Selamat Ulang Tahun Mojok.Co

Selamat Ulang Tahun Mojok.Co

Selamat Ulang Tahun Mojok.Co

Teman-teman yang baik,

Bersama surat cinta ini, saya lampirkan seruan untuk memulai revolusi. Dan teman-teman adalah orang-orang terpilih untuk terlibat dalam revolusi tersebut. Besar harapan kami di Mojok.Co agar teman-teman sekalian bersedia ikut serta dalam gerilya, penguatan kantung-kantung perjuangan, menuju serangan besar pada tanggal 28 Agustus 2014 nanti. #Halah

Intinya begini. Kami sedang menyiapkan situsweb hiburan yang akan diluncurkan tanggal 28 ini. Situsweb ini dipersiapkan untuk jangka panjang. Kami meminta teman-teman sekalian menjadi bagian dari rencana ini, menjadi penulis reguler setidaknya dalam tiga tahun ke depan. Nah, untuk persiapan peluncuran, kami minta teman-teman menulis 2 artikel, minimal 400 kata, deadline-nya tanggal 27. Jadi masih ada waktu seminggu.

Demikian surat cinta ini saya buat, keterangan teknis lainnya ada di dalam lampiran. Jika ada hal-hal lain yang masih harus dibicarakan, saya terbuka untuk dihubungi kapan saja.

Salam.

Begitulah pesan yang saya terima dari Pemred Mojok.co, tanggal 20 Agustus tahun lalu via email. Pesan itu sekaligus menjadi penanda awal bagi saya sebagai penulis Mojok.

Saya belum ngeh dengan konsep Mojok waktu itu, mangkanya ketika saya diminta untuk membuat satu tulisan, saya masih bingung dengan gaya tulisan yang diinginkan. “Tulisan apa saja, temanya bebas, kayak tulisan-tulisan di blogmu,” kata si Pemred yang belakangan saya ketahui bernama Arlian Buana—Pemred yang usianya masih cukup muda, kendati dalam gurat-gurat wajahnya sudah nampak jelas raut keletihan yang teramat sepuh.

Saya akhirnya membuat tulisan yang isinya tentang curahan hati saya. Dan alhamdulillah, tulisan berjudul “Pledoi Truk Boks dan Sandal Joger sebagai Jomblo Abadi” itu ternyata lolos dari kurasi si Pemred dan tayang di Mojok dua hari setelah saya kirim. Tepat satu hari setelah tayang, uang honorarium pun meluncur ke nomor rekening saya dengan lancar bak konvoi Moge.

Sejak tulisan pertama saya dimuat, saya kemudian diminta untuk kembali menulis. Si Pemred meminta saya untuk menyetor tulisan empat kali dalam sebulan, artinya satu minggu satu naskah. Tapi apa daya, raga lemah ini tak mampu menuruti hasrat binal si Pemred. Saya tak pernah bisa menyetor empat tulisan dalam sebulan, paling-paling cuma satu atau dua. Pernah sih sebulan sampai tiga tulisan, tapi itupun karena saya kalah taruhan bola sama si Pemred.

Total, dalam satu tahun, saya hanya bisa menyetor 16 tulisan, di mana 14 tulisan dimuat, sedangkan dua sisanya ditolak mentah-mentah karena kurang memenuhi syarat kompetensi. Yah, namanya juga Mojok.co, media baru yang belagu dan banyak maunya.

***

Bagi saya, menjadi penulis Mojok jelas merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan ketimbang sekadar Naik delman istimewa ku duduk di muka. Karena saya bisa menimba ilmu menulis, bertukar pikiran, dan melihat cara pandang sesuatu dari dimensi yang berbeda.

Menjadi penulis Mojok membuat saya bangga, dan sedikit (((jumawa))). Lha betapa tidak, banyak penulis-penulis kaliber wahid yang juga nyambi jadi penulis Mojok, antara lain Arman Dhani, Iqbal Aji Daryono, Eddward S Kennedy, Puthut EA, Muhidin M Dahlan, Edi AH Iyubenu, Candra Malik, Rusdi MathariAS Laksana, dan masih banyak lagi. Bagi saya yang cuma blogger kelas menengah PAUD ini, bisa berdiri satu bilik dengan barisan nama-nama beken di atas tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri .

Menjadi penulis Mojok juga melahirkan prestise tersendiri. Sebagai media yang membayar penulisnya dengan honorarium yang cukup tinggi, Mojok menarik banyak orang untuk berlomba-lomba mengirimkan tulisannya agar bisa dimuat. Maka tak heran jika kemudian banyak yang menganggap kalau para penulis yang pernah nampang di Mojok pastilah penulis yang linuwih, dan punya ilmu kanuragan penulisan yang mumpuni.

Kendati demikian, ada juga sisi tidak menyenangkan dari menjadi penulis Mojok. Yah, maklum saja, sebagai media yang berjalan dengan menembus sudut pandang konvensional, Mojok kerap dianggap sebagai media nyeleneh. Dan konsekuensinya jelas, akan selalu ada haters yang tak bosan-bosannya nyinyir sama para penulis Mojok—termasuk saya.

Beberapa kali saya sempat kena nyinyir yang cukup nylekit dari pembaca, dibilang goblok lah, tidak berpendidikan lah, dan lain sebagainya. Namun alhamdulillah, sebagai lelaki bulletproof, lelaki yang nothing to lose, lelaki titanium, saya selalu bisa menanggapi nyinyiran itu dengan santai, elegan, dan tidak terpancing. Ya maklumlah, penulis Mojok memang disyariatkan untuk selalu bersahaja. 🙂

Namun, lebih dari itu semua, yang paling tidak menyenangkan adalah ketika naskah ditolak mentah-mentah, apalagi kalau saya sedang sangat mengharapkan uang honorarium karena kondisi keuangan yang memang sedang kere-kerenya. Padahal, giliran pas punya duit, naskah yang saya buat malah sering lolos begitu mudahnya. Bajingan tengik, memang taek itu Pemred. Golok mana, golok?

***

Jujur, saya tak pernah menyangka Mojok bakal tumbuh sepesat ini. Rate share-nya tinggi, follower serta subscriber-nya bejibun, dan pengunjung hariannya konon mencapai puluhan ribu. Mojok kini tumbuh menjadi media yang menjadi rujukan bagi segenap insan yang sudah tiada tahan dengan aneka tulisan di media mainstream yang hanya menampilkan sudut pandang yang itu-itu saja. Singkatnya, Mojok kini bertranformasi menjadi media yang sangat luar biasa.

Jangankan saya, lha wong Kepala Sukunya saja juga tidak menyangka kok. Sungguh sebuah pencapaian yang sangat tidak terduga untuk ukuran situsweb yang baru berumur satu tahun.

Nah, di usianya yang sudah menginjak tahun pertama ini, saya sebagai salah satu penulis Mojok mengucapkan: “Selamat Ulang tahun Mojok.co, semoga semangkin cemerlang dan semangkin berkibar di ranah maya.”

Semoga di tahun berikutnya, jumlah pengunjung Mojok semakin banyak dan bisa menyalip jumlah pengunjung Buzzfeed. Aamiin.

Eh, btw, bisa kali honorarium buat penulisnya ditambah… Hehe. Hehe. Hehehehehehehe.

Exit mobile version