Kerja Sesuai Minat Bukan Jaminan Happy Ending

Tolong Ya, Kerja Sesuai Passion Itu

MOJOK.CO Apakah saya langsung keluar dari kantor kalau nggak kerja sesuai passion? HELLLAAAW, MANA BISA, MALIIIIIH???

Saya pernah pindah jurusan kuliah, dari Farmasi ke Pendidikan Bahasa Inggris. Alasannya? Passion.

Saya jauh lebih suka belajar bahasa Inggris daripada nggerus-nggerus bahan-bahan kimia untuk dijadikan sediaan obat dan dimasukkan ke dalam kapsul dengan perhitungan yang tepat. Saya lebih suka bawa-bawa kamus Oxford daripada farmakope. Pokoknya, saat itu, saya merasa bahwa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris adalah passion saya banget!

Beruntung, orang tua saya mengizinkan. Saya bisa berkuliah sesuai passion saya dan rasanya bangga sekali.

Selepas kuliah, saya berganti pekerjaan beberapa kali, hingga akhirnya—untuk pertama kali—kerja sesuai passion saya alami saat menjadi seorang editor buku, lalu berpindah menjadi redaktur di kantor media tempat tulisan ini dimuat sekarang (ciyeee!). Saya bisa menulis hal yang saya suka dan mengolah tema tulisan menjadi apa yang saya mau. Yang lebih menyenangkan, tulisan saya dibaca orang banyak; saya mendapat masukan, saran, kritik, pembaca, dan—tentu saja—gaji. HAHAHA.

Apakah penulis merupakan kerja sesuai passion yang saya dambakan? Iya. Tapi, pertanyaan berikutnya muncul: apakah kehidupan saya jadi bahagia selamanya gara-gara berkuliah dan bekerja sesuai passion?

Tidak.

“Belajar bahasa Inggris” tidak sesederhana itu. Sebagai mahasiswi, saya harus jatuh bangun setengah mati di sebuah mata kuliah yang bahkan namanya saja saya sudah lupa. Pokoknya, saya harus bisa menguraikan komponen tiap kalimat, persis kayak kita mengurai senyawa-senyawa kimia di laboratorium. Saya bahkan sempat mengulang salah satu mata kuliah linguistik dan tetap tidak mengerti apa yang dosen saya jelaskan.

Menjadi penulis juga nggak gampang-gampang amat. Saya pernah pulang kantor sambil diam-diam menangis karena merasa tulisan saya nggak berhasil membantu Mojok meningkatkan traffic. Saya sedih melihat komentar jahat di artikel yang saya produksi. Saya merasa sangat bersalah saat tak sengaja membuat kekeliruan di rubrik yang saya ampu. Beberapa kali saya mengalami burnout, bahkan terganggu luar biasa saat keadaan psikis saya sedang tidak stabil, tapi tetap harus menulis artikel reguler setiap hari.

Singkatnya, Saudara-saudara, bekerja sesuai passion ataupun kerja sesuai passion, nyatanya, tak lantas menjamin hidupmu bakal selalu bahagia.

Sebelum jadi redaktur, saya pernah bekerja nggak sesuai passion: jadi guru SD. Jangan salah, saya suka anak kecil. Tapi, jadi guru SD adalah hal yang lain: kamu harus punya stok sabar yang luar biasa.

Kenapa guru SD bukan passion saya? Buat saya, rasanya membosankan sekali setiap hari harus mikirin apa yang bakal saya ajarkan keesokan harinya. Lagu apa yang akan saya nyanyikan untuk menarik perhatian murid-murid? Gimana caranya biar mereka nggak rebutan chicken nugget yang dibawa murid yang duduk paling depan? Gimana caranya biar anak bandel yang duduk di belakang itu berhenti ngajakin berantem teman sebangkunya setiap 10 menit? Gimana caranya biar anak-anak ini nggak terobsesi dapat nilai 100—mengingat ada beberapa murid yang menangis waktu mendapat nilai 80 dan 90?

Tapi, apakah saya langsung keluar dari gedung SD dan ngelempar semua RPP yang saya buat? HELLLAAAW, MANA BISA, MALIIIIIH???

Dikutip dari CNBC, Stanford University pernah menggelar studi mengenai pandangan kerja sesuai passion yang justru memberikan hasil bahwa orang-orang bakalan jadi lebih tidak sukses dibandingkan orang lain. Loh, kok bisa gitu???

Ternyata, usut punya usut, kerja sesuai passion hanya akan memberikan ilusi jalan pintas menuju kesuksesan, padahal yang ia lakukan hanyalah “mempersempit fokus”.

Kerja sesuai passion, dalam penelitian ini, membuat orang-orang jadi lebih gampang mengabaikan potensi mereka di bidang lainnya. Alhasil, mereka pun batal jadi orang-orang kekinian karena nggak open-minded. Iiiih!

Pendapat menarik pernah dilontarkan Erix Soekamti saat mengisi acara Mofest Kemenkeu di Yogyakarta, hari Sabtu (28/9) lalu. Menurutnya, ada tiga hal penting yang bisa kita temui dalam hidup: hobi, passion, dan pekerjaan.

Jika hobi adalah hal yang kita lakukan untuk membahagiakan diri sendiri, passion adalah hal-hal yang memang sangat “kita-banget” untuk dikerjakan. Sementara itu, pekerjaan adalah sesuatu yang lain—ia dilakukan untuk membantu kita bertahan hidup.

Begini. Ada ujaran yang menyebut do what you love dan sering kali menjadi kunci dari betapa “kerja sesuai passion” adalah wajib dilakukan. Tapi, yang sering kita lupakan, ungkapan berikutnya juga tak kalah penting: love what you do.

Daripada sibuk merutuki kenapa kamu nggak bisa kerja sesuai passion, kenapa kamu nggak mulai menghayati pekerjaanmu sendiri dan mencintainya baik-baik?

Menjadi redaktur Mojok memang “kerja sesuai passion” yang saya banggakan selama ini. Tapi, suatu hari nanti pun, waktu saya akhirnya melepas zona nyaman ini, saya bakal sama seperti kamu: nggak punya jaminan bahwa saya bakalan bekerja sesuai passion lagi.

Pekerjaan saya setelah ini bisa jadi sangat “bukan-saya”, tapi—yah—nggak semua hal di dunia ini harus berjalan sesuai keinginan kita, kan? Lagi pula, bukankah itu seni yang sebenernya menjadikan hidup ini terasa lebih…

…hidup?

BACA JUGA Buat Apa Kerja Keras untuk Pekerjaan yang Tidak Kita Suka? atau artikel Aprilia Kumala lainnya.

Exit mobile version