Amien Rais Bilang Pengajian Harus Ada Politiknya, Ih Kok Nyuruh-Nyuruh?

MOJOK.COKata Pak Amien Rais, “Pengajian-pengajian disisipin politik itu harus, kalau nggak, lucu.” Benar juga sih, nyinggung politik itu resep lucu. Kayak kalau Pak Amien ngomong politik.

Lagi dan lagi. Tiruannya Pak Amien Rais di Bumi (yang asli udah diculik alien, satu kloter sama Ahmad Dhani) kembali bikin kontroversi yang menggemaskan. Setelah beberapa waktu lalu Pak Amien merumuskan dikotomi “Partai Setan” dan “Partai Allah”, kali ini belio mengeluarkan imbauan bahwa “Pengajian-pengajian disisipin politik itu harus, kalau nggak, lucu,” katanya.

Terang saja hal ini menimbulkan polemik di kancah dunia warganet. Belum habis bahan bakar untuk mengolok-olok soal “pemilu ala akhirat”-nya Pak Amien, ealah udah disentor bensin lagi. Baru juga mau kesentor air dengan isu yang lain, muncul lagi, muncul lagi. Kayak laron aja lama-lama nih.

Namun, sebagai warganet yang budiman, ada baiknya sebelum mencibir pernyataan tersebut, perlu kiranya kita melihat ini dengan tenang dan proposional. Bahwa apa yang disampaikan Pak Amien ini sebenarnya mewakili apa yang terjadi di sekitar kita.

Lha iya, kan? Pernyataan ini tanpa disadari justru menunjukkan bahwa pengajian-pengajian Pak Amien (atau pengajian yang didukungnya) belakangan ini memang bukan untuk syiar agama, tapi syiar politik. Bukan untuk membawa kebaikan, tapi memberikan perspektif kebenaran yang berbeda.

Ya kan nggak apa-apa. Nggak ada larangannya ini syiar politik. Kalau kemudian syiar itu disampaikan di masjid, ya kalau masjid-masjid dia sendiri, monggo aja. Apalagi kalau pengajian itu yang bikin Pak Amien Rais sendiri, untuk hajatan sunatan cucu-cucunya mungkin. Hayamonggo. Nggak ada yang ngelarang ini (mungkin yang protes cucunya, ini pengajian sunatan kok ngomongin utang Jokowi).

Toh, orang yang nggak sepaham juga nggak harus datang. Lha piye, wong pengajian aja nggak pernah ada presensi dan menuntut kehadiran 75% kok, apalagi pengajian dengan tujuan syiar politik. Seingat saya, dalam buku Bocoran Pertanyaan di Alam Kubur: Kunci Sukses Lolos dari Siksa Kubur, malaikat Munkar dan Nakir nggak bikin tambahan soal remidi kayak, “Pertanyaan tambahan. Dulu Pemilu 2019 milih partai apa, Mas?” Ya kecuali kalau Munkar sama Nakir ikut-ikutan diculik alien sih.

Kalau saya sendiri sih tidak begitu masalah dengan pengajian yang disisipi politik. Mau disisipi resep masakan juga monggo. Disisipi paket pulsa juga boleh. Lha wong kita beragama sendiri memang tidak bisa lepas dari urusan politik jeh, jadi pernyataan Pak Amien ini bisa dibilang nggak salah-salah amat. Lho? Lho? Lho?

Yap, Anda nggak salah baca, agama dan politik itu emang tidak bisa lepas begitu aja. Keduanya ini mesra. Ibarat Dilan dengan Milea, Agus dengan Kalis, atau Arsenal dengan kegagalan juara liga.

Kalau Anda juga pernah ingat, perpindahan arah kiblat dari Masjidil Aqsa di Yerusalem ke Masjidil Haram di Mekkah, selain karena perintah Tuhan dalam Surah Al-Baqarah 142-145 (googling sendiri ya ayatnya), ada unsur-unsur politis juga yang mengiringi peristiwa bersejarah tersebut.

