MOJOK.CO – Fanshuri dan Gus Mut terkejut mendengar Mas Is sebegitu bencinya dengan najis anjing. Bahkan sampai kepikiran mau bunuh anjing segala. 

Pembahasan baru sampai pada najis mugholadoh, atau najis berat, yang contoh paling sahihnya adalah air liur anjing, tapi Mas Is sudah mulai mengajukan pernyataan keras.

“Bener-bener deh, kalau sampai saya nemu anjing di jalan, sudah pasti saya tabrak, Gus,” kata Mas Is tiba-tiba.

Fanshuri agak terkejut dengan kalimat Mas Is, berikut juga dengan Gus Mut.

“Lah kok jadi gitu cara mikirnya?” tanya Fanshuri kaget. Sore itu keduanya sedang ngaji kitab At-Tadzhib, kitab soal fikih mazhab Syafi’i di teras rumah Gus Mut.

“Bukan gimana-gimana, Gus. Lah ketimbang anjing itu bawa najis mugholadhoh ke mana-mana, kan lebih baik saya hentikan persebaran najisnya dengan membunuhnya,” kata Mas Is.

“Ya nggak gitu dong mikirnya, Mas. Kok jadi jahat begitu sampean?” tanya Fanshuri.

Gus Mut cuma tersenyum melihat Fanshuri mendebat Mas Is.

“Ya kan kita harus menjaga kesucian saudara sesama muslim lainnya. Kasihan kan kalau anjing itu jalan ke mana, ke rumah orang muslim misalnya, kan jadi repot orang muslimnya kalau mau bersihin. Mana harus dibasuh tujuh kali, salah satunya pakai debu lagi,” kata Mas Is.

“Ya kan cuma najis. Tinggal disucikan kan beres. Nggak perlu jadi benci dong, Mas Is,” kata Fanshuri.

“Betul begitu kan, Gus?” tanya Fanshuri ke Gus Mut yang cuma senyam-senyum melihat keduanya berdebat.

“Iya itu, Fanshuri benar, Mas Is,” kata Gus Mut.

Mas Is cuma terdiam sejenak.

“Maksud saya ya nggak beneran kayak gitu. Nabrak anjing tadi itu perumpamaan aja, Gus. Ya kali saya nabrak makhluk hidup beneran,” kata Mas Is coba membela diri.

Baca juga:  Karena Debat Bukan Soal Cari yang Benar, Tapi Cari Siapa yang menang

“Iya, tapi pola pikir yang berbahaya itu. Hati-hati, Mas Is,” kata Gus Mut memperingatkan sambil tersenyum.

“Kok berbahaya?” tanya Mas Is.

“Ya berbahaya, itu artinya sampean punya kecenderungan untuk membeci hal-hal yang najis,” kata Gus Mut.

“Ya kan itu supaya saya punya pola pikir tidak menyukai najis. Itu kan bagus, sama halnya saya nggak suka dengan orang-orang kafir. Bukan berarti saya mau bunuhin mereka dong, Gus,” kata Mas Is.

Gus Mut tersenyum.

“Tapi tetap saja. Awal mula lahirnya ekstremisme dalam agama itu berasal dari ketidaktahuan yang berujung ketidaksukaan. Berawal dari tidak tahu, terus jadi tidak suka, lanjut jadi tidak mau mengenal, nggak mau mempelajari. Akhirnya jadi tertutup. Dari tertutup lalu jadi kaku, kolot, dan konservatif. Dari sana lalu muncul benih-benih kepengin menghilangkan yang tidak disukai. Berawal dari yang dekat, lalu kalau punya kekuatan lebih diperluas areanya. Lama-lama jadi teroris, jadi tukang bom deh,” kata Gus Mut.

Mas Is cuma terdiam, kaget kalau bisa separah itu pola pikirnya.

“Ta, tapi, nggak apa-apa dong kalau saya benci najis besar, yang dalam hal ini contohnya cuma pakai anjing. Ya normal dong?” tanya Mas Is.

“Bedakan antara nggak suka najis dengan orang yang suka dengan kesucian. Orang yang suka jaga kesucian itu nggak perlu benci dengan makhluk yang bikin najisnya. Anjing najis itu sudah sunnatullah. Sudah dari sononya. Kalau sampean benci anjing, berarti sampean sama saja nggak suka dengan ciptaan Allah. Dan itu kan bahaya banget,” kata Gus Mut.

