Site icon Mojok.co

Faris KiriminAja: Cari Uang dari Network sampai Membangun Bisnis

Faris KiriminAja: Cari Uang dari Network sampai Membangun Bisnis

KiriminAja tidak lahir begitu saja sebagai sebuah bisnis. Buat sebagian orang, mencari uang mungkin dimulai setelah lulus kuliah. Faris justru sudah memikirkannya sejak SMA. Bukan karena punya ambisi menjadi pengusaha sejak muda, melainkan karena uang bulanan dari orang tua tidak cukup untuk membiayai hobinya nge-band.

Dari kebutuhan sederhana itu, Faris mulai mencari cara mendapatkan penghasilan tambahan. Ia membuat event organizer di sekolah, menghubungkan band dengan sekolah yang membutuhkan hiburan, sekaligus mencari sound system untuk acara. Dari situ ia menemukan satu hal yang kemudian terus terbawa dalam perjalanan bisnisnya: network bisa menjadi modal.

Hal tersebut ia ceritakan dalam podcast Ngomongin Duit. Faris merupakan founder dan CEO KiriminAja, layanan agregator ekspedisi yang ia bangun pada 2020, saat pandemi.

Dari Makelar Jadi Bisnis KiriminAja

Jauh sebelum membangun KiriminAja, Faris sudah menemukan cara menghasilkan uang dengan menjadi “makelar”. Bukan makelar dalam pengertian yang selama ini mungkin ada di kepala, melainkan menghubungkan dua pihak yang sama-sama membutuhkan.

Pengalaman itu ternyata berguna ketika ia melihat persoalan para seller online saat pandemi. Banyak penjual menggunakan sistem COD, tetapi harus menunggu uang dari ekspedisi hingga 14–21 hari setelah barang diterima pembeli. Sementara itu, barang sudah keluar dan stok harus terus berputar.

KiriminAja kemudian hadir dengan solusi berupa talangan COD. Pada tahun pertama, transaksi COD yang diputar mencapai sekitar Rp50 miliar, dengan kebutuhan modal talangan sekitar Rp2 miliar.

Untuk mendapatkan modal tersebut, Faris tidak mengandalkan aset pribadi. Ia mengandalkan kepercayaan dari network yang sudah dibangun sejak lama.

“Ketika ngomongin high capital, yang paling penting adalah kepercayaan,” ujarnya.

Uang Dipinjam, Uang Harus Kembali

Pengalaman membangun bisnis juga membuat Faris belajar membedakan uang pribadi dan uang perusahaan. Ia mengaku dulu pernah mencampur keduanya, terutama dalam bisnis-bisnis sebelum KiriminAja yang akhirnya gagal.

Kini, ia memisahkan dirinya sebagai CEO dan pemegang saham. Sebagai CEO, ia menerima gaji. Sebagai pemilik, ia mendapatkan keuntungan dari dividen atau kenaikan nilai saham.

Menurut Faris, uang pinjaman juga harus digunakan untuk sesuatu yang bisa menghasilkan uang kembali. Ia lebih memilih menggunakannya untuk inventory atau aset yang dapat dijual kembali, bukan untuk membayar kebutuhan operasional yang uangnya langsung habis.

Soal investasi pribadi pun ia tidak terpaku pada angka tertentu. Tidak ada kewajiban harus menyisihkan 10 atau 20 persen setiap bulan. Menurutnya, besarnya investasi menyesuaikan kebutuhan.

Yang penting, investasi tetap dilakukan.

Dan kalau ada satu pesan yang paling ingin ia tinggalkan soal uang, Faris tidak menyebut angka, saham, atau aset. Ia justru kembali pada hal yang sudah ia temukan sejak SMA: perbanyak network dan jaga kepercayaan.

Exit mobile version