Cerita Lima Wanita tentang Mengapa Mereka Selingkuh

Alasan-Perempuan-Selingkuh-MOJOK.CO

[MOJOK.CO] “Setelah mengumpulkan pengakuan tentang alasan para suami berselingkuh, kini Estiana Arifin menuliskan ulang kisah para istri yang selingkuh.”

Orang berkata, perempuan berselingkuh dengan hati. Makanya, mereka tidak pernah kembali lagi ke hubungan sebelumnya. Berbeda dengan pria, mereka berselingkuh dengan tubuh mereka sehingga seberapa pun ketidaksetiaan mereka terhadap komitmen, mereka masih sanggup kembali kepada hubungan yang telah ada.

Banyak orang beranggapan pria selingkuh relatif tidak berbahaya karena sepanjang istrinya menerima pria ini kembali, pria masih mampu menjalani hubungan yang telah mereka rusak itu. Berbeda dengan perempuan, sekali mereka berselingkuh, mereka kehilangan semua hal yang berkaitan dengan gairah dan keromantisan, dua hal yang mengakari suatu hubungan suami istri. Perempuan tampaknya tidak dapat kembali kepada hubungan sebelumnya karena telah berubahnya perasaan yang mereka punya.

Berikut adalah pengakuan dari lima responden perempuan tentang mengapa mereka berselingkuh. Pernyataan mereka telah dirangkum dan disunting tanpa mengubah cerita.

 

Perempuan 1, 37 tahun, pendidikan sarjana, guru playgroup, sekarang single, dua anak, ekonomi baik

Aku  janda dua kali. Pernikahan pertama dengan pria yang sangat aku cintai. Tapi, akhirnya aku selingkuh dengan pacar pertama. Itu terjadi setelah kelahiran anak pertama dan  suamiku harus bekerja di negara lain. Jauh dari suami, keuangan kami diatur mertua dan ipar-ipar sehingga aku hanya dijatah uang bulanan. Suami tidak membelaku sedikit pun kendati aku benar. Aku jadi sakit hati dan kecewa.

Sebab lain aku selingkuh adalah suamiku berlebihan soal hubungan seksual denganku. Sehari bisa delapan kali berhubungan badan, tidak peduli saat itu aku sedang sakit atau menstruasi. Bahkan tidak peduli sekalipun kami di ruang publik. Pernah dia memintaku melayaninya di kamar pas sebuah distro, saat itu aku sedang hamil 7 bulan anak pertama.

Dua alasan inilah yang membuatku tertekan pada hubungan kami. Saat dia bekerja di luar negeri dan kami berjauhan, pacar pertamaku masuk dalam kehidupanku. Aku berselingkuh karena saat itu pacar pertamaku ini menghibur ketertekananku terhadap mertua, ipar, dan suami.

Pacarku ini menyarankan agar aku meninggalkan suami. Aku lalu meninggalkan rumah dan anak pertamaku, hidup bersama selingkuhanku ini sampai kami mendapat satu anak. Suami pertamaku tetap menginginkanku kembali tapi aku tidak mau sama sekali. Aku tidak mencintainya lagi karena itulah aku berselingkuh. Walaupun perselingkuhanku juga akhirnya berakhir dengan perceraian sehingga aku janda dua kali, aku tetap tidak ingin kembali ke suami pertama.

 

Perempuan 2, 28 tahun, pendidikan sarjana, karyawan swasta, tanpa anak, 2 kali menikah, usia pernikahan sekarang 2 tahun, ekonomi baik

Alasan gue selingkuh pada pernikahan pertama adalah karena gue diselingkuhi suami terlebih dahulu. Rasanya sakit hati sekali. Untuk mengobati perasaan sakit hati itu gue lantas berselingkuh pula. Akhirnya diselingkuhi dan balas berselingkuh itu seperti lingkaran setan. Empat tahun kami bertahan dengan rumah tangga seperti itu sampai akhirnya gue memutuskan untuk meninggalkanya. Gue pikir, jika salah satu tidak ada yang mau lepas, ya bakalan seperti itu terus-menerus.

Setelah dua tahun bercerai, gue menikah lagi dengan seorang pria yang gue kenal di Facebook. Perkenalan kami singkat, hanya 3 bulan. Kami merasa cocok dan menikah, memulai hidup baru benar-benar dari nol. 1,5 tahun pernikahan kami, gue benar-benar merasa bahagia. Tapi, 6 bulan terakhir ini suami terjerat kasus perdata dan harus mejalani hukuman satu tahun penjara. Gue harus hidup terpisah dari suami gue. Kasus suami dan kondisi berpisah dari suami benar-benar membuat gue terpukul.

Saat itulah gue kenal seorang pria di Facebook, kami sering mengobrol dan merasa nyaman satu sama lain. Dia juga pria menikah, tapi tampaknya pernikahan mereka walaupun baik-baik saja, mungkin sedikit hambar. Dia merasa lebih nyaman mengobrol dan membahas banyak hal ke gue.

Kami pernah bertemu sekali dan melakukan hubungan suami istri tapi setelahnya kami merasa sama-sama tidak nyaman. Kami tidak merencanakan berhubungan intim saat pertemuan itu, tapi mungkin terbawa suasana dua orang dewasa berbeda jenis kelamin dan memiliki perasaan yang spesial, sehingga hal itu terjadi juga.

