Sopir Tua dengan Tato Gitar Tua di Dada yang Sudah Dihapus dengan Setrika

Baca cerita sebelumnya di sini.

“Aku pernah mencoba membunuh Oma Irama,” kata sopir tua itu. Di depannya, seorang pemuda berkupluk Bob Marley, terlihat tak menggubrisnya. Mereka sedang minum tuak bersama, dari botol Aqua yang dipotong jadi dua. “Tentu saja gagal,” sambungnya, dengan senyum.

“Dan aku…” ia berhenti lagi, tertawa lagi, “seorang bajingan di jalan raya, demi menghindari bidikan senapan yang berwenang, mesti mengganti kelewang dengan pikulan, jadi tukang angkut ikan di pelelangan. Sampai sekarang!”

Ia terbahak, lalu terbatuk-batuk. Masih dalam keadaan terbatuk-batuk ketika mulutnya mengokop kembali cairan keruh di botol plastik yang terpangkas itu.

“Ikan pindang bawaanmu benar-benar asin, Pak.” Si Bob Marley berkata, nyaris tak peduli.

“Ini!” Si sopir tua menarik kerah kausnya yang longgar ke bawah, membuka dada bagian atasnya, menunjukkan bekas luka bakar aneh tepat di atas puting kirinya yang melegam. “Tato tolol ini yang jadi gara-gara. Aku dulu harus menghapusnya dengan setrika membara.”

“Asinnya sampai pahit. Keras pula—entah berapa banyak formalin yang kalian campurkan! Tapi lumayanlah untuk tambul, daripada kacang rebus basi tadi.” Bob Marley yang acuh tak acuh menyorong ikan pindang di mulutnya dengan tegukan tuak berikutnya.

“Ngerti kenapa aku gagal?”

“Nggak.”

“Begini.” Si sopir tua bersiap dengan cerita besarnya.

“Aku nggak suka Oma Irama.” Si Bob Marley mencaplok ikan pindang yang kesekian.

“Awalnya….”

Jancuk! Asin tenan!”

***

Ia membelok ke pekarangan warung sepi itu ketika lagu Jaran Goyang dari panggung dangdut di kejauhan terdengar samar-samar.

Mobil pick-up yang dikendarainya tampak reyot dan rombengan. Tak akan ada yang bisa mengenali mobil itu keluaran apa, saking bobroknya. Bokongnya boyak berkoreng karat. Karena dempul bengkel murahan yang berlepotan dan bertumpuk-tumpuk di sekujur bodinya, ia sekilas terlihat berwarna merah muda, tapi beberapa saat kemudian tampak kebiruan—entah kenapa demikian. Plat K-nya miring dan krowak di bagian angka tahunnya, tercantel sekenanya di bemper yang rompal. Ketika mobil itu berhenti dan mesinnya dimatikan, alam sekitar seperti merasakan kelegaan.

Si sopir, seorang kakek yang sekilas tampak lebih pantas mendekam di kursi roda di sebuah Pantai Wreda di Jogja dengan sapu tangan terselip di saku kemeja, dan bukannya di jalanan Jawa Timur yang ganas itu, melompat dari belakang kemudi. Ia membanting pintu mobilnya yang setengah menggantung seperti seorang istri yang marah karena suami pulang tak bawa uang. Dan benturan yang ditimbulkannya membuat seluruh badan mobil berderak-derak. Dan itu pun tak menutup sempurna, sehingga ia mesti mengulanginya. Kali ini lebih keras. Ada suara besi jatuh di kolong mobil, tapi ia tampak tak peduli.

Ia celingak-celinguk. Tak ada seseorang pun yang terganggu oleh keributan yang ditimbulkannya. Dari jendela warung yang memanjang, ia tak menemukan seseorang pun di meja pengunjung.

Ia melangkah ke arah pintu warung yang lengang. Baru beberapa langkah,ia berhenti, kemudian balik kanan, berlari ke arah mobilnya kembali. “Oo… bakul kepik!” makinya, sembari menempelaki kepalanya sendiri, seperti guru ngaji memarahi murid bodohnya. Ia buka kembali pintu mobilnya, dan segera pula menutupnya. Tak mau mesti mengulangi, ia membantingnya sekeras yang ia bisa. Dan itu artinya keras sekali.

