Site icon Mojok.co

Reset Indonesia dan Kegelisahan soal Ruang Publik

Reset Indonesia dan Kegelisahan soal Ruang Publik

Kalau urusan politik selama ini terasa jauh dari kehidupan sehari-hari, mungkin salah satu masalahnya memang ada di jarak. Jarak antara masyarakat dan partai politik, jarak antara persoalan di daerah dan pembicaraan di tingkat nasional, sampai jarak antara orang biasa dengan keputusan yang dibuat atas nama mereka.

Persoalan itu menjadi salah satu pembahasan dalam diskusi buku RESET INDONESIA bersama Farid Gaban dan sejumlah pembicara. Buku tersebut tidak hanya menawarkan kritik, tetapi juga membuka ruang untuk memperdebatkan berbagai kemungkinan tentang bagaimana demokrasi seharusnya berjalan.

Reset Indonesia dan Ruang Publik

Salah satu gagasan yang muncul adalah pentingnya ruang publik yang terbuka. Uceng, salah satu pembicara dalam diskusi, melihat RESET INDONESIA sebagai upaya membuka ruang tersebut agar berbagai gagasan bisa diperdebatkan.

Menurutnya, isi buku tidak harus dianggap sebagai kebenaran yang tidak boleh dibantah. Justru sebaliknya, gagasan tentang pertumbuhan ekonomi, degrowth, federalisme, hingga bentuk demokrasi perlu dibawa ke ruang publik untuk dibicarakan dan diuji bersama.

Dari situ, pembicaraan kemudian mengarah pada satu persoalan yang lebih dekat dengan sistem politik: partai.

Farid Gaban menilai ada jarak yang cukup jauh antara pemilih dan partai politik. Masyarakat memang bisa memilih presiden, tetapi pilihan mengenai siapa saja yang bisa maju sebagai calon presiden lebih banyak ditentukan oleh partai. Karena itu, menurut Farid, perlu ada cara lain untuk membuat partai lebih dekat dengan masyarakat.

Partai dari Daerah

Salah satu gagasan yang ditawarkan dalam RESET INDONESIA adalah keberadaan partai lokal.

Farid menjelaskan bahwa partai lokal bisa dibangun dari tingkat paling bawah. Tidak harus langsung mengejar panggung nasional, tetapi terlebih dahulu dekat dengan masyarakat dan persoalan yang mereka hadapi.

Baginya, persoalan seperti air, sampah, dan berbagai kebutuhan sehari-hari sebenarnya juga merupakan persoalan politik. Karena itu, semakin dekat masyarakat dengan organisasi politiknya, semakin besar pula peluang aspirasi tersebut tersalurkan.

Gagasan tersebut juga berkaitan dengan pendidikan politik. Farid membayangkan partai lokal bukan hanya sebagai kendaraan untuk mengikuti pemilu, tetapi juga sebagai ruang bagi masyarakat untuk belajar memahami persoalan politik.

Pembicaraan tentang partai lokal kemudian membawa satu persoalan lain: isu daerah yang sering kalah oleh isu nasional. Dalam diskusi, Dandhy Laksono mencontohkan bagaimana persoalan lokal bisa tenggelam ketika perhatian publik tersedot oleh pemilihan presiden dan tokoh-tokoh nasional.

Pada akhirnya, gagasan partai lokal dalam RESET INDONESIA memang belum berhenti sebagai jawaban yang selesai. Justru itu yang ingin dibuka lewat buku ini: ruang untuk bertanya, berdebat, dan membayangkan bentuk demokrasi yang mungkin lebih dekat dengan masyarakat.

Sebab, dalam urusan demokrasi, barangkali yang lebih berbahaya bukan ketika sebuah gagasan diperdebatkan, melainkan ketika ruang untuk memperdebatkannya sudah tidak tersedia.

Exit mobile version