Site icon Mojok.co

Soe Tjen Marching dan Propaganda Orde Baru yang Mulai Ia Pertanyakan

Soe Tjen Marching dan Propaganda Orde Baru yang Mulai Ia Pertanyakan

Kalau sejak kecil terus-menerus diberi tahu bahwa sesuatu itu jahat, lama-lama kita mungkin akan percaya begitu saja. Apalagi kalau yang mengatakan adalah buku pelajaran, film, televisi, dan lingkungan sekitar.

Soe Tjen Marching mengalaminya sendiri ketika tumbuh pada masa Orde Baru. Ia mengaku pernah percaya pada berbagai propaganda yang saat itu begitu kuat, mulai dari pandangan terhadap komunisme, posisi perempuan, LGBT, sampai anggapan bahwa orang yang terlalu sering mengkritik pemerintah adalah pengkhianat negara.

Namun, pandangan itu perlahan berubah ketika ia mulai bertanya.

Dulu Percaya, Kemudian Mulai Curiga

Soe Tjen Marching bercerita bahwa dirinya merupakan “anak Orba”. Sejak kecil, ia mendapatkan pendidikan yang banyak dipengaruhi ideologi Orde Baru. Salah satu yang ia ingat adalah menonton film Pengkhianatan G30S/PKI bersama-sama.

Dari sana, ia sempat membenci PKI dan memandang komunisme sebagai sesuatu yang sangat buruk. Ia juga pernah percaya bahwa seorang istri harus mengabdi kepada suami dan menganggap orang yang terlalu sering mengkritik pemerintah sebagai orang yang sedang menjelek-jelekkan negara.

Sampai akhirnya ia mulai mempertanyakan berbagai hal ketika SMA.

Salah satunya muncul ketika ia mendengar ada orang yang bisa dipenjara hanya karena memiliki buku karya Pramoedya Ananta Toer.

“Punya bukunya saja di penjara. Kenapa?” kira-kira begitu pertanyaan yang muncul di kepalanya.

Menurut Soe Tjen Marching, dari situ ia mulai melihat sesuatu yang janggal. Kalau pemerintah merasa berada di pihak yang benar, mengapa sebuah buku dan tulisan saja harus ditakuti?

Pertanyaan sederhana tersebut kemudian membawanya mempertanyakan lebih banyak hal.

Kalau Komunis Begitu Jahat, Kenapa Tidak Dipelajari?

Salah satu propaganda yang kemudian ia bongkar adalah soal komunisme.

Menurut Soe Tjen Marching, pada masa Orde Baru kata “komunis” bisa menjadi label yang sangat menakutkan. Bahkan, seseorang bisa langsung dipandang buruk hanya karena disebut komunis, tanpa orang yang menuduh benar-benar memahami apa itu komunisme.

Ia kemudian mencoba menguji hal tersebut ketika mengajar secara daring pada 2017.

Soe Tjen Marching memberikan sebuah contoh kepada para mahasiswa. Ia menyebutkan sejumlah program yang terdengar cukup masuk akal: perlindungan hak buruh dan petani, upah minimum, pembatasan kesenjangan upah, cuti hamil dan sakit, fasilitas kesehatan yang lebih baik dan terjangkau, serta pendidikan yang mendapat dukungan lebih besar.

Para mahasiswa ditanya apakah mereka mendukung program-program tersebut. Jawabannya hampir semuanya mendukung.

Lalu Soe Tjen Marching mengatakan bahwa program tersebut merupakan visi dan misi PKI.

Suasana langsung berubah. Mereka kaget dan bingung.

Di situlah pertanyaannya menjadi menarik. Kalau programnya dianggap baik, tetapi begitu disebut sebagai program PKI tiba-tiba menjadi sesuatu yang harus ditolak, sebenarnya mereka sedang menolak apa?

Soe Tjen Marching kemudian mempertanyakan kembali: mereka benar-benar memahami komunisme dan PKI, atau sekadar mengulang narasi yang selama ini mereka dengar?

Soe Tjen Marching dan Kritik Pemerintah

Dari pengalaman tersebut, Soe Tjen Marching juga melihat bagaimana kritik terhadap pemerintah kerap dibenturkan dengan kecintaan kepada negara.

Padahal, menurutnya, negara bukan milik pemerintah. Negara juga milik rakyat.

Karena itu, ketika pemerintah melakukan sesuatu yang dianggap keliru lalu masyarakat mengkritiknya, kritik tersebut tidak otomatis berarti membenci negara. Justru menurut Soe Tjen Marching, mengkritik pemerintah yang dianggap ngawur bisa menjadi bentuk kepedulian terhadap negara.

Mungkin memang di situlah propaganda paling mudah bekerja: ketika kita terlalu lama menerima sebuah narasi, kita lupa bertanya dari mana narasi itu berasal dan apakah masuk akal.

Pengalaman Soe Tjen Marching menunjukkan bahwa keluar dari propaganda tidak selalu dimulai dengan menemukan jawaban baru. Kadang-kadang, semuanya justru dimulai dari pertanyaan sederhana.

“Kenapa?”

Karena begitu pertanyaan itu muncul, sesuatu yang selama ini dianggap benar mau tidak mau harus mulai diperiksa lagi.

Exit mobile version