Ia balik lagi. Kali ini di tangannya terjinjing minuman dalam wadah plastik berikat karet, dengan sedotan hijau terjepit tepat di antara mulut plastik yang tercekik. Sebuah gumpalan berbuntal koran terkempit di ketiaknya. Kali ini ia tak menuju pintu warung, tapi membelok ke samping, ke arah gubuk kecil di samping warung, yang menaungi sebuah meja biliar dan dua dipan bambu di sisi kiri dan kanannya. Ia melihat sebuah kepala nongol di sudut matanya. Seseorang dengan kupluk warna hijau kuning bergambar daun ganja di belakang dan Bob Marley di depan sedang sendirian, diam, memelototi bola sulit yang mesti dipukulnya. Tongkat penyodok yang dipegangnya seperti sudah tegak di tepi meja selama bertahun-tahun.

“Kacang, kacang,” kata si sopir tua, begitu menaruh bungkusan di kempitan ketiaknya ke dipan bambu di samping meja biliar. Si pemain biliar hanya menoleh kecil, lalu kembali ke bola yang harus ditonjoknya.

“Kacang rebus, Mas,” ulang si sopir tua.

Si pemain biliar mau tak mau menoleh lebih tegas. Mukanya memburam, tanda terganggu.

“Hati-hati nyenggol kopiku, Pak. Aku habis kalah banyak, nggak bisa lagi beli….” Dan sopir tua benar-benar menyenggolnya. Kopi tumpah.

Mbokne ancuuuuk….!” si kupluk Bob Marley memaki tertahan. Tangannya yang memegang tongkat terlihat terangkat, hendak memukul entah siapa, tapi kemudian diturunkannya. Dengan muka sebal, tongkat itu disenderkan.

“Wah, sori Mas, nggak sengaja.” Si sopir tua meringis, menunjukkan wajah bocah lima tahun yang ketahuan menumpahkan pupur emaknya. “Nanti pesan lagi. Saya yang bayar.”

“Nggak usah, Pak,” si Bob Marley bersungut, dan ngeloyor pergi.

“Tuak, mau?” si sopir tua mengangkat cairan di plastik berkaretnya. “Tidak banyak, tapi pasti lebih enak kalau diminum berdua.”

Bob Marley menghentikan langkahnya, menoleh, memicingkan mata, mencoba memastikan apa yang diulurkan si sopir tua, kemudian ia berjalan gontai, balik ke meja biliarnya.

“Minumnya apa?” terdengar teriakan dari dalam warung. Pemiliknya ada rupanya.

“Nanti!” sahut sopir tua, yang sudah dapat kepastian mendapatkan teman minum. “Ada botol Aqua kosong?!”

Tak ada jawaban. Namun, sebentar kemudian, sebuah benda bening dan ringan dilempar dari dalam warung.

Si sopir tua memungut botol kosongnya dengan gembira, memastikan kerapatan tutupnya, mengeluarkan pisau lipat kecil dari sakunya, dan memotong botol menjadi dua. Dan segera menuanginya. Aroma yang akrab dijumpai di bis-bis Tuban-Jombang itu mengambang di udara.

Sampeyan mau pakai gelas wiski atau gelas anggur?” tanya sopir tua kepada Bob Marley, yang kini duduk bersila di hadapannya. Bob Marley memilih potongan botol yang isinya lebih banyak.

“Tidak ikut nonton?” tanya sopir tua, membuat cecapan pertamanya. Mukanya dimencongkan ke arah suara yang berdentam-dentam di kejauhan.

Bob Marley menggeleng. Bibirnya mencebik. Telunjuknya mengetuki wajah orang berambut gimbal pada kupluk di kepalanya. Dan ia segera membenamkan mukanya di potongan botol yang jadi bagiannya. “Dan sampeyan?”

“Heh?”

Sampeyan kenapa juga nggak ikut nonton dangdut?”

“Dangdut?” Ia mencakup kacang godok yang tergelar di depannya. “Musik macam itu disebut dangdut?” Mukanya menegang, matanya meradang, nada suaranya menggugat. Mulutnya menyemburkan biji kacang berkecambah yang telanjur ditelannya.

***

 Kacang rebus itu rupanya sudah tengik. Pantas kulitnya menghitam. Pasti sudah berkali-kali dipanasi. “Brengsek betul penjualnya,” keluh si sopir tua. Ia melompat dari dipan, berlari ke mobil pick-upnya, memanjat bak belakangnya, dan kembali dengan dua kuali berisi ikan pindang.

