MOJOK.CO Berita kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air justru melahirkan 4 aliran jurnalisme gaya baru yang orisinil. Khas Indonesia banget.

Awan hitam menghiasi langit Indonesia. Pada awal tahun 2021 kita dihajar sebuah kabar memilukan. Pesawat Sriwijaya Air bernomor penerbangan SJ-182, tujuan Jakarta-Pontianak dikabarkan jatuh di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang.

Duka pun menyelimuti negeri. Seluruh pemberitaan, entah itu di televisi atau di media online beramai-ramai memberitakan hal itu.

Pesawat Sriwijaya Air yang jatuh adalah isu besar yang akan dibicarakan publik beberapa hari ke depan. Media online pun tak mungkin sebatas memberitakan kejadian jatuhnya pesawat, pencarian korban atau puing-puing pesawat, atau mengupas penyebab pesawat jatuh, itu semua merupakan topik yang terlalu klise untuk diberitakan.

Di tangan insan-insan media online yang kreatif, inovatif, futuristik, dan cekatan, peristiwa jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air dengan mudahnya bisa digoreng anget-anget. Bahkan mampu menelurkan aliran-aliran jurnalisme baru yang mengejutkan sejarah media massa.

Kehadiran aliran jurnalisme baru ini, selain mendasari pemberitaan, tentu juga menambah khazanah keilmuan jurnalistik kita karena berisi konten-konten penuh faedah. Yok, mari kita simak bersama-sama.

Jurnalisme Firasat

Saat terjadi peristiwa pesawat yang jatuh, kecelakaan, atau musibah apa pun, media online di Indonesia selalu memunculkan berita mengenai firasat seseorang. Dan tentu saja, jurnalisme firasat ini pun tak boleh luput juga ketika terjadi peristiwa pesawat Sriwijaya Air jatuh.

Tengoklah beberapa media online yang memberitakan jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air. Pasti kamu akan menemukan berita soal firasat. Ya kalau nggak nemu, coba searching di Google dengan kata kunci “firasat Sriwijaya Air”.

Berita-berita di media online +62 yang memberitakan firasat seseorang. Ada firasat pegawai maskapai, pramugara, pramugari, pilot, sampai keluarga korban.

Boleh jadi, karena belum ada informasi tambahan soal proses pencarian korban atau mencari tahu penyebab jatuhnya pesawat, pemberitaan firasat ini jadi yang terpenting dalam mendulang trefik. Sehingga mau nggak mau ya tetep wajib diberitakan.

Jurnalisme firasat juga menunjukkan betapa kleniknya religiusnya media dan pembaca berita kita. Di saat tidak ada hal yang bisa diberitakan, hal abstrak semacam itu pun bisa laku habis-habisan di Indonesia.

Perkara responsnya adalah sumpah serapah dari netizen Indonesia, ya nggak apa-apa, yang penting kan trefik kencang.

Jurnalisme Story

“Story” di sini maknanya bukan kisah, cerita, atau sebangsanya ya? Plis, jangan salah sangka dulu. “Story” di sini itu merujuk pada story di media sosial.

Baca juga:  Nikita Mirzani di Antara Media dan Para Monyet

Nah, di Indonesia, melalui kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air “story” ini ternyata lahir menjadi sebuah aliran jurnalisme jenis baru yang mengejutkan dunia persilatan media, sampai saya jadi kepikiran untuk memunculkan istilah “jurnalisme story”.

Kisah kelahiran aliran jurnalisme story ini bisa dilacak ketika Twitter disuguhi trending “Kapten Afwan” sesaat setelah kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air diberitakan. Waktu saya cek, saya menemukan beberapa situs berita yang mengabarkan story terakhir Kapten Afwan, Pilot Pesawat Sriwijaya Air.

Sebagai mahasiswa ilmu komunikasi, tentu saja saya ingin sekali mendapat jenis pelajaran baru soal jurnalisme story ini. Kok rasanya liputannya enak sekali. Tinggal searching di medsos korban, lacak story-nya yang bikin baper, lalu bikin berita, upload, trefik tinggi.

Jangan salahin para jurnalis yang beritakan medsos korban Pesawat Sriwijaya Air yang jatuh dulu dong. Mereka kan hanya merespons apa keributan yang terjadi di dunia medsos. Kalau mau salahin, salahin aja tuh netizen Indo yang kepo banget sampai ngetroll medsos korban.

Perkara media dan jurnalis bisa memilah hal kayak gitu patut diberitakan atau tidak, tapi kan itu menunjukkan kalau selera beberapa media kita (nggak semua ya) memang sesampah moral netizennya.

Meski begitu, di luar pro dan kontranya, model pemberitaan ini tentu bisa dikembangkan sebagai sebuah teori baru dalam dunia jurnalistik. Kalau boleh usul, mohon di-track akun yang memulai kebiasaan ini.

Anu, biar dikasih award penemu jenis jurnalisme baru. Kan lumayan, siapa tahu bisa dapet hadiah mobil.

Hal ini juga menunjukkan suatu hikmah. Bahwa kebiasaan ngetroll akun medsos orang tanpa moral begini, kalau diseriusi jebul hasilnya lumayan juga. Lumayan dihujat.

Jurnalisme Wisata

Apabila jurnalisme disandingkan dengan wisata, maka jadilah jurnalisme wisata. Tujuannya jelas, supaya sebuah tempat wisata jadi masyhur sehingga orang-orang berkunjung ke sana.

Namun siapa menyangka, jurnalisme wisata beneran muncul setelah Pesawat Sriwijaya Air dikabarkan kecelakaan. Bahkan ketika infonya baru soal titik hilangnya pesawat, mendadak sudah muncul dong berita wisata oleh media online yang kreatif. Benar-benar cekatan dan trengginas dalam mendulang trefik. Kagum saya.

Jika kamu penasaran, silakan cek di media online terbesar di Indonesia yang rangking websitenya berada di atas Google Indonesia (RANGKINGNYA BERADA DI ATAS MESIN PENCARI, DONG!)

Baca juga:  Setelah Klarifikasi, Dian Sastro Sebaiknya Ikut Aksi

Nah, media online itu tidak hanya memberitakan informasi hilangnya pesawat, namun juga berhasil membuat konten wisata dengan mengupas keindahan Pulau Laki dan Pulau Lancang. Lokasi terdekat dari jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air.

Tentu dengan judul yang sangat menantang hati nurani semacam ini: “Menengok Keindahan Pulau Lancang, Titik Hilangnya Pesawat Sriwijaya Air,” atau, “Pesona Pulau Laki, Tempat Diduga Jatuhnya Sriwijaya Air Jakarta-Pontianak.”

Mukegile.

Titik jatuhnya pesawat malah diberitakan dalam bentuk destinasi wisata favorit og piye. Sangar betul itu mental jurnalis dan medianya dalam urusan menerabas standar moral netizen Indonesia. Sangar. Hambok yaqin.

Jurnalisme Ramalan

Yang terakhir ini paling puenting di antara semuanya. Biasanya di sebuah situs berita saat ada musibah, seorang paranormal akan naik popularitasnya karena sudah pernah meramalkan kejadian tersebut beberapa waktu sebelum kejadian.

Silakan kamu cari saja di Google pakai kata kunci “Ramalan 2021”. Maka pemberitaan yang muncul akan didominasi oleh ramalan Mbak You. Btw, kamu kenal nggak sama blio? Kalau saya sih nggak.

Tapi orang yang tidak terkenal itu—setidaknya bagi saya—justru menghiasi pemberitaan jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air. Apalagi karena ramalan blio bisa dikaitkan dengan kejadian jatuhnya pesawat.

Monmap ini Mbak You. Kalau situ bisa ngeramal sehebat begitu, kenapa situ nggak kerja di BMKG atau BASARNAS aja ya? Ya kali lebih bisa memberi manfaat. Bisa kasih tahu titik-titik bencana alam di masa depan misalnya, atau kalau ikut BASARNAS bisa ngasih tahu jenazah korban itu ada di posisi mana aja.

Atau kalau sebelum ada bencana di daerah mana gitu, bisa ngasih tahu duluan. Jadi masyarakat bisa lebih waspada gitu. Jadi korban bisa diminimalisir sebelum makin parah.

Misalnya, ini misalnya aja. Mbak You bisa nggak meramalkan soal situasi pemberitaan di media kita? Terutama dalam hal pemberitaan bencana-bencana yang menyangkut korban jiwa?

Ya maklum, kan produksi dan konsumsi media di Indonesia selama ini sudah luar biasa parah, Mbak. Ngomongin firasat sudah, ngetroll medsos korban sudah, terabas hati nurani sudah, ramalan pun sudah.

Sudah amoral, klenik lagi.

Kira-kira kalau gitu apa status darurat media di Indonesia soal itu, Mbak? Normal, Waspada, Siaga, atau Awas?

BACA JUGA Kenapa Liputan Bencana Alam Malah Bagai Telenovela dan Penuh Air Mata? dan tulisan Muhammad Arsyad lainnya.