Kekhawatiran yang Terlambat, KPAI Anggap PB Djarum Eksploitasi Anak

Ilustrasi net badminton

MOJOK.COKPAI menganggap kegiatan seleksi beasiswa PB Djarum sebagai bentuk eksploitasi anak. Khawatir rokok enggak dianggap sebagai benda yang berbahaya. Yak opo, rek!

Bulu tangkis sudah dikenal masyarakat Indonesia sejak tahun 1930an. Saat itu, bulu tangkis berada dalam naungan Ikatan Sport Indonesia (ISI). Sementara itu, PB Djarum berdiri pada tahun 1974. Tahun ketika Sitty Hikmawatty, anggota komisioner KPAI masih berusia empat tahun.

Tahun 2019, bulan Juli, Sitty Hikmawaty memandang seleksi beasiswa bulu tangkis Djarum Foundation adalah bentuk eksploitasi anak. Sitty mengkritik cara Djarum Foundation memasang logo di seragam yang dikenakan para calon atlet dan di beberapa tribut penunjang.

Sitty khawatir bentuk eksploitasi anak ini akan menggiring banyak anak kecil untuk berpikir kalau rokok itu bukan benda yang berbahaya untuk kesehatan.

“Itu sudah kami lakukan survei kepada anak-anak. Jadi ada empat dari lima anak yang ditanya mengatakan kalau Djarum itu pasti rokok, Djarum Foundation itu rokok. Walaupun dia sebut ini kan beda, tapi survei yang terjadi pada anak begitu. Jadi kalau mau tetap diadakan kegiatan oleh Djarum Foundation silakan, tapi jangan gunakan logo misalnya,” tutur Sitty seperti dilansir oleh Tirto.

Kata “dia” di dalam pernyataan Sitty merujuk kepada sanggahan pihak PB Djarum. Direktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, sudah membantah tuduhan eksploitasi anak yang dilayangkan KPAI dan Lentera Anak.

Yoppy menjelaskan kalau yang dilakukan PB Djarum adalah murni bentuk pembinaan bukan promosi rokok. Selain bulu tangkis, PB Djarum juga perhatian dengan SSB, panahan, dan voli.

Lebih lanjut, Yoppy menjelaskan kalau logo Djarum di seragam meruju kepada klub bulu tangkis di bawah Djarum Foundation. Yoppy menegaskan ini bukan bentuk event rokok.

Well, kalau dipikirkan ulang, mengapa baru pada tahun 2019 ini Sitty Hikmawaty berteriak soal kekhawatiran. PB Djarum sudah berdiri sejak 1974 dan menghasilkan banyak atlet berprestasi. Untuk siapa, ya untuk Indonesia.

Melintasi waktu, misalnya, Kevin Sanjaya Sukamuljo meraih juara Chinese Taipe Grand Prix 2015 dan Malaysia Masters Grand Prix Gold 2016. Tontowi Ahmad, hattrick juara All England 2012, 2013, 2014 dan juara BWF Wold Championship nomor ganda campuran. Ini masih belum memasukkan nama-nama legendaris seperti Leim Swie King dan Alan Budi Kusuma. Bahkan masih ada I Gusti Agung Kusuma Yudha Rai a.k.a Ade Rai. Ya, kamu nggak salah baca.

Well, nama terakhir memang nggak berprestasi di bidang namplek wulu. Namun, bakat atlet di dalam dirinya sudah ditempa sejak masa silam oleh PB Djarum.

Ya sudah kalau memang Sitty Hikmawatty mau menganggap rokok sebagai benda berbahaya dan bisa berpengaruh kepada pikiran anak-anak. Saya cuma mau nitip pesen, tolong itu udara buruk di Jakarta juga dibikin ramai, dong. Yang paling terdampak jelas anak-anak. Nggak perlu dijelaskan lebih lanjut, kan?

Asap pabrik dan asap kendaraan bermotor nggak pernah dibikin ramai. Seramai kalau ada tema “rokok” di sana. Pokoknya yang salah rokok, asal pabrik dan kendaraan itu enggak salah. Bahkan misalnya PB Djarum sudah membantu membangun sejarah bulu tangkis sekaligus regenerasi atlet berprestasi, pokoknya tetap salah. Titik.

Sungguh kekhawatiran yang terlambat lebih dari tiga dekade. Bahkan ada yang berpandangan ini kekhawatiran yang aneh. Siapa lagi kalau bukan netizen dengan komentar absurdnya yang bilang begitu.

(yms)

Exit mobile version