Peci Putih yang Haram Dipakai Sowan Kiai

MOJOK.CO – Tiba-tiba Gus Mut minta peci putih yang dikenakan Fanshuri diganti. Padahal Fanshuri emang mau sowan ke kiai. Apanya yang salah? Kan ini setelan santri?

Fanshuri berjalan menuju kediaman Gus Mut yang cuma sejauh lemparan kancut anak Madrasah Ibtidaiyah.

Hari ini, masih dalam masa-masa lebaran, Gus Mut menawari Fanshuri untuk ikut sowan ke Rembang. Ke salah satu ulama sepuh paling mentereng di Nusantara. Tentu saja Fanshuri senang bukan kepalang. Kapan lagi bisa sowan ke sesepuh paling dihormati seantero negeri?

Karena rencana sowan tidak sampai menginap, jadi Fanshuri tidak membawa baju ganti. Hanya pakaian yang dia pakai saja. Sarung biasa, baju koko warna putih, lalu peci dengan warna senada.

Begitu sampai teras rumah Gus Mut, Fanshuri leyeh-leyeh sebentar. Sembari menyulut rokok. Menunggu Gus Mut yang masih siap-siap di dalam rumah.

“Jadi berangkat kan, Gus?” kata Fanshuri melengok sebentar ke pintu rumah Gus Mut.

“Oh, Fanshuri. Iya, jadi, bentar,” kata Gus Mut masih bersiap-siap.

“Kunci mobilnya mana, Gus? Sini biar saya panasin dulu mobilnya,” kata Fanshuri.

“Oh, iya, benar,” kata Gus Mut sembari mengambil kunci mobil di dalam lemari lalu menyerahkannya ke Fanshuri.

Menyadari ada yang agak kurang cocok dengan dandanan Fanshuri, Gus Mut menghampiri.

“Fan, bisa nggak nanti setelanmu itu ganti yang lain?” tanya Gus Mut.

Fanshuri lumayan terkejut. Apa yang salah dengan pakaiannya? Bukannya kalau mau sowan ke kiai, apalagi kiai sepuh, seseorang harus berpakaian sesopan mungkin? Lagipula setelan yang dipakai Fanshuri sangat “santri sekali”: baju kok putih, sarung, peci putih.

“Emang apa yang salah, Gus?” tanya Fanshuri.

“Udah lah, ganti aja dulu, nanti aku jelaskan saat di mobil sambil jalan. Keburu siang nih,” kata Gus Mut.

Meski penasaran setengah mampus, Fanshuri manut saja dengan intruksi Gus Mut. Fanshuri balik lagi ke rumahnya, memakai baju batik biasa, lalu peci hitam resmi. Tentu dengan berbagai pertanyaan di kepalanya yang berjejal.

Sampai kemudian Fanshuri dan Gus Mut berangkat.

Perjalanan cukup macet, maklum, ini masih dalam masa-masa libur Lebaran. Sampai dalam pikiran Fanshuri, sepertinya semua orang hari itu sedang mau ke Rembang semua.

“Gus,” kata Fanshuri tiba-tiba ketika keadaan mobil terjebak macet.

“Iya, iya, aku tahu kamu penasaran soal kata-kataku tadi kan,” kata Gus Mut.

“Hehe, sebenarnya sih saya mau bilang kita mau ngisi bensin di mana, tapi kalau Gus Mut mau jelasin soal yang itu sih ya nggak apa-apa,” kata Fanshuri sambil terkekeh.

“Oh, bensinnya udah mau habis?” tanya Gus Mut.

“Nggak sih, Gus, lumayan. Tapi kalau mau sampai Rembang kan kita kudu ngisi nih,” kata Fanshuri.

“Ya udah, seketemunya POM bensin di depan aja,” kata Gus Mut.

Keduanya lalu terdiam.

“Yang tadi nggak jadi dijelasin, Gus?” tanya Fanshuri.

“Yang mana?” kata Gus Mut pura-pura bodoh.

“Lha yang tadi, yang waktu saya disuruh ganti baju dan lain-lain tadi itu lho. Wah, Gus Mut itu gimana sih?” kata Fanshuri.

