Seperti halnya Pilpres Indonesia, Pilpres Ukraina juga baru saja usai. Dan ada hal yang sangat menyenangkan dari hasil Pilpres negara bekas pecahan Uni Soviet ini. Berdasarkan exit polls, Pelawak Ukraina, Volodymyr Zelensky diketahui menang dan hampir dipastikan bakal terpilih menjadi presiden negaranya Mas Shevchenko itu.

Kemenangan Volodymyr Zelensky menjadi sangat spesial, sebab sebelumnya, dirinya sama sekali tidak pernah punya rekam jejak atau pengalaman di bidang politik sama sekali.

Dirinya sebelumnya dikenal sebagai pelawak dan juga aktor dalam serial drama satire berjudul “Pelayan Rakyat”. Dalam drama tersebut, ia berperan menjadi seorang guru yang secara tak terduga terpilih menjadi presiden.

Berbekal ketenarannya sebagai aktor dan pelawak, ia kemudian mendirikan partai dan mencalonkan diri menjadi presiden. Dasar mujur, ia ternyata menang.

Kisah terpilih menjadi presiden yang sebelumnya hanya ia perankan dalam serial drama ternyata benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata.

“Saya tidak akan pernah mengecewakan Anda,” ujar Zelensky. “Saya belum resmi menjadi presiden. Tapi sebagai warga Ukraina, saya bisa bilang kepada semua negara bekas Uni Soviet: Lihat kami. Segala sesuatunya itu mungkin!”

Kemenangan Volodymyr Zelensky yang seorang pelawak menjadi seorang presiden tentu saja layak untuk direnungi. Betapa dalam satu titik, rakyat memang membutuhkan membutuhkan presiden yang bukan hanya dinilai dari rekam jejaknya dalam pemerintahan, namun dari kemampuannya untuk membuat rakyat senantiasa tersenyum dan tertawa.

Banyak calon-calon presiden yang menjanjikan pendidikan yang baik, harga pangan yang terjangkau, keamanan negara yang stabil, pokoknya apa saja yang sanggup membuat rakyatnya tenang dan bahagia.

Mereka lupa, bahwa esensi bahagia sejatinya adalah senyum dan tawa. Maka, jangan heran jika suatu saat, pada sebuah momen yang memungkinkan, seorang pelawak berani mencalonkan diri menjadi presiden dan kemudian menang mutlak.

Belum banyak calon presiden yang menjanjikan dirinya bisa menghibur masyarakat. Ini tentu saja menjadi sebuah tantangan yang baru.

Lagipula, sejarah membuktikan, bahwa tak sedikit orang-orang penghibur yang berhasil terpilih menjadi seorang presiden.

Aktor kenamaan Joseph Estrada, misalnya. Aktor yang sudah bermain di lebih dari 100 film tersebut berhasil menjadi presiden Filipina. Di Amerika pun demikian, presiden ke-40 mereka dijabat oleh seorang lelaki bernama Ronald Reagan yang semua orang tahu bahwa dia adalah seorang aktor jempolan pada masanya.

Menjadi seorang entertainer, apalagi pelawak, yang sudah pasti bikin orang-orang di sekitarnya senantiasa tertawa tentu saja adalah aset yang sangat berharga.

Masyarakat Indonesia pernah punya Gus Dur, seorang presiden yang, walau bukan pelawak, namun ia kerap melontarkan guyonan-guyonan renyah yang membuat banyak persoalan menjadi terasa receh dan ringan.

Dan kita semua tak bisa menipu diri, bahwa kita rindu sosok seperti Gus Dur. Sosok yang bisa dengan mudah berkata “Gitu aja kok repot” pada sesuatu yang bagi banyak orang memang betulan repot.

Dunia berubah dengan cepat. Orang-orang mudah bosan dengan janji-janji pemimpin yang itu-itu saja.

Kini saatnya para orang-orang lucu yang menghibur tampil menjadi memimpin. Sandiaga sudah memulainya. sayang, ia kalah.

Mari berharap, semoga kelak, orang-orang cerdas namun lucu seperti Pidi Baiq, Sujiwo Tedjo, atau Tukul Arwana bisa mencalonkan diri menjadi presiden dan dipilih ramai-ramai oleh rakyat yang memang sudah sangat merindukan kehidupan yang jenaka.

Betapa menyenangkannya membayangkan Tukul Arwana menjadi presiden, kemudian saat ia dinyinyiri oleh oposisi kayak Fadli Zon atau Fahri Hamzah, ia tinggal bilang “Tak sobek-sobek mulutmu.”

Betapa menyenangkannya.