MOJOK.COHampir semua pria punya pengalaman unik soal sunat. Pengalaman sakral yang terjadi cuma sekali seumur hitup. Contoh? Disunat oleh kakak sendiri misalnya.

Oke, oke, saya tahu apa yang Anda pikirkan. Ini keluarga macam apa yang membiarkan seorang kakak menganiaya adik sendiri yang baru kelas 2 SD sampai main sunat-sunatan titit segala hah?

Apalagi perkara sunat adalah sebuah pengalaman—yang biasanya—terjadi sekali dalam siklus kehidupan seorang anak laki-laki. Dalam beberapa tradisi, sunat merupakan lelaku kehidupan yang sakral, nggak bisa sembarang. Bahkan sampai ada keluarga yang perlu mencocokkan weton segala.

Lantas, ini apa-apaan ada seorang bocah disunat sama abangnya sendiri?

Nah, sebelum Anda ngegas, saya kasih tahu dulu duduk perkaranya. Kakak saya yang menyunat saya memang seorang dokter—meski waktu melakukan itu kakak saya baru aja lulus dari sekolah kedokterannya.

Jadi sebelum terjun ke dunia medis betulan, bisa dibilang saya adalah kelinci percobaan pertama kakak saya. Ibarat misi panjang perjalanan manusia bisa menembus ke luar angkasa, nah saya ini monyetnya.

Teman-teman saya sering tanya, “Emang apa istimewanya disunat kakak sendiri?”

Yap, memang betul, disunat sama kakak sendiri itu nggak ada istimewa-istimewanya, kecuali…

…tindakan sunat dilakukan bukan di kasur tapi di meja makan.

(((meja makan)))

Iya, karena ranjang rumah sakit yang bisa diatur ketinggiannya itu tidak ada di rumah saya.

FYI aja, seorang dokter kalau mau melakukan operasi butuh kasur yang tingginya sepinggang. Jadi nggak perlu bungkuk kalau melakukan tindakan. Karena cuma meja makan yang tingginya sesuai, akhirnya ya tempat menyajikan makanan prasmanan itu lah yang dipakai buat membedah saya.

Baca juga:  Mbah Yanto, Juru Sunat Spesialis Anak Pengamen dan Gelandangan di Yogya

Selain itu, sunat oleh kakak sendiri juga nggak ada istimewanya kecuali…

…dilakukan dari jam 7 malam sampai 11 malam.

Yap. Jika sunat biasanya dikerjakan kurang dari 30 menit, maka sunat saya—karena dilakukan kakak sendiri—dilangsungkan selama 4 jam dan ditonton oleh seluruh anggota keluarga. Bahkan di sela-sela sunat itu, kakak saya masih sempet nonton Layar Emas RCTI dulu.

Hadeh.

Kadang-kadang ketika udah gede gini, saya berpikir, apa iya bapak ibu saya dulu sekere itu sampai tidak bisa membawa saya ke bong supit? Malah menyerahkan pertaruhan kehormatan saya ke kakak saya sendiri? Sosok yang saat itu belum punya pengalaman tempur menangani operasi kecil sekalipun.

Saya cuma khawatir saja kalau kakak saya salah potong atau salah bikin variasi. Iya kalau sukses? Lah kalau nggak kan bukannya makin terhormat malah jadi bercabang gimana dong?

Untungnya kakak saya nggak sendirian. Dia ditemani oleh dua temannya yang menjadi asisten. Mungkin ini tindakan preventif sih. Jadi nanti kalau nanti ada masalah, mereka bisa berbagi rasa bersalah.

Peralatannya pun sangat lengkap. Bahkan ketika saya lihat persiapan kakak saya dan teman-temannya, saya merasa bukan sebagai pasien sunat, tapi kayak pasien korban Perang Dunia Kedua.

Sumpah. Ribet amat persiapannya. Dari mulai mempersiapkan listrik rumah kayak lampu emergency kalau-kalau mendadak ada giliran mati listrik (nggak lucu juga kan lagi operasi tiba-tiba mati lampu), menyulap ruang makan jadi ruang operasi, sampai mengecek satu demi satu alat-alat operasi yang ketika saya lihat waktu itu malah kayak alat-alat tukang jahit.