Ketika kiblat salat pertama kali diperintahkan ke arah Yerusalem (merujuk pada ayat yang sama tadi), secara politis hal ini merupakan upaya agar agama Islam dipandang “berbeda” dengan agama-agama nenek moyang suku-suku Quraisy di Mekkah. Itu lho, agama yang yang bikin berhala-berhala di sekitaran Kakbah.

Untuk itulah dibutuhkan unsur politik yang kuat, yakni dengan “merapat” kepada agama yang jauh lebih senior. Pilihannya jatuh pada agama Yahudi dengan pusatnya di Yerusalem. Nah, dengan menggandeng agama yang jauh lebih senior daripada agama pagan di Mekah, maka Islam secara POLITIS mendaku diri punya asal-usul yang lebih tua. Lebih murni dan, tentu saja, monoteis, tidak seperti agama orang-orang Quraisy.

Ayat yang memerintahkan umat muslim kiblat lagi, dari Yerusalem ke Kakbah, jadi penanda bahwa agama Islam “berpisah” dengan agama Yahudi untuk kembali ke nenek moyang yang lebih tua lagi, yakni agama Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail (yang bikin Kakbah sekaligus bapak agama monoteis)—bukan lagi merapat ke turunan agamanya orang-orang Yahudi.

Jadi dari kacamata ini, bukankah hebat sekali Tuhan merancang hal-hal politis canggih semacam ini?

Tentu saja, pandangan semacam ini tidak menyasar ke wilayah keimanan. Sebab, keimanan terlalu murni. Hal yang saya bicarakan tadi sifatnya lebih kepada soal praktik beragama yang sifatnya komunal.

Pada hal inilah saya punya kesepakatan juga dengan Pak Amien soal politik dan agama itu boleh saja dicampurbaurkan. Sebab wilayahnya memang berada pada praktik beragama, bukan pada tataran keimanan. Wilayah-wilayah publik, bukan wilayah-wilayah privat.

Hal itu juga sempet disampaikan Profesor Mahfud MD pada sebuah gelar wicara. Ia bilang, orang kalau mau milih pemimpinnya berdasarkan agama itu ya boleh saja. Nggak boleh dong orang milih pemimpin atas dasar agama dilarang-larang. Memilih berdasarkan agama itu juga dilindungi undang-undang sebagai bagian dari kebebasan dalam demokrasi.

Nah, yang tidak boleh itu adalah memaksa orang lain agar memilih sesuai dengan alasannya yang harus seragam. Termasuk keseragaman soal agama.

Jika ada hal yang perlu dikritik dari pernyataan Pak Amien tadi, saya menemukan ada dua hal.

Pertama, kata-kata “harus ada unsur politik” itu sepertinya kok nggak pas. Kalau mau bikin pengajian dengan unsur politis ya monggo aja, tapi kalau mengharuskan, nah itu masalah yang berbeda. Itu kan hak pribadi penceramahnya tho? Masak kiai kampung saya sebelum ngubur jenazah harus ngomongin kebrobokan pemerintahannya Jokowi juga?

Kedua, kata belio, kalau nggak ada unsur politik nanti lucu. Eit, siapa bilang, kalau ngomongin politik nggak bisa lucu? Pak Amien Rais ini sepertinya nggak pernah ikut pengajiannya Ustaz Anwar Zahid—apalagi soal tema-tema rokok. Waitu jelas politis banget dong, lha wong antara anti-rokok dan pro-rokok. Nyata-nyatanya lucu-lucu aja tuh. Lagi pula banyak kok penceramah yang nggak ngomongin politik tapi tetep nggak lucu. Ustaz Khalid Basalamah, misalnya, nggak lucu-lucu amat tuh seringnya.

Atau jangan-jangan Pak Amien ngomong begitu karena kalau ceramah emang nggak bisa lucu atau emang pernyataan itu memang sedang berusaha melucu?

Exit mobile version