“Ini sisa barang yang aku antar. Pedagang tak mau terima karena sedikit berek, mati terlalu awal,” katanya, meletakkan dua kuali itu di antara dua gelas buatannya. Bau harum dan amis pindang menyeruduk hidung secara bersamaan. “Ini masih Sidoarjo, kan?”

“Hm-mm…”  Bob Marley menggumam. Rupanya mulutnya segera saja dijejalinya dengan daging ikan pindang. “Matane, asin!”

“Terus kenapa si penjual kacang tadi bilang kalau sini ini masuk wilayah Kabupaten Macomblang?”

“Habis ngepil paling,” sahut Bob Marley, sekenanya. Mulutnya berkecupak. “Brbrbrrr… Asin!” Sepotong jerami kering yang jadi alas ikan pindang di dasar kuali berpindah ke dagunya.

“Moneta itu Sidoarjo, toh?”

Bob Marley mana tahu soal itu.

“Imron Sadewo itu meniru-ru Oma Irama. Habis-habisan—ya, mana bisa tidak? Tengok saja nama grup orkesnya. Lalu coba dengar lagu Tumbal. Tahu lagunya?”

Tak ada reaksi dari Bob Marley.

“Lagu itu tampaknya merupakan usahanya untuk keluar dari musik Soneta, meski akhirnya malah terdengar seperti lagu-lagu Muchtar B., sementara teriakan huh-hah-huh-hah di latar justru membuatnya seperti penyanyi Fazal Dath, ya ‘kan?”

Bob Marley menyemburkan bagian buntut ikan yang terlalu kasar kalau ditelan.

“Tapi coba simak liriknya. Itu Soneta semua. Kalimat pembuka ‘di jaman ini’ nyaris terdengar seperti ‘di jaman pembaharuan’-nya Oma. Lalu cara nyanyi Imron. Pas bagian ‘sikut-sikutan’ dan ‘sikat-sikatan’, ada suara ‘heh’ yang tertahan. Semua orang, mau memuja atau membencinya, tahu itu punya Oma. Lalu Reff… itu semuanya dari Oma.” Ia kemudian menggumamkan selarik nada. Tangannya berayun seperti pemimpin kor upacara. “Tapi setidaknya—ini menurutku— itu jelas dangdut! Kalau bikin dangdut, ya setidaknya begitu itu.” Ia melipat bibir bawahnya, mengangguk-angguk, menegas-negaskan anggukannya, kemudian meneguk tuaknya. “Bukan yang macam ini!” dagunya menunjuk ke kejauhan, tangannya mencampakkan duri ikan.

“Ikan ini ditangkap di mana sih, Pak? Asin betul!”

Untuk beberapa saat, keduanya terdiam. Sopir tua tak yakin betul apakah perkataan Bob Marley itu pertanyaan atau bukan, sementara Bob Marley sama sekali tak terlihat memerlukan jawaban. Lalu tiga sendawa memecah kebekuan.

“Omong-omong soal Oma…” sopir tua mendapatkan kalimat barunya, “aku pernah mencoba membunuhnya.”

“Nggak minum?” tanya suara dari dalam warung.

Tak ada yang menyahut.

***

“Begini…” Sopir tua bersikeras bercerita. Bob Marley tak mengacuhkannya.

“Tahun 1984, di bulan-bulan segini, pada suatu pagi, aku terbangun dengan mata tertutup kain hitam yang diikatkan dengan sangat kencang. Kepalaku berdenyut dan rahangku linu. Sesuatu yang berat—dan keras—menindih pelipisku. Sebuah sepatu. Kakiku keju, kanan dan kiri menyatu. Kedua tangan ada di belakang punggung, kesemutan, tak bisa digerakkan. Lalu aku dengar suara, ‘Kamu pilih kukarungi dan kukirim ke rumah emakmu atau membantu negara mengamankan Oma Irama!?’ Tentu saja aku memilih yang kedua.”

Memulai dengan hati-hati dan mendayu, ia kemudian melanjutkan dengan cepat dan penuh semangat. Melompat dengan cekatan dari satu tempat ke tempat lain, dari satu nama ke nama lain, tiba-tiba saja ia sudah ada di bagian yang paling ingin diceritakan.

