memilih caleg

Tips Memilih Caleg Dengan Selemah-Lemahnya Iman dan Pengetahuan

Saya punya kawan, saya tahu dia seseorang yang sangat baik, punya kemampuan yang mumpuni di bidang manajemen, punya kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat yang dibuktikan dengan kerja-kerja pemberdayaan di masyarakat. Nah, kawan saya ini ternyata maju sebagai calon legislatif melalui salah satu partai.

Sebagai orang yang mengenal dia dengan cukup baik, tanpa keraguan, saya akan memilih dia, tak peduli dengan citra atau sepak terjang partainya yang mungkin punya cacat dan cela di mata saya.

Tapi, di Pileg tanggal 17 April besok, tentu tidak semua orang seperti saya, yang punya kawan caleg yang memang sudah terbukti punya andil dan kepedulian di masyarakat.

Mereka buta tentang calon legislatif yang harus mereka pilih sehingga ketika berada di TPS, mereka mencoblos caleg dengan acak atau seenaknya.


Nah, untuk itulah, saya mencoba memberikan tips sederhana memilih caleg untuk para pemilih yang blas nggak punya kenalan caleg yang baik dan bisa diandalkan.

Ini panduan versi saya pribadi. Jadi tentu saja sangat tidak otoritatif.

Monggo disimak.

Pilih caleg yang tertib mengurus izin spanduk

Kita tak akan tahu bagaimana kelakuan dan ketaatan seorang caleg kalau ia sudah terpilih nanti. Tapi, hal ini bisa sedikit dilihat dari bagaimana ia menaati peraturan kampanye.

Seorang caleg yang baik tentu akan mengupayakan kampanye yang baik dan tertib. Dan mengurus izin spanduk adalah hal pertama yang bisa dilakukan.

Kalau Anda kebetulan lewat di jalan raya, dan melihat spanduk caleg yang sudah ditempel dengan tanda pengurusan izin spanduk, maka tandai dia. Setidaknya, mereka bisa dijadikan sebagai pilihan akhir jika Anda sudah sangat mumet dan pusing menentukan pilihan.

Jangan langsung pilih caleg top of mind

Seseorang yang buta akan caleg biasanya cenderung memilih caleg top of mind. Caleg top of mind adalah caleg yang sosoknya selalu terngiang di ingatan karena seringnya dia muncul di benak dan ingatan. Caleg yang bisa menjadi top of mind bagi kita biasanya karena bannernya terpasang dengan besar di berbagai tempat strategis yang kebetulan biasa kita lewati sehingga nama dan sosoknya jadi begitu familiar bagi kita.

Caleg yang mampu pasang banner besar di berbagai tempat tak bisa tidak tentu saja adalah caleg yang kaya. Atau minimal dibacking oleh orang kaya.

Saya tak bilang bahwa caleg yang kaya, yang mengeluarkan banyak modal untuk bisa jadi anggota legislatif, pasti punya kecenderungan untuk balik modal. Namun, kebanyakan yang terjadi memang seperti itu.

Saya justru lebih menyarankan untuk memilih caleg ‘kere’ yang bannernya kecil-kecil dan terpasang di kampung-kampung. Bagi saya, ini usaha untuk membangun kultur politik yang tidak selalu mengandalkan kekayaan.

Kalau banyak Caleg ‘kere’ yang menang, maka akan banyak orang-orang biasa yang punya kapasitas kerja yang tertarik untuk nyaleg. Lingkaran politik jadi tidak melulu diisi oleh orang-orang kaya atau anak-anak politisi.

Utopis memang. Tapi, bukankah selama ini kita memang selalu mengharapkan hal-hal yang utopis?

Pilih caleg dari partai kecil

Caleg yang sedari awal memang berniat untuk cari duit tentu akan lebih memilih mencalonkan diri melalui partai yang sudah mapan, partai yang tentu punya kans untuk lolos ke parlemen. Bukan melalui partai yang kemungkinan lolos ke Senayannya kecil.

Dari situ saja sudah bisa diihat, betapa menggunakan hak pilih untuk memilih caleg-caleg dari partai kecil adalah salah satu cara paling minimal untuk memperbaiki kondisi politik yang kotor dan menyebalkan.

Dan lagi, kalau partai-partai kecil nanti bisa lolos ke senayan, maka perjuangan untuk menurunkan ambang batas parlemen tentu akan semakin menguat. Hal tersebut kemungkinan akan berpengaruh juga pada perjuangan menurunkan presidential threshold. Jika presidential threshold bisa diturunkan, misal dari 20 persen ke 10 persen, maka nantinya akan ada banyak calon presiden yang bisa bertarung. Bukan hanya dua seperti sekarang ini sehingga polaritas politik akan menjadi semakin berkurang.


Nah, kalau ternyata nanti kita pilih caleg dari partai kecil, dan ternyata ia lolos, dan teryata ia korupsi atau sering mbolos, gimana?

Itu urusan dia dengan Tuhan. Urusan kita sebagai rakyat hanyalah berusaha. Dan itu yang sudah kita lakukan. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Jangan pilih mantan koruptor

Banyak caleg mantan koruptor. Dan tugas kita yang selemah-lemahnya iman adalah berusaha untuk tidak mencoblos mereka.

Bawaslu beberapa waktu yang lalu sudah mengedarkan daftar nama caleg mantan koruptor dari level DPR-RI sampai DPRD Kota-Kabupaten. Silakan dicari, dan tandai, siapa saja caleg mantan koruptor yang sesuai dengan dapil Anda.

Kalau sudah tahu siapa saja, tandai, lalu pilih caleg siapa saja, pokoknya selain dia.