“Oh, aku kira kamu nggak butuh dijelasin,” kata Gus Mut usil.

“Yee, gimana sih? Ditungguin ini juga,” kata Fanshuri.

Gus Mut lalu membenarkan posisi duduknya.

“Gini, Fan. Tadi itu aku minta kamu ganti itu sebenarnya biar menyesuaikan sama kultur di daerah tempat Pak Kiai Sepuh yang akan kita sowani ini,” kata Gus Mut.

“Lah emang kenapa Gus? Kan pakaian saya baik-baik saja tadi? Bagus malah, kelihatan santri banget. Yang ini malah menurut saya agak terlalu mewah. Pakai batik, peci hitam resmi, pakai sarung. Udah kayak kiai mau kondangan aja,” kata Fanshuri.

“Nah, itu masalahnya,” kata Gus Mut.

Fanshuri masih tidak mengerti. “Maksudnya, Gus?”

“Ya kamu memakai standar pakaian bagus di daerahmu sendiri,” kata Gus Mut.

“Memangnya pakai baju koko putih dan peci putih itu nggak bagus apa, Gus, buat dipakai sowan ke Pak Kiai?” tanya Fanshuri.

“Bagus,” kata Gus Mut.

“Lha kan? Terus kenapa saya disuruh ganti?” tanya Fanshuri lagi.

“Masalahnya pilihan pakaianmu itu terlalu bagus. Jauh lebih bagus dari setelan yang kamu pakai sekarang. Bukan bagus secara harga tentu saja, tapi dari nilai kultur masyarakatnya,” kata Gus Mut.

Fanshuri semakin bingung.

“Pakaian putih dan peci putih itu standar busana yang mewah di sana, Fan. Nggak semua orang bisa sembarangan pakai peci putih di daerah itu. Karena hanya mereka yang pernah berangkat haji saja yang bisa mengenakannya,” kata Gus Mut.

Fanshuri terdiam sejenak.

“Padahal kalau Gus Mut tahu harga pakaian saya yang ini, jelas jauh lebih mahal daripada setelan saya yang tadi. Batik ini aja ratusan ribu, pecinya aja hampir seratus ribu. Sedangkan tadi, peci putih saya aja harganya nggak nyampe 10 ribu,” kata Fanshuri.

“Lho, jangan salah. Kalau mau dinominalkan pakai duit, peci putih yang dipakai orang asli sana itu harganya bisa sampai 30-40 jutaan lho, Fan. Padahal bentuknya sama persis dengan peci putihmu yang harga 10 ribu itu,” kata Gus Mut.

“Buset, peci putih apaan itu bisa mahal banget? Ada teknologinya Tony Stark apa gimana, Gus?” tanya Fanshuri.

Gus Mut terkekeh.

“Bukan, bukan, orang di sana itu kan dasarnya bukan orang-orang yang kaya-kaya banget, Fan. Petani-petani gitu. Tapi takzim dan salehnya bukan main. Sudah jadi hal biasa kalau ada orang rela jual sawahnya, sapinya, rumahnya, demi bisa berangkat haji. Oleh karena itulah peci putih mereka sangat dihargai dan dimuliakan oleh Pak Kiai Sepuh karena itu tanda seseorang sudah pernah naik haji.”

“Ya jelas, mereka ini layak dimuliakan. Soalnya, di saat kita menimbun harta banyak-banyak tapi nggak berangkat-berangkat haji, mereka rela kehilangan apapun agar bisa berangkat ke Masjidil Haram,” kata Gus Mut.

Fanshuri manggut-manggut.

“Wah, saya bisa dikeplaki ya, Gus, kalau datang ke Pak Kiai Sepuh lalu pakai peci putih dan belum haji. Benar-benar nggak peka sama budaya setempat, hehe,” kata Fanshuri.

“Lha iya, makanya itu. Masa kamu dengan entengnya pakai peci putih harga 10 ribu yang dibeli dari pasar lalu menyamakan diri seolah-olah udah jual segala macam untuk bisa berangkat haji. Ya sebelum sampai sana, kamu sudah aku keplaki sendiri,” kata Gus Mut yang disambut tawa Fanshuri.


*) Diolah dari pengajian Gus Baha’.

Exit mobile version