“Aku hanya berjarak dua depa darinya, setelah mengelabui seorang panitia dan melumpuhkan pembantu pribadinya. Ia ada di sana, sendirian, duduk membelakangi pintu, tempat di mana aku berdiri dengan sedikit gemetar, dengan tangan memegang gagang pisau kecil yang terselip di pinggang. Ia baru saja mengaso dari acara kampanye yang berselubung pengajian, di sebuah gedung pertemuan di sebuah desa antara Jatiranggas dan Belik, atau di sekitar situ. Menurut rencana, aku akan menikamnya dan tertangkap dan akan diadili sebagai penggemar gila—kira-kira seperti yang ada di film-filmnya. Aku mengincar tengkuknya. Tepat di situ aku akan mengunjamnya. Aku melangkah lebih dekat ketika ia mengambil gitar bolong dari meja rias dan menimangnya. Aku semakin gemetar. Ini yang tak kuinginkan. Bagaimana kalau dia memainkan Syahdu? Apa jadinya hatiku bila ia menyanyikan Nostalgia dari film Pengorbanan? Tidak, tidak. Aku sudah menyiapkan diri. Aku bahkan sudah memantapkan hati jika ia akan mendendangkan Keramat. Aku akan tegar.

“Jadi aku melangkah lebih dekat lagi. Lalu ia mulai memetik gitar. Aku berhenti. Bukan saja untuk waspada, tapi juga karena aku mendengar ada yang aneh. Nada itu tidak biasa. Lalu, jreng, jreng, lebih aneh lagi. Dan aku seperti membeku ketika ia mulai menyanyi. ‘Badanku kurus bukannya… kurang makan. Mataku merah bukannya… kurang tidur…’ Itu bukan lagunya. Itu, kamu tahu… Idaman Hati-nya Ade Putra, penyanyi pop cengeng itu.  Dan suaranya… astaga… jelek sekali. Aku gemetar bukan karena tergetar, tapi karena bersikeras menahan tawa. Dan aku masih terus mencoba menahan, sampai ia tiba di bagian ‘Idaman hati, oi, idaman hati’. Aku tak tahan. Aku terduduk dan terpingkal-pingkal. Dan ia membuatnya menoleh. Aku menemukan wajah mirip Oma Irama, tapi jelas bukan Oma Irama. Dan aku semakin keras tertawa. ‘Kau Oma palsu ya?’ tanyaku, dengan terbahak-bahak. Ia tersenyum, cengengesan: ‘Ya’.”

Sopir tua tertawa-tawa. Ia mengusap wajahnya, mencoba mengurangi rasa puas karena baru saja menceritakan kisah paling lucu yang hanya dia sendiri yang tahu.

“Tahu apa yang terjadi setelah itu?” tanyanya.

Dan seperti sebelumnya, Bob Marley tak merasa mesti menjawabnya.

“Ia membuat film Kemilau Cinta di Langit Jingga tak lama setelah itu, yang bercerita tentang munculnya Oma palsu. Sementara aku mesti lari tunggang-langgang menghindari kejaran aparat, dari satu persembunyian ke persembunyian yang lain. Bertahun-tahun.”

“Memang itu tato apa?” Bob Marley tiba-tiba bertanya.

Sopir tua sedikit terkejut, tapi ia menjawabnya dengan tawa kecil di ujungnya. “Gitar tua.”

Bob Marley ikut tersenyum. Itu senyum pertamanya sejak ia bertemu dengan sopir tua. Lalu ia tertawa, kemudian terpingkal-pingkal.

“Bagaimana cara gitar terlihat tua atau muda dalam gambar tato?” Ia terus terpingkal-pingkal.

“Aku kasih tulisan di bawahnya.” Ia menjambak ke bawah kerah kaosnya lagi. “Ini. Bayangan G-nya masih terlihat.”

Lalu hujan turun. Ada jeda hening sekian detik ketika sebuah Mio yang sudah dipereteli masuk pekarangan dan berhenti tak jauh dari mereka duduk. Salah seorang remaja tanggung dari tiga penumpangnya melompat dari jok, menjinjing tas kresek hitam tiga kiloan dengan isi yang hampir penuh.

“Mau pentol?” tawar si bocah tanggung dengan terburu. Ia mengulurkan tes kresek yang dipegangnya.

“Wah… pasti enak hujan-hujan begini, tapi terima kasih,” sahut sopir tua, dengan membuat tanda bulatan di atas perutnya. “Masih kenyang saya. Masnya?”

Bob Marley, dengan gelas potongan botol Aqua di tangan kiri dan daging pindang di tangan kanan, menggeleng juga. “Nggak, nggak…”

“Dimakan sendiri saja, Le. Maksudku, ramai-ramai, macam kami ini,” si sopir tua mengusulkan.

“Itu,” si bocah tanggung menoleh ke arah motornya, “masih ada dua kresek di kami.”

“Memang siapa yang bagi-bagi pentol bakso?” sopir tua bertanya, basa-basi.

Si bocah tanggung menunjuk ke langit. “Tadi, dari atas.”

Sopir tua mengeryitkan dahi, tanda tidak mengerti. Bob Marley menghentikan kunyahan ikan pindangnya.

“Di sini tidak?” tanya balik si bocah tanggung, yang segera disahut geleng si sopir tua.

“Di tempat orkesan, pentol bakso turun dari langit.”

“Astagfirullah….!!!” sopir tua terhenyak.

Bob Marley tertawa ngakak, sampai mesti meletakkan gelas tuaknya ke dipan.

“Kalian ngomix habis berapa puluh saset?” Bob Marley masih tertawa. “Atau habis baca Murakami berapa judul?” Dan ia terus tertawa. “Di Pasar Porong ada yang jual bajakannya ya?”

Bocah tanggung dengan tas kresek di tangannya yang gantian mengernyitkan dahi, sebelum memutuskan berbalik, kembali ke motor teman-temannya yang sudah tak sabaran.

***

Sampai bunyi knalpot bocah-bocah itu menghilang, Bob Marley masih tertawa-tawa. Tuak di gelas botol Aquanya sudah habis.

“Masnya kuliah?” sopir tua bertanya, dengan ikan pindang di mulutnya.

“Pernah,” jawab Bob Marley, bersendawa. “Di Jogja.”

“UGM?”

“UDM.”

Mulut sopir tua membentuk huruf O tanpa suara. Ia manggut-manggut. “Kenal Mustakim?”

Untuk pertama kalinya Bob Marley mengernyitkan muka.

“Dulu saya punya teman. Ia sopir di IKIP Muhammadiyah. Dari sana ia menguliahkan anaknya, ya Mustakim itu. Sekarang Mustakim sudah mengajar.”

“Di…?”

“MIN Tempel… atau, di mana ya, aku malah lupa.”

Bukannya menjawab, Bob Marley kembali tertawa. Dan tertawa lagi, “Tuakmu ini beli di mana, Pak? Kok…” kemudian dengan tiba-tiba ia terguling ke samping.

Sopir tua menggeser kecil duduknya ketika tangan Bob Marley jatuh terkulai, menimpa jari kakinya. Menunggu sebentar, ia kemudian dengan tenang membereskan dua kuali yang hampir kosong isinya, seperti pelayan rumah makan yang sudah melakukan hal serupa selama puluhan tahun. Ia tumpuk dua kuali itu menjadi satu, mengempitnya di ketiak, lalu melompat dari dipan dengan semacam rasa lega di wajahnya.

“Aku ngopinya besok saja!” teriaknya, tanpa menoleh. Ia melangkah tenang ke arah mobilnya. Sebentar kemudian terdengar suara mesin dinyalakan.

Sebelum kembali masuk ke badan jalan, si sopir tua sempat menoleh ke arah gubuk meja biliar tempat Bob Marley terkapar. Ia tersenyum kecil, lalu melebar, kemudian senyum itu jadi seringai. Seringai yang sejak tadi tak terlihat. Seringai yang sangat jahat.

Pick-up menderu, melesat ke arah ia tadi datang, menerobos jalan yang kini sudah lengang. Pentol bakso berserakan. Orkes sudah bubar. Hujan yang rintik lalu melebat. Pick-up berkelebat, dengan kecepatan yang sama sekali tak sebanding dengan bentuknya, kemudian lenyap.

Beberapa saat kemudian terjadi sedikit keributan. Pemilik warung menemukan seseorang dengan kupluk Bob Marley di kepala terkapar tak bernyawa di dipan bambu samping meja biliar. Sebentar kemudian, orang-orang berkerumun. Anehnya, tak ada yang bisa mengingat apapun untuk membuat sedikit saja kesaksian. Ada yang sempat bicara tentang sopir tua dengan pick-up anehnya, tapi karena tak bisa memberi gambaran lebih soal wajahnya, pakaiannya, datang dari mana, apa mobilnya, apa warnanya, berapa plat nomornya, maka ia kemudian memilih mengubahnya. Sebelum menghubungi polisi, orang-orang bersepakat bahwa si Bob Marley mati karena terlalu banyak minum sehabis kalah besar di meja biliar.

Baca cerita berikutnya di sini.

Exit mobile version