MOJOK.COKalau ditanya apa yang membuat saya punya cita-cita jadi wartawan. Jawabannya sederhana. Saya tidak ingin kerja yang terikat ruang dan waktu.

Cita-cita menjadi wartawan muncul begitu saja saat masa-masa akhir SMA. Hobi membaca koran dan majalah membuat saya tertarik dengan dunia media. Saya membayangkan bekerja tapi bisa pergi ke mana-mana. Tidak hanya berkutat di ruangan dengan jam kerja yang sama setiap harinya.

Sengaja saya mengikuti kuliah program dua tahun dengan konsentrasi jurnalistik di sebuah kampus di Yogyakarta yang sekarang sudah almarhum. Begitu lulus, menjadi wartawan nyatanya tidak cukup hanya bermodal kemampuan menulis atau semangat saja.

Bekerja di media sebagai wartawan juga harus di dukung kondisi media yang sehat. Setidaknya itu yang saya alami saat awal-awal menjadi wartawan.

Saya pernah hampir menyerah dengan profesi ini. Justru di awal-awal sebagai wartawan. Saat bekerja di sebuah majalah yang mengulas lingkungan hidup, nyawa saya hampir saja melayang.

Saat mencari narasumber di sebuah tanah bekas tambang minyak di Surabaya, orang-orang mengejar saya sambil mengacungkan dan mengayunkan clurit. Mereka melarang saya menulis berita tentang alasan mereka menempati tanah bekas tambang di zaman penjajahan Belanda tersebut.

Lebih apes lagi, saat hasil liputan tersebut saya kirim ke kantor redaksi di Jakarta, kabar dari redaktur membuat saya semakin yakin bahwa pekerjaan wartawan tidak cocok untuk saya. “Maaf mas, media kita sudah tutup seminggu yang lalu,” katanya dengan nada penuh sesal.

Baca juga:  Kala Presiden Jokowi Menyerahkan Posisi Kepresidenannya Selama 5 Menit

Hari itu, Jumat di pagi hari. Peristiwa yang tidak mungkin saya lupa. Hari Sabtu adalah hari terakhir saya harus membayar uang kos jika ingin memperpanjang bulan berikutnya.

Sabtu yang kelabu. Di atas Astrea Grand 94′ dengan kardus di depan dan belakang motor, saya meninggalkan Kota Surabaya kembali ke Yogyakarta. Cinta saya pada profesi jurnalis seperti bertepuk sebelah tangan. Dikecewakan saat sedang sayang-sayangnya.

Ini adalah media ketiga yang tutup semenjak saya bergabung. Saya menyaksikan bagaimana media-media yang dibangun hanya dengan semangat tersebut layu bahkan sebelum mengeluarkan tunas. Saya hitung usianya tak sampai tiga bulan sejak berdiri.

Saya bahkan berpikir, apakah gara-gara saya bergabung, media-media tersebut gulung tikar. Jangan-jangan ini kutukan.

Kembali ke bangku kuliah akhirnya menjadi pilihan, sembari bekerja sambilan di sebuah galeri lukisan. Saya hanya bertahan 8 bulan kerja kantoran untuk kemudian menerima tawaran bekerja di sebuah media harian atau koran.

Ternyata bukan kutukan, saya bertahan di media tersebut hingga 16 tahun. Sejak semester tiga hingga semester tak terhingga. Dari lebih suka bekerja di lapangan hingga menginginkan kerja di ruangan.

Merasakan era koran cetak hingga berkutat dengan media online. Era media sudah sangat berubah. Begitu juga cara kerja wartawan. Berita atau artikel bisa dibuat tanpa perlu terjun ke lapangan. Semua beradaptasi dengan cara konsumsi masyarakat terhadap informasi.

Baca juga:  Harga Diri Memang Bukan Perkara Sederhana

Di Hari Pers Nasional 2021 Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan apresiasi kepada wartawan dengan membebaskan pajak penghasilan karyawan atau PPh 21 hingga Juni 2021. Kebijakan tersebut didasari insan pers, baik media maupun wartawannya tengah menghadapi masa-masa sulit.

Selain tentu saja menurut Jokowi, wartawan telah membantu tugas pemerintah untuk mengedukasi masyarakat agar menerapkan protokol kesehatan dan membantu masyarakat untuk mendapatkan informasi yang tepat.

Sebuah kabar yang tentunya perlu disambut dengan tepuk tangan. Namun, di sisi lain Jokowi juga harus tahu, masih banyak wartawan di Indonesia yang belum mendapatkan haknya secara layak.

Saya masih ingat kredo yang dicamkan senior-senior saya ketika awal-awal menjadi wartawan.

“Wartawan tidak boleh sakit!”

Itu adalah kredo yang ditanamkan ke saya dan kawan-kawan ketika bergabung dengan koran harian. Bukan karena berarti tidak ada informasi yang disampaikan ke masyarakat. Bukan karena itu. Saat itu, kami takut sakit karena kalau itu terjadi berarti tidak ada yang menanggung biayanya.

Saya tahu, kondisi seperti itu masih banyak dialami wartawan-wartawan di Indonesia. Teman-teman yang hanya mengandalkan honor dari setiap berita yang dimuat atau ditayangkan.

Besarnya tuntutan kerja bagi jurnalis atau wartawan untuk menyajikan informasi, membuat profesi ini menjadi salah satu pekerjaan yang rentan terkena depresi.

Maka di Hari Pers Nasional 2021 ini saya ingin menyampaikan:

Baca juga:  Di Rumah Sakit

“Selamat hari pers kawan, selalu jaga kesehatan!”

BACA JUGA : 7 Kiat Sukses Jakob Oetama Sang Jurnalis Taman Eden Junior dan tulisan tentang wartawan lainnya.