoa, Djiaw Kie Siong.

Kelak, ketika Belanda melakukan Agresi Militer II dengan menyerbu Yogyakarta, 1948, sebelum ditangkap, Bung Karno secara khusus menitipkan sang saka merah putih kepada Husein Mutahar, orang Arab. “Pertahankan dan lindungi, bahkan dengan nyawamu!” perintah Bung Karno kepada H. Mutahar.

Dalam Agresi Militer II ini, Bung Karno, Bung Hatta, dan Agus Salim ditangkap Belanda. Perjuangan diplomasi melobi negara Barat dilakukan oleh Sjahrir, orang Minang, dan kawan-kawannya. Upaya meyakinkan dukungan luar negeri, khususnya negara Timur Tengah, dijalankan oleh Abdurrahman Baswedan, orang Arab. Untuk memperoleh senjata dari pasar gelap, John Lie, prajurit Tionghoa, menerobos blokade laut Belanda menuju Singapura. Dalam perjuangan bersenjata dengan cara gerilya, Sudirman, prajurit Jawa yang saleh, memperpanjang nafas perjuangan meski paru-parunya tinggal separuh. Serangan Umum 1 Maret 1949, dirancang oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dan dilaksanakan oleh gabungan prajurit lintas suku dan agama.

Ketika Bung Karno sebagai RI-1 tidak memiliki pesawat kepresidenan, para ulama Aceh mengumpulkan para saudagar dan rakyatnya. Mobilisasi dilakukan untuk mengumpulkan emas demi membeli sebuah pesawat kepresidenan RI. Kontribusi rakyat Aceh sebesar 20 kg emas ini kemudian diabadikan melalui nama pesawat RI-1, Dakota 001 Seulawah, yang berarti Gunung Emas.

Di berbagai daerah, upaya mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dilakukan oleh mereka yang mencintai bangsa ini, tak terbatas oleh agama tertentu, atau satu suku saja. Semua orang, apa pun agama dan sukunya, punya potensi menjadi orang baik dan benar sebagaimana mereka juga punya peluang menjadi penghianat dan pecundang.

Lahirnya orok bernama Indonesia dibidani oleh rakyat, oleh siapa pun yang mencintai bangsa ini. Baju persatuan disulam oleh kecintaan mendalam terhadapnya. Dan taman sari bernama Indonesia, yang berisi bunga-bunga warna-warni, senantiasa dirawat oleh rasa memiliki. Sungguh, kemajemukan Indonesia adalah anugerah dari Allah. Jika engkau terpesona dan mengucap “Subhanallah” hanya karena melihat awan berbentuk lafadz ALLAH, atau kulit katak yang tertera lafadz ALLAH, atau isi tomat membentuk lafadz MUHAMMAD, lalu mengapa engkau tak pernah mengucapkan “Subhanallah” dan “Alhamdulillah” saat melihat kemajemukan taman sari bernama Indonesia, Tuan? Apakah karena engkau lupa minum COMBANTRIN?

Fabiayyi ala-i rabbikuma tukadzdziban?

Eko Winarno (16 Agustus 2014): Merdeka itu adalah ketika gambar Sukarno dan Hatta, banyak berlembar-lembar memenuhi isi dompet kita. Namu, ketika dompet itu hanya ada gambar Kapitan Patimura dan Pangeran Antasari, itu artinya kita masih dalam perjuangan. Belum merdeka!

Exit mobile version