Seorang lelaki mendadak kaget tatkala ada notifikasi SMS perihal transferan uang sejumlah beberapa juta yang masuk ke rekeningnya. Hari itu bukanlah tanggal gajian baginya. Ia juga tak merasa sedang menjual sesuatu. Juga tidak sedang menang lotere atau memenangkan undian apa pun. Ia juga tak merasa ada kawannya yang berjanji akan membayar hutang kepadanya. Maka, ia pun heran setengah mati atas uang transferan yang masuk itu.

Ia pun penasaran dan kemudian mencoba membuka aplikasi mobile banking untuk memeriksa mutasi dan mencari tahu, siapa gerangan orang yang cukup sinting mengiriminya uang yang tidak sedikit itu.

Belum juga niatannya itu ia lakukan, muncul notifikasi lain, kali ini dari WhatsApp. Notifikasi itulah yang kemudian mengurungkan niat tokoh kita ini untuk membuka aplikasi mobile banking karena pesan dari WhatsApp itu sudah menjawab rasa penasarannya.

“Sori, Bos. Barusan aku salah transfer uang ke kamu.” Begitu tulis pesan tersebut.

Pesan itu ternyata dari salah seorang kawan lamanya.

Pada akhirnya, tokoh kita ini kemudian tetap melanjutkan membuka aplikasi mobile bankingnya, namun kali ini dengan tujuan yang berbeda, bukan untuk mencari tahu siapa yang mentransfer sejumlah uang kepadanya, namun untuk mengembalikan uang yang baru saja numpang mampir di ruang tamu rekeningnya.

Diawali dari salah transfer, dua kawan lama itu kemudian ngobrol banyak dan kemudian membicarakan satu proyek. Tujuannya jelas, agar nanti ada transferan uang yang kali ini tidak hanya mampir karena salah transfer.

Belakangan diketahui bahwa kawan lama itu memang sengaja pura-pura salah transfer sebagai usaha pengetuk pintu untuk memulai intermezzo dalam membangun percakapan.

Ia merasa sangat aneh bila ujug-ujug langsung mengirim pesan kepada kawan lamanya untuk membicarakan proyek bisnis. Baginya, akan lebih lembut bila ia memulainya dengan peristiwa yang terkesan insidental, dengan saling sapa yang insidental pula, yang kemudian berlanjut pada pembicaraan yang tentu saja sudah tidak insidental lagi.

Dan pada akhirnya, triknya itu terbukti.

Ia berkali-kali melakukan hal itu. Sebuah kebiasaan yang kemudian oleh banyak kawannya disebut sebagai “diplomasi salah transfer”.

* * *

“Punya obeng nggak, Mbak?” tanya seorang lelaki kepada perempuan yang baru saja ia temui di salah satu kedai kopi.

“Nggak punya, Mas,” jawab si perempuan.

“Kalau tang?”

“Nggak punya juga lah, Mas.”

“Kalau nomor hape, pasti punya dong?”

Potongan percakapan tersebut tentu sudah sangat kita kenal. Semacam template gombal bagi lelaki yang ingin berkenalan dengan perempuan.

Dalam dunia komunikasi, memang ada banyak jalan yang bisa dipakai untuk membuka jalur percakapan dan dialog. Dari tanya tang, sampai nggak sengaja transfer uang. Konon, cara-cara intermezzo komunikasi tak lazim ini lebih punya kesan yang mendalam.

Nah, tampaknya, cara komunikasi tak lazim ini pulalah yang kini dipakai oleh pemerintah dalam penanggulangan pandemi covid-19.

Dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube BNPB, Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan agar rakyat jangan terlalu banyak bertanya tentang kapan pandemi berakhir.

Lebih lanjut, ia justru memberikan pernyataan yang, bagi banyak orang, terdengar sangat sengak.

“Jangan tanyakan kapan pandemi berakhir, tapi tanyakan kapan kita bisa disiplin pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan,” begitu kata Wiku.

Sepintas, kalimat tersebut hampir serupa dengan apa yang pernah dikatakan oleh John F Kennedy saat dirinya dilantik menjadi presiden: Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.

Sama-sama heroik. Bedanya, yang diucapkan oleh Kennedy punya semangat partisipatif, sedangkan apa yang dikatakan oleh Pak Wiku punya semangat “lepas tangan”.

Lantas, apakah apa yang dikatakan oleh Bapak Wiku tersebut adalah bukti bahwa pemerintah sudah menyerah dalam perang melawan Covid-19?

Oooo, tunggu dulu. Sebagai rakyat sebuah negara luhur yang menjunjung tinggi budaya ketimuran, kita seyogiaanya senantiasa punya prasangka yang baik. Jangan sampai hati kita dipenuhi oleh syak wasangka yang hitam dan keruh.

Dugaan saya, apa yang dikatakan oleh Bapak Wiku adalah sebuah cara untuk membangun komunikasi dengan rakyat. Ia sengaja memancing emosi rakyat melalui pernyataannya agar rakyat mau berpartisipasi dan mau lebih banyak berkomunikasi dengan pemerintah.

Jangan salah, apa yang dikatakan oleh Bapak Wiku itu bukannya kontraproduktif, namun justru sangat produktif.

Indonesia ini rakyatnya tipikal petarung sejati. Jadi kalau tidak ada yang menantang, tidak akan bertindak. Dan Pak Wiku sudah melemparkan tantangannya melalui pernyataannya yang mengganggu itu.

Itu persis seperti yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan yang sempat akan mensomasi seorang netizen gara-gara dianggap menghina Institusi Kemenkes atau Kementerian Pertanian yang sempat bikin gonjang-gonjang terkait kalung anti-corona itu.

Tujuan utama mereka bukanlah mensomasi atau memasarkan kalung, melainkan memang murni ingin membangun dialog dengan masyarakat.

* * *

Apa yang dilakukan oleh Pak Wiku (dan orang-orang di lembaga pemerintah lainnya yang mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyebalkan) sejatinya adalah salah satu cara untuk membangun dialog dengan rakyat. Bagi pemerintah, dialog adalah hal yang penting. Semua masalah bisa diselesaikan dengan dialog, diselesaikan dengan musyawarah. Dan untuk membangun dialog, tentu butuh pancingan. Nah, di situlah peran Bapak Wiku sang tokoh kita itu.

Covid-19 itu masalah kecil. Ia pasti bisa diselesaikan dengan musyawarah. Tidak perlu itu mengupayakan APD yang mencukupi untuk seluruh tenaga medis, tidak perlu itu membatasi pariwisata, tidak perlu itu menganggarkan dana untuk swab test yang masif. Yang paling penting adalah musyawarah. Ingat, sekali lagi, musyawarah. Dialog. Pokoknya dialog.

Nah, kalau ternyata nanti pandemi tak juga usai, maka tentu saja itu bukan salah pemerintah yang tidak tegas dan tidak becus atau salah rakyat yang tidak disiplin. Itu murni salah virus Covis-19-nya yang memang keras kepala dan tidak mau diajak bermusyawarah.

Diajak berdamai nggak mau, diajak musyawarah apalagi. Memang dasar virus nggak tahu diri.