Ketika bicara soal perlawanan, yang paling sering muncul mungkin demonstrasi. Padahal, ada bentuk perlawanan lain yang tidak kalah penting dan justru pernah punya sejarah panjang di Indonesia: mogok.
Hal tersebut dibahas dalam diskusi yang menghadirkan Zainal Arifin Mochtar. Ia menjelaskan bahwa dalam sejarah, masyarakat sipil memiliki dua bentuk perlawanan, kekerasan dan nonkekerasan. Salah satu bentuk nonkekerasan yang mulai jarang dibicarakