MOJOK.COLivi Zheng sukses menjalani “sidang skripsi” di hadapan Joko Anwar dan kawan-kawan. Sebuah situasi yang bisa ditiru buat kamu yang mau sidang skripsi.

Bagi kamu mahasiswa semester tua bangka yang sebentar lagi harus melangsungkan sidang skripsi, sepertinya kamu wajib menonton bagaimana kualitas Livi Zheng, sutradara kenamaan Indonesia yang karyanya sudah “tembus” ke Hollywood, ketika mampu meredam berbagai pertanyaan sulit dari para sutradara senior.

Dalam program Q&A di Metro TV dengan tajuk: “Belaga Hollywood”, Livi Zheng dihadapkan dengan berbagai pertanyaan soal reputasinya yang bombastis. Pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya berkutat soal keragu-raguan, apa benar karya-karya Livi Zheng itu layak disebut sebagai “film kelas Oscar” hanya karena mendaftar Oscar?

Terang saja, membayangkan saja saya takut ketika melihat sosok Livi Zheng dihadapkan langsung dengan sosok sekelas Joko Anwar, Andi Bachtiar Yusuf, sampai John deRantau. Nama-nama besar dalam industri film Indonesia. Aneh aja, padahal yang duduk di sana Livi Zheng, kok malah saya yang jadi takut ya?

Apalagi di awal-awal acara, Livi Zheng diperkenalkan dengan cara tidak simpatik oleh Andini Effendi, presenter acara. Ada nada-nada satire soal euforia berlebihan kita (dan media massa kita) akan informasi soal anak bangsa yang bisa berkarier di luar negeri—terutama Amerika. Wabilkhusus soal film dan capaian “tembus” Hollywood.

Ya gimana mau simpatik kalau pertanyaan awal untuk Livi Zheng adalah pertanyaan soal seberapa kredibel sosok Livi sebagai seorang sutradara. “Kamu itu sutradara yang terlegitimasi nggak sih?” Buset. Ini pertanyaan terkejam yang pernah dengar sebenarnya dari sosok presenter televisi. Masih di awal-awal lagi.

Kalau menganalogikan situasi ini kayak sidang skripsi, pertanyaan ini kayak model, “Kamu itu mahasiswa beneran nggak sih, bikin skripsi gini aja nggak becus!”

Kalau mahasiswa semester tua bangka yang diuji dikasih pertanyaan macam begini, besar kemungkinan paling-paling cuma ngejawab, “E… anu… a, gini, eh, ja, aaa, eee, anu, Pak. Gini,” karena saking takutnya.

Tapi bukan Livi Zheng namanya kalau tidak bisa mengendalikan diri dengan pertanyaan penuh nada keraguan seperti itu. Alih-alih merasa tersudut dan minder, Livi langsung menjelaskan banyak hal soal prestasi-prestasinya dalam industri film.

Selain itu, Livi juga menjelaskan bahwa dirinya merupakan lulusan The USC School of Cinematic Arts, salah satu kampus film terbaik dunia yang alumninya kayak George Lucas (sutradara beberapa film Star Wars) dan Robert Zemeckis (sutradara Forest Gump).

Nah, ini merupakan tips pertama buat kamu yang sedang berhadapan dengan dosen penguji. Ketika kamu ditanya soal kredibilitasmu—misalnya skripsimu pernah kamu klaim bagus banget. Lalu dosenmu tanya, “Kredibilitasmu apa kok bikin klaim seperti itu?”

Kamu tinggal sebutkan saja prestasi-prestasimu. “Anu, Pak, saya ini pernah juara satu dalam lomba penelitian mendamaikan konflik ikan cupang yang sukses dapat Piala Kecamatan di Madrid. Ini penting sekali saya pikir. Nggak semua orang bisa lho, Pak. Di sisi lain, saya juga satu almamater sama SMA-nya BJ Habibie. Jadi ya bisa dibilang saya ini sebelas dua belas-lah dengan kejeniusan beliau.”

Kunci pertama dari menjawab pertanyaan sidang skripsi sebenarnya satu: jangan minder dan tetap menjawab. Artinya, tetaplah percaya diri. Tak usah kamu pikir jawabanmu tepat atau tidak, sebab dalam sidang skripsi hal yang paling pertama adalah: jawab dulu pertanyaannya. Bukan, cari jawaban yang benar. Kenapa? Ya, kelamaan, Maliiiing.

Tips berikutnya yang bisa dipakai saat kamu dicecar oleh dosen penguji adalah menggunakan teori ala Livi Zheng kedua, yakni memunculkan definisi lain dari sebuah topik pertanyaan. Tentu saja, definisi ini harus berbeda dengan definisi dosen pengujimu.

Paling tidak kamu bisa belajar dari Livi Zheng saat ditanya Joko Anwar, bahwa definisi “tembus seleksi Oscar” sebenarnya tidak ada. Karena—menurut Joko Anwar, masuk seleksi Oscar itu cuma memenuhi syarat-syarat adminstrasi. Sama sekali bukan seleksi soal kualitas film.

Livi tentu sukses mendebat argumentasi Joko Anwar ini karena menggunakan definisi lain soal “tembus seleksi Oscar” yang diartikannya bersaing dengan film-film Oscar lainnya. Artinya film Livi juga berhak disebut ikut bersaing bersama film Avengers: Endgame di Oscar untuk kategori best picture. Ya logika ini nggak salah dong? Cuma definisinya aja kok yang beda.

Strategi ala Livi Zheng ini cukup penting kamu kuasai. Terutama ketika kamu dicecar soal penggunaan teori yang kamu gunakan ternyata nggak nyambung. Misalnya, “Mas, kenapa kamu pakai teori fisika segala ini? Skripsimu ini kan soal sastra?”

Nggak usah panik, nggak usah nangis. Cukup munculkan definisi lain saja yang berbeda dari definisi teori fisika dosen pengujimu itu.

“Lho, Pak. Fisika itu awal mula semuanya ini. Teori penciptaan jagat raya kan dari cabang ilmu fisika. Jadi kalau nggak pakai fisika, kita nggak bisa melacak kita dari mana? Dan kalau kita nggak bisa ngelacak kita dari mana, ya mana mungkin saya bisa bicara sastra to?”

Modiyar lah itu pasti dosennya.

Nah, tips terakhir yang bisa kamu gunakan dari strategi ala Livi Zheng adalah ini:

“Mas, skripsimu jelek, kamu saya nyatakan tidak lulus,” kata dosen penguji.

“Maaf, Pak, Bapak dapat salam Pak Luhut.”

“Oke, maaf. Saya yang revisi kalau gitu. Lulus dengan hasil memuaskan. Silakan wisuda.”


BACA JUGA Livi Zheng Adalah Tommy Wiseau dan Carson Clay-nya Indonesia



Tirto.ID
Loading...

No more articles