Saat ini gue tidak berkomunikasi lagi dengannya, dia juga membatasi diri. Ini hal yang sulit, tapi gue paham mungkin ini yang terbaik bagi kami. Dia pernah mengatakan bahwa sebaiknya kami mulai membuat jarak setelah suami gue keluar dari penjara sekitar empat bulan lagi.

 

Perempuan 3, 52 tahun, pendidikan sarjana, ibu rumah tangga, 2 anak, usia pernikahan sekarang 30 tahun, ekonomi sangat baik

Saya masih bergairah di ranjang, tapi suami hanya bisa sebulan sekali berhubungan seksual. Di usia saat ini saya membutuhkan seks dan perhatian. Suami sangat sibuk karena pekerjaan dan karena usia pula dia tidak dapat setiap saat memenuhi kebutuhan seksual saya. Saya mencoba mengalihkan keinginan dengan menyibukkan diri dengan banyak kegiatan dan berkumpul bersama teman-teman, tapi tetap itu sedikit sekali berpengaruh dalam mengurangi kebutuhan biologis saya. Saya tidak suka memakai alat bantu seks. Saya butuh suami dan sekaligus perhatiannya.

Saya aktif di media sosial dan itu hiburan buat saya karena anak-anak telah dewasa dan mandiri sementara di rumah saya punya banyak asisten. Media sosial sangat membantu saya menghilangkan kejenuhan sekaligus menambah luas pergaulan saya. Di sanalah saya bertemu banyak pria yang mengagumi kecantikan saya. Saya melakukannya bukan untuk hubungan jangka panjang, ini hanya sebatas saat saya tidak mendapat apa yang saya butuhkan dari suami.

 

Perempuan 4, 32 tahun, pendidikan SMA, ibu rumah tangga, 3 anak, usia pernikahan sekarang 13 tahun, ekonomi baik

Saya selingkuh dengan teman suami yang sering ke toko dan itu kami lakukan di bagian belakang toko saat suami sedang sibuk melayani pembeli. Biasanya toko kami ramai sekali di siang hingga menjelang sore hari. Suami dan seorang karyawan melayani pembeli sementara tugas saya di belakang.

Toko kami merangkap rumah tinggal, tapi saya tidak pernah membawa teman suami ini ke dalam tempat tinggal kami di lantai atas. Saya tidak ingin membuat curiga siapa pun. Ketika melakukannya di ruang belakang, suami akan menduga temannya sedang mengambil barang dari gudang karena biasa teman suami ini datang untuk mengambil barang ke gudang kami jika barang di tokonya sedang kosong.

Supaya tidak curiga, teman suami tidak melulu datang berkunjung, tapi benar-benar datang saat barang di tokonya sedang kosong dan barang yang sama masih tersedia di gudang kami. Perselingkuhan ini telah berlangsung 3 tahun. Bahkan saat saya hamil anak yang bungsu, saya berhubungan badan dengan teman suami ini.

Dibilang saya cinta dengan teman suami ini, tidak juga. Dia juga punya anak-istri dan keluarga mereka terlihat tak ada masalah. Sama halnya ke suami, saya juga tidak sedemikian cinta dengan suami karena kami dijodohkan, bukan pacaran. Buat saya perselingkuhan ini variasi agar hubungan dengan suami tidak hambar dan saya tidak bosan dengan hidup saya yang datar tanpa variasi atau rekreasi.

 

Perempuan 5, 28 tahun, pendidikan sarjana, karyawan swasta, tanpa anak, usia pernikahan sekarang 2 tahun, ekonomi sangat baik

Suamiku bukan suami yang baik. Kasar, suka main tangan, dan walau belum terbukti berselingkuh, dia telah kedapatan berkali-kali chatting dengan perempuan di Facebook dan aku pernah memergoki dia mentransfer sejumlah uang ke perempuan yang dia kenal di Facebook walau mereka belum bertemu. Dia mengiming-imingi gadis itu dan mengaku bujangan. Aku menelepon gadis itu tanpa sepengetahuan dia dan gadis itu mengaku sudah empat kali dikirimi uang dan pulsa. Dia berjanji akan segera datang ke kota gadis itu untuk bertemu orangtua si gadis.

Aku kesal sekali karena buatku itu tak masuk akal. Kami berbeda iman dengan gadis itu dan kultur gadis itu tidak mungkin menerima pria dari iman yang berbeda. Aku menanyakan ini ke gadis itu dan dia bilang suamiku mau mengikuti keyakinannya. Itulah mengapa suamiku berniat mengunjungi orangtua si gadis. Pria ini sinting atau apa aku tidak tahu. Aku sudah muak dengannya dan mumpung pernikahan ini baru dua tahun, aku akan mengurus perceraian segera.

Aku tidak tertarik lagi lahir batin dengan dia. Karena itu aku berselingkuh dengan pria lain. Ini juga untuk pembuktian bahwa aku sudah tidak memikirkan pernikahan yang kacau ini lagi. Aku tidak perlu menghargai pria yang tak ada harganya dan jika aku berselingkuh, bukan kewajiban moralnya untuk mengkhotbahiku atau menuduh aku berdosa!

Exit mobile version