Rubrik: Esai

Jeniusnya Ahmad Dhani saat Sebut yang Tak Bermoral itu Cuma PKI

MOJOK.CODalam podcast Deddy Corbuzier, Ahmad Dhani menyebut bahwa yang tak bermoral itu hanya PKI. Hm, jenius sekali sih ini.

Awal 2019 yang lalu, Ahmad Dhani cukup cerdas kala mengungkapkan bahwa dirinya lebih mengkhawatirkan kebangkitan Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) ketimbang kebangkitan PKI.

Meski banyak orang yang terang-terangan takut pada kebangkitan PKI, Ahmad Dhani justru mengkhawatirkan konsep politik yang dulu dicetus oleh Soekarno itu.

Saya katakan cukup cerdas sebab Ahmad Dhani mampu berpaling dari fobia atas satu partai politik yang telah mati dan beralih ke ideologi yang lebih mungkin mengkristal menjadi sebuah partai baru. Lewat mimikri gitu. Meski, yaaah, kemungkinan ini amat kecil sekali.

Meski begitu, tak berlebihan bila perbedaan jalan pikiran Ahmad Dhani saya anggap cukup cerdas, karena peluang untuk mimikri lebih mungkin ketimbang membangun partai yang jelas-jelas dicitrakan sebagai pendosa tak terampuni dalam sejarah bangsa Indonesia.

Kalau mau lebih spesifik, apa yang dikhawatirkan Ahmad Dhani atas Nasakom tentu hanya ada pada kata “komunisme”. Bukan nasionalisme dan bukan pula agama. Artinya, ketakutan beliau sebenarnya terletak pada ideologi komunisme yang bisa jadi tidak berwujud PKI, melainkan bisa mengkristal dalam wujud partai apapun.

Cerdas bukan? Bukankah jarang pembenci PKI sadar kalau suatu partai tanpa embel-embel komunisme bisa saja ternyata menganut ideologi komunisme? Sebab ideologi merupakan hal abstrak yang tak terlalu kelihatan bentuknya.

Mudahnya begini. Misalnya ada suatu partai melekatkan embel-embel ideologi nasionalis, sebenarnya belum tentu partai tersebut betul-betul mengaktualisasikan nasionalisme dalam praktik politiknya. Bisa jadi ia berjalan layaknya partai nasionalis, namun diam-diam tercitra seperti partai agamis.

Ambil saja contoh seperti Gerindra, partai istrinya Ahmad Dhani.

Bukankah semenjak Prabowo menjadi rival abadi Jokowi membuat partai Gerindra tampak begitu agamis (atau kalau mau sekalian sebut merek: islamis)? Bahkan Gerindra sempat tercitra lebih islamis ketimbang PPP hingga PKB, hanya gara-gara dua partai terakhir itu mendukung lawan Prabowo?

Padahal jelas-jelas partai besutan Prabowo Subianto ini merupakan partai nasionalis. Bahkan tak berlebihan disebut nasionalisme-sekuler bila kita kaitkan dengan pembagian ideologi yang muncul sejak awal kemerdekaan.

Namun bila mengikuti alur pikiran Ahmad Dhani, fakta bahwa Gerindra justru menjadi partai dengan ciri khas keislaman lewat sokongan ijtima ulama dan keberpihakan dan pembelaan yang terkesan hanya pada umat Islam (tertentu) membuat partai ini seolah-olah jadi pemimpin kelompok islamis. Itulah contoh bagaimana ideologi bisa menelusup pada ruang-ruang praktik politik yang—terkesan—berlawanan.

Melalui analogi sederhana tersebut, bukan tidak mungkin pula sebenarnya ada partai yang tercitra memegang ideologi nasionalis padahal tanpa sadar sedang menerapkan ideologi komunis.

Pertanyaanya, kira-kira partai manakah yang seperti ini?

Tentu jawabannya belum ada. Belum ada satu pun partai yang sedikit saja memperlihatkan ide-ide komunisnya. Maklum, ketakutan akan ideologi komunis udah berjalin berkelindan dengan ketakutan masyarakat akan PKI. Soalnya, baik komunis maupun PKI itu kayak lahir kembar siam di Indonesia.