Bisa jadi, persiapan yang super-lebay ini karena sunat saya adalah pengalaman pertama kakak saya juga melakukan operasi kecil kayak gini. Jadi wajar lah kalau proses persiapannya kayak nangani orang kena TNT.

Baca juga:  Kenapa Harus Sunat di Bogem?

Agar tak terlalu grogi amat, ketika saya sudah mulai berbaring di meja makan, saya diminta untuk membawa setumpuk komik. Katanya untuk mengalihkan perhatian, biar nggak fokus sama aktivitas disunat.

Di tengah-tengah saya baca komik, ternyata…

Cusss

Jarum suntik menusuk area titit saya. Suakitnya nggak ketulungan. Saya teriak. Nangis tentu saja.

Ternyata permintaan agar saya baca komik itu adalah karena saya mau disuntik. Nggak cuma sekali, tapi sampai 3 kali suntik! Oalah, semprul. Kalau bukan karena itu lagi ditonton sama bapak saya, pengin rasanya balik membalas suntik kakak saya.

Tambah sakit lagi ketika, kakak saya bilang….

Piye? Rasane mung koyok dicokot semut tho?

(Gimana? Rasanya cuma kayak digigit semut kan?)

Dicokot semut ndiiioogmu.

Saya nangis. Bukan, bukan karena titit saya bisa dilihat oleh semua anggota keluarga atau sakit karena disuntik, saya menangis lebih karena merasa jadi korban penipuan dari kakak sendiri. Ya Allah Gusti, jebul gini ya konflik keluarga itu.

Tak berapa lama setelah disuntik dengan drama yang mengurai air mata itu, kakak saya coba menyentil-nyentil untuk memastikan saya tak lagi merasa kesakitan. Lalu dimulailah proses sunat.

Dulu saya pikir, sunat itu memang lama. Karena ketika saya ketiduran dalam proses itu, dan ketika bangun saya masih belum beranjak dari posisi semula.

Kok suwe banget, Mas?”

(Kok lama sekali sih, Mas?).

Iyo, rodok alot iki.

(Iya, agak alot ini).

Lalu saya ketiduran lagi.

Saya ingat betul anggota keluarga saya yang lain sampai malas menunggui saya. Semua menyingkir satu-satu. Ngantuk juga mungkin. Apalagi jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan belum ada tanda-tanda titit saya selesai divariasi.

Baca juga:  Cara Menjadi Orang Islam Sejati

“Uwis durung e, Mas?”

(Udah belum, Mas?).

Sedilit ngkas. Meh rampung iki.”

(Sebentar lagi, mau selesai ini).

Ternyata kakak saya sudah berbakat jadi politisi. Lah gimana? Ketika bilang sebentar lagi selesai itu, sunat itu baru kelar pukul 11 malam. Artinya, setelah satu jam kemudian kakak saya baru menyelesaikan jahitan terakhirnya.

Wah, rampung tenan iki.”

(Wah, selesai betulan kalau ini).

Dan saya sudah malas menanggapinya karena sudah mulai kesemutan karena ngangkang selama 4 jam.

Ketika cerita ke teman-teman masa kecil saya soal durasi waktu yang suangat lama itu, teman-teman saya kaget. Kata mereka, sunat di bong supit itu paling lama 15 menit prosesnya. Di saat itulah saya merasa jadi korban penipuan kakak sendiri untuk kedua kalinya.

Lalu saya digoblok-goblokin sama teman-teman saya karena mau-maunya dijadikan kelinci percobaan. Apalagi setelah mereka tahu prosesnya selama itu. Dan salah satu celetukan teman saya yang membekas dalam ingatan adalah ini…

“Lah? Kok lama bener sunatmu? Itu sunat apa bikin tape je?” tanyanya tanpa ada perasaan bersalah sama sekali.

Lalu di saat itulah saya merasa, punya kakak seorang dokter itu terkadang nggak bisa dibangga-banggain amat. Saat teman saya bilang gitu, saya cuma berdoa dalam hati… Duh, Gusti, semoga nanti hasilnya nggak kayak tape ya? Plis.

BACA JUGA Cerita Pengalaman Sunat ala Akademi Militer atau tulisan rubrik POJOKAN lainnya.