Cinta Halmahera—Jawa Bonus Babi

halmahera-jawa-mojok

halmahera-jawa-mojok

Adlun nama panggilannya. Ia seorang lelaki dari tanah Halmahera yang sedang stres karena diterjang rindu berkepanjangan. Sudah hampir setahun ia menjalani hubungan jarak jauh dengan Mince, sang pujaan hati yang tengah melanjutkan sekolah di Pulau Jawa.

Kian hari perasaan rindu itu semakin menggebu-gebu. Adlun yang tak tahan dengan hubungan jarak jauh pun berpikir untuk melakukan hal ternekat dalam hidupnya. Ia ingin datang secara tiba-tiba ke Pulau Jawa untuk melamar Mince.

Segala persiapan pun segera dilakukan. Mulai dari perbekalan, tiket perjalanan, hingga rangkaian kata-kata cinta yang nantinya akan ia berikan kepada Mince. Sampai akhirnya hari dimulainya perjalanan panjang menuju sang pujaan hati pun tiba.

Di tengah perjalanan menuju bandara, Adlun teringat satu hal, Mince sang kekasih hati pernah bilang bahwa dirinya sangat menyukai boneka babi. Adlun sempat terpikir akan membeli boneka itu sebagai cendera mata sesaat setelah dirinya tiba di Pulau Jawa. Tapi, kemudian ia berpikir kembali, jika hanya membawa boneka, sudah terlalu biasa. Adlun pun berpikir bagaimana jika ia membawa seekor anak babi hidup sebagai penggantinya.

Adlun memiliki beberapa ekor babi yang dititipkan di rumah Tete Sabri. Ia pun segera pergi ke rumah Tete Sabri untuk mengambil satu ekor. Sesampainya di rumah, ia melihat Tete Sabri sedang duduk di beranda rumah.

Karena umurnya sudah uzur, pendengaran Tete Sabri menjadi agak korslet. Adlun pun setengah berteriak menanyakan babi yang dititipkannya.

“Permisi Tete. Tete ada liat sa pu babi kah?”

“Apa?”

Mendengar jawaban Tete Sabri, Adlun pun mengulangi pertanyaannya dengan nada yang lebih tinggi, “Tete ada liat sa pu babi kah?”

“Apaaa???”

“Teteee adaaa lihaaattt saaa puuu babiii kaaah???” ulang Adlun dengan volume suara maksimal.

Tete Sabri mengangguk, ia pun menjawab santai, “Ooo … coba ko liat depan situ. Kalo ada dia pu sandal, berarti dia ada nonton sinetron dalam.”

***

Babi yang dicari Adlun akhirnya tertangkap. Ia mengikat mulut dan kaki si babi lalu memasukkannya ke dalam sebuah karung. Perjalanan menuju bandara dilanjutkan.

Sesampainya di bandara, karung yang dibawa Adlun harus melewati pemeriksaan. Petugas bandara pun melakukan tugasnya sambil bertanya kepada Adlun, “Woe, Adik, ko ada bawa apa tu dalam karong?”

“Ooh … itu nangka, Bapak.”

Petugas bandara kembali melakukan pemeriksaan. Dilihat-lihatnya karung bawaan Adlun lalu dimasukkan ke dalam scanner. Melihat karung yang dibawa Adlun bergerak-gerak, petugas pun mulai menaruh curiga.

“Ah, Adik, ko ada bawa apa itu dia? Ko pu karong ada bagarak-bagarak tu.”

“Itu cuma nangka, Bapak. Sa pu tete ada kase untuk oleh-oleh tong pu sodara di Jawa sana.”

Petugas bandara tak percaya dengan keterangan Adlun. Karung itu pun akhirnya terpaksa harus dibuka.

“Adodoooh, Adik, ko tipu-tipu kami sudah eee. Ko bilang dari tadi nangka, tapi ini ternyata babi!”

“Hehe … iyo, Bapak. Itu memang babi, tapi dia pu nama itu Nangka.”

***

Singkat cerita, Adlun akhirnya kembali melanjutkan penerbangannya, tanpa si babi. Setelah sampai di Pulau Jawa, ia segera bergerak menuju tempat Mince berada.

Setelah setahun berpisah, rindu yang dibawa Adlun pun lunas seketika. Mince sang kekasih hati kini telah berada di depan dirinya. Tak mau menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, Adlun pun segera menuturkan maksud dan tujuan sebenarnya terkait kedatangannya yang tiba-tiba itu. Ia mulai mengingat-ingat kembali kata-kata cinta yang pernah ditulisnya untuk Mince.

“Minceku, sayang. Tanpa kau, segalanya gelap gelita dan suram, langit seperti kehilangan cahayanya. Angin timur pun bergerak membawa serta hujan badai. Ombak di laut bergemuruh, kaka terombang-ambing di tengah kerinduan yang mendalam. Tapi, setelah semua berlalu, kau hadir, kau seperti pelangi dan mentari untuk kaka …”

Belum selesai kata-kata cinta milik Adlun terurai semua, Mince tiba-tiba memotong, “Aeeeh, Kaka, stop sudah. Kaka sebenarnya mau gombal atau kase saya laporan cuaca???”

***

Adlun mencari cara lain. Ia berpikir untuk bicara langsung tanpa basa-basi lagi, “Adik, ko tahu kaka su lama jatuh cinta sama Adik. Adik maukah jadi kaka pu istri?”

“Aeeehhh, Kaka. Adik tra bisa. Adik mase sekolah.”

“Adoooh … kaka kira Adik sudah libur.”

Exit mobile version