MOJOK.CORupanya Mahfud Ikhwan susah lepas dari persoalan pencurian kayu di hutan-hutan jati Jawa. Demikian kesan yang saya tangkap usai membaca novel keempatnya yang baru terbit, Anwar Tohari Mencari Mati.

Para blandong mampir ngopi sebelum mencuri kayu.” – Mahfud Ikhwan dalam Anwar Tohari Mencari Mati (2021: 159)

Perlahan-lahan saya mulai mengerti mengapa novelis Mahfud Ikhwan suka ngopi di warung kopi Blandongan di dekat rel kereta api di Jogja itu. Kelihatannya ini bukan persoalan rasa kopi atau kenyamanan orang dan tempat semata, tapi ada suatu entah apa yang mengikat Mahfud dengan kata blandongan. Novel-novelnya, boleh saya sebut, adalah cerita tentang blandong (pencuri kayu).

Ulid dalam novel Ulid Tak Ingin ke Malaysia (baru saja diterbitkan ulang dengan judul Ulid saja), terlahir dari dan dibesarkan dalam keluarga blandong. Dawuk adalah cerita konflik blandong dengan sinder (pengawas atau pegawai Perhutani). Novel terbaru Mahfud yang terbit di awal 2021 ini, Anwar Tohari Mencari Mati, adalah “kelanjutan” dari Dawuk. Satu novel Mahfud yang lain, berjudul Kambing dan Hujan, seingat saya tidak bercerita tentang blandong(an). Meskipun demikian, kemungkinan besar latar-ruang dalam Kambing dan Hujan masihlah tetap “desa hutan” yang biasanya dihuni para blandong. Yang terakhir ini perlu dicek lebih detil.

Sepertinya saya sempat mendengar entah di mana, dan tentu bisa jadi saya salah, suatu ketika Mahfud mengatakan Kambing dan Hujan adalah novel liberal. Entah apa alasannya, saya tidak tahu. Dugaan saya untuk sementara karena Kambing dan Hujan bukan soal blandong, tapi lebih pada soal percintaan pasangan dengan latar belakang religius yang berbeda: satu Muhammadiyah dan yang satunya lagi NU.

Perlu klarifikasi di sini: novel adalah karya fiksi, sedangkan blandong nyata dalam kehidupan. Namun, biasanya para novelis atau para penulis cerita menggunakan kenyataan sebagai sumber inspirasi mereka. Sampai pada suatu derajat tertentu, biasanya kenyataan melesap di dalam fiksi. Maksud saya, adalah sah kalau saya menautkan karya fiksi dengan kenyataan.

Baca juga:  Curahan Hati Arsitek Gara-Gara Masjid Al-Safar Dituduh Iluminati

Blandongdiensten adalah satu cara kerja yang dikenakan VOC kepada para orang desa di Jawa. Secara umum dapat saya uraikan sebagai berikut. VOC datang dan mendominasi tata niaga kayu jati Jawa. Makin lama VOC merengsek makin dalam/jauh, bukan hanya menguasai tata niaga, tapi juga tanah, ternak, dan orangnya. Tanahnya dirampas, ternaknya seperti kerbau dijadikan alat angkut, dan orangnya dijadikan kuli dan dicap sebagai pencuri kalau mereka mengambil kayu dari tanahnya sendiri. Sistem perkulian ini yang disebut blandongdiensten. Kuli kayunya disebut blandong.

Jadi sejarah blandong sampai menjadi sebuah aktivitas yang disebut “mencuri kayu” seperti yang disampaikan dalam kutipan Anwar Tohari Mencari Mati di atas adalah sejarah pemiskinan—tanahnya dirampas, ternaknya dijadikan alat angkut, orangnya dijadikan kuli, dan secara sosial orangnya dicitrakan negatif sebagai pencuri kayu—orang-orang pedesaan di Jawa. Kejadian-kejadian ini bukanlah masa lalu yang telah sudah. Ia berlangsung sampai sekarang. Di masa Indonesia merdeka, aset-aset VOC dikelola di bahwa VOC-model-baru bernama Perhutani.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Marjin Kiri Publisher (@marjinkiri)

Maka tak mengherankan, desa-desa di sekitar hutan Perhutani di Jawa sering kali disebut sebagai desa-desa miskin. Penyebabnya sederhana, tanah-tanah nenek moyang mereka sudah terlebih dulu dirampas. Geografer Nancy Lee Peluso bahkan secara sangat lugas menyebutkan bahwa desa-desa di tengah hutan jati Jawa adalah desa-desa termiskin di antara desa miskin.

Peluso menyebut hutan-hutan rakyat yang sekarang diklaim negara sebagai “hutan politis” (political forest). Sebagai satu mekanisme perampasan hutan rakyat, hutan politis sekarang ini sudah menyebar ke berbagai pulau lain, seperti Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Papua, merampas tanah-tanah adat rakyat dan menjadikannya sebagai milik negara. Memiskinkan rakyat pedesaan.

Apakah Mahfud tidak tahu sejarah itu sehingga dia mengamini narasi dominan dengan juga menyebut blandong sebagai pencuri kayu? Menurut saya, Mahfud Ikhwan sangat tahu. Saya bisa mendeteksinya dalam Anwar Tohari Mencari Mati (2021: 160). Persisnya pada bagian tokoh “aku”, seorang wartawan penulis cerbung, yang dalam hatinya/pikirannya mengomentari keterangan Hendro, generasi penerus sinder Perhutani, bahwa rakyat merampas hutan-hutan jati Jawa pada era Reformasi sebagi “tendensius dan melompat”. Lebih pas disebut bahwa Mahfud sudah menyerahkan cerita pemiskinan pada orang macam Nancy Lee Peluso, dan ia sendiri menggarap bagian lainnya.

Baca juga:  Hak Cuti Haid dan Cuti Melahirkan Itu Merugikan Pengusaha Nggak Sih?

Dengan segala kerendahan hati karena takut salah atau tidak pas atau menyinggung perasaan orang lain, saya mohon izin untuk menyebut bagian yang lain ini sebagai “kebudayaan blandongan”.

Kebudayaan blandongan dalam sejarah hutan Jawa (beserta orangnya) dan dalam novel-novel Mahfud Ikhwan memberi saya, pembacanya, satu pelajaran tentang itu tadi, produksi kemiskinan. Bahwa orang yang disebut pencuri kayu, orang-orang miskin di desa-desa hutan jati di Jawa itu, tidaklah lahir secara tiba-tiba, namun melalui proses-proses sosial yang bersambung-sambung (atau bahkan saling berpilin) dalam durasi waktu yang panjang. Ia adalah apa yang disebut para peneliti agraria sebagai “perubahan” atau “diferensiasi agraria”. Bolehlah, secara analogis sebagaimana Peluso menyebut/mendefinisikan “political forest”, para blandong ini serta orang-orang yang dirampas tanahnya melalui mekanisme hutan politis saya sebut sebagai “political people”, orang politis, yaitu kelompok-kelompok manusia yang keluar atau dihasilkan dari mekanisme hutan politis.

Kelompok yang menjadi blandong adalah kelompok yang dimiskinkan secara menyejarah. Kelompok sinder, yang biasanya orang dari sekitar daerah itu juga, adalah kelompok yang menyusu pada (perusahaan) negara, mengakses semua sumber daya yang disediakan/difasilitasi negara untuk membangun kehidupannya turun-temurun. Dalam Anwar Tohari Mencari Mati, diferensiasi ini jelas terlihat. Anwar si keturunan blandong manjadi orang yang berkelana ke sana dan kemari dengan profesi seadanya/serabutan sambil tetap membawa misi politisnya memburu keturunan sinder. Hendro si keturunan sinder menjadi dosen sastra meneliti karya sastra ke sana dan kemari dalam misi politisnya mengungkap siapa pembunuh ayahnya.

Baca juga:  Air Mata Ibu Mega

Kebudayaan blandong(an) (vs. sinder) ternyata tidak berhenti pada cerita mencuri kayu dan usaha mengontrol/mengaturnya, namun sudah berkembang menjadi jurus-jurus bela diri yang luar biasa canggih; setidaknya demikian ia digambarkan oleh Mahfud. Dalam Anwar Tohari Mencari Mari, duel antara Anwar dan bapaknya Hendro diceritakan luar biasa dahsyat. Dua orang bertarung malam-malam di atas jembatan. Bergulung-gulung di tanah dan di angkasa. Melenting dari pucuk-pucuk bambu. Memecah keheningan malam dengan suara gedebam tubuh jatuh atau gedebak tubuh terbanting atau derakan tulang patah. Anwar mewakili aliran bela diri dari kalangan blandong. Bapaknya Hendro mewakili aliran bela diri dari kalangan sinder.

Dalam Dawuk, aliran blandong menang. Bagaimana detilnya, saya sudah lupa. Yang saya ingat sinder Perhutani patah tulangnya ditimpa kayu jati yang diletakkan/dipindahkan oleh seorang blandong dari bahunya ke bahu si sinder. Dalam Anwar Tohari Mencari Mati, selain duel antara Anwar dengan bapaknya Hendro, ada juga duel antara Anwar dan Hendro, si dosen/kritikus sastra yang berniat membunuh Anwar dan tokoh aku si pengarang cerbung itu. Untuk memelihara rasa penasaran pembaca, tulisan ini tidak akan menyampaikan siapa yang menang dalam duel ini, silakan cari tahu sendiri. Yang jelas, kritikus/dosen Hendro bertarung melawan aliansi blandong + pengarang, yakni Anwar + si penulis cerbung.

Karena dedikasinya mengeksplorasi tema-tema tentang blandong(an), rasanya tak salah kalau Mahfud saya (atau kalau Anda setuju, kita) nobatkan sebagai novelis blandongan atau novelis “pencuri” kayu. Dan patut pula rasanya, saya/kita minta kepada pemilik warkop Blandongan di dekat rel kereta api di Jogja itu agar memberikan kopi gratis kepada Mahfud setiap kali dia nongkrong di sana. Kalau Anda sepakat dan Anda mengenal (tahu siapa) pemilik warkop Blandongan, langkah pertama adalah mengirimkan tulisan ini kepadanya.

BACA JUGA Membaca Peristiwa 1965 dari Perspektif Perebutan Sumberdaya dan esai Bosman Batubara lainnya.