Baca juga:  Sopir Angkot yang Kejar Salat Sunah tapi Wajibnya Malah Ketinggalan

Fanshuri manggut-manggut, sedangkan Mas Is masih bergeming. Berpikir.

“Lah kan kita menyucikan najis dari anjing itu artinya sama aja dengan menyingkirkan anjing to, Gus?”

Gus Mut tersenyum.

“Kalau orang berbuat maksiat, kamu membenci perbuatannya atau orangnya?” tanya Gus Mut.

“Ya emang bisa dipisahin? Nggak bisa dong, Gus. Perbuatan kan terikat sama orangnya,” jawab Mas Is.

“Nah di situlah masalahnya, Mas Is. Kamu itu nggak cukup benci perbuatan maksiat, tapi sampai benci manusianya juga,” kata Gus Mut.

“Lah lumrah, dong?” tanya Mas Is.

Gus Mut tersenyum.

“Kalau begitu caranya, nggak bakal ada orang yang masuk Islam, Mas Is. Dulu ketika Islam pertama datang ke Mekah, kalau Nabi mikirnya kayak kamu sudah pasti nggak ada orang yang bisa masuk Islam karena perbuatan maksiatnya nggak dipisahin dari orangnya. Sampean kan tahu seberingas apa Umar bin Khattab dulunya sebelum masuk Islam. Bahkan beliau saja pernah mau bunuh Nabi kok. Tapi nyatanya apa? Nabi cuma benci perbuatan tapi tidak dengan manusianya. Akhirnya orang jadi punya kesempatan untuk ketemu hidayah. Bukan yang ditutup sak klek begitu,” kata Gus Mut.

Mas Is kali ini mulai manggut-manggut.

“Ta, tapi, Gus. Anjing najis itu kan nggak bisa dipisahin dari tubuhnya. Itu sudah jadi satu kesatuan,” kata Mas Is.

“Benar, itu benar,” kata Gus Mut.

“Berarti dalam konteks najis anjing, kita nggak bisa dong cuma jaga kesucian, tapi ya harus menyingkirkan peluang kesucian itu hilang, yang dalam hal ini anjingnya dong,” kata Mas Is.

“Lah memang kenapa kalau kita kena najisnya anjing?” tanya Gus Mut.

Mas Is masih diam, belum mau langsung menjawab.

Baca juga:  Agama Jangan Dicampuri Politik, Padahal Beragama itu Sikap Politis

“Memangnya kita sebagai manusia itu diwajibkan untuk suci terus-menerus?” tanya Gus Mut lagi.

“Lah? Bukannya begitu?” tanya Mas Is.

Gus Mut kali ini terkekeh.

“Mas Is, Mas Is, kalau setiap muslim diwajibkan menjaga diri agar suci terus, sudah berapa dosa yang kamu perbuat Mas Is?” tanya Gus Mut.

“Hah? Maksudnya? Gimana sih maksudnya, Gus?” tanya Mas Is.

“Kewajiban menjaga kesucian itu hanya masuk pada saat sampean mau ibadah. Mau salat, misalnya. Ya itu jadi syarat sah. Bukan kok ketika kamu terkena najis kamu jadi berdosa. Ya nggak ada hubungannya itu. Kalau kamu merasa bersentuhan dengan najis bikin kamu merasa berdosa, ya kamu nggak perlu najisnya anjing untu merasa begitu,” kata Gus Mut.

“Eh, gimana, Gus?” tanya Mas Is lagi.

“Ya kamu cukup benci isi perutmu sendiri dong, Mas Is. Itu kan isinya najis semua. Ada air kencing, ada tai, dan ada darah. Macam-macam barang najis. Benci lah dulu sama isi perutmu sendiri,” kata Gus Mut menunjuk perutnya Mas Is.

Kali ini Mas Is tersenyum.

“Cahaya agama memang bisa menuntun orang kalau takarannya tepat, Mas Is. Hanya saja cahaya yang ditimpakan mendadak pada orang yang sedang dalam kegelapan malah bisa membuatnya buta,” kata Gus Mut lagi.

Mas Is kali ini cengengesan.

“Dan setelah buta, jadinya mulai gampang benci deh,” sela Fanshuri.

Gus Mut menunjuk Fanshuri sambil bilang, “Nah! Itu.”


*) Diolah dari penjelasan Habib Husein Ja’far dan pernyataan Dr. Abdul Gaffar Karim.

BACA JUGA Orang Islam Kok Pelihara Anjing? dan kisah-kisah Gus Mut lainnya.