Oleh sebab itu, saya tak heran bila partai-partai sekarang justru sekuat tenaga berusaha terlihat berseberangan dengan komunisme. Sebab, risikonya sangat besar untuk kelangsungan suara elektoral politik ke depan, Bung.

Bahkan PDIP yang kerapkali dituduh komunis oleh lawan politiknya, selalu berusaha sekuat tenaga untuk mencitrakan tidak kalah anti-komunisnya ketimbang Gerindra atau Ahmad Dhani sendiri.

Dari mana kita bisa melihat itu? Ya lewat kebijakan-kebijakan macam menaikkan iuran BPJS yang harus dibayar oleh rakyat, pro-investasi luar negeri, dan menjunjung tinggi kelangsungan hidup pebisnis-pebisnis aka pejabat tajir melintir Indonesia.

Hal yang sebenarnya merupakan petunjuk bahwa PDIP dan pemerintah kita betul-betul anti-komunis. Jadi kalau dari kalian ada yang protes hidup rakyat kok begini amat belakangan ini, sebaiknya bersyukurlah karena pemerintah sekarang justru sangat kapitalis—termasuk sama rakyat sendiri.

Uniknya, pandangan Ahmad Dhani itu sedikit berubah ketika bicara di podcast Deddy Corbuzier baru-baru ini. Di sana, Dhani terang-terangan mengungkapkan kebenciannya pada PKI. Baginya, yang tidak punya moral hanyalah PKI. Bahkan Ahmad Dhani menuding semua hoaks yang menimpa dirinya adalah ulah PKI.

Tentu saja banyak kalangan yang tidak setuju dengan generalisir yang dilakukan oleh Ahmad Dhani. Apa kaitannya hoaks yang diterima pentolan Dewa 19 itu sama PKI? Masak sih semua yang tidak bermoral ujug-ujug adalah PKI? Kenapa Ahmad Dhani jadi ikutan “apapun masalahnya yang salah tetep PKI”?

Oke, oke, memang ada sedikit inkonsistensi kali ini, bila beberapa tahun lalu Ahmad Dhani lebih berpikir PKI telah jadi hantu dan lebih masuk akal ideologinya mengalami mimikri, sementara sekarang Ahmad Dhani justru mengamini bahwa PKI sekarang ada bentuknya.

Bisa jadi karena dulu Ahmad Dhani masih jadi “anggota kultural” Partai Gerindra, jadi perlawanannya lebih mengarah ke hal-hal kultur pula. Musuh yang dipilih pun sifatnya abstrak: komunisme.

Sedangkan sekarang, dengan merapatnya beliau ke Gerindra yang sudah bermimikri menjadi partai islamis, maka musuh yang dicari harus lebih jelas wujudnya. Supaya lebih praktis dan lebih mudah dibayangkan oleh masyarakat awam aja. Akhirnya, “musuh”-nya sekarang pun disebut merek partainya secara jelas, yakni PKI.

Ini strategi yang menunjukkan betapa jeniusnya seorang Ahmad Dhani. Dengan menempatkan musuh politiknya pada kolom “PKI” dan “tak bermoral”, maka Dhani sedang menempatkan diri di posisi sebaliknya. Bikin Dhani punya tameng tangguh kalau ada yang mau menyerang dirinya atau afiliasi politiknya.

Orang yang kepikiran mau menolak ide-ide kader Gerindra atau mungkin ide Ahmad Dhani pun jadi perlu mikir dua kali. Karena salah-salah, mereka bisa saja kena tuduh sebagai simpatisan PKI kalau tidak sepakat.

Meski itu juga berarti, bahwa yang tidak bermoral menurut Dhani itu bisa jadi mereka yang tidak mau berakhlak kapitalis seperti dirinya.

BACA JUGA Mengapa Kita Harus Membenci PKI? atau tulisan Ang Rijal Amin lainnya.

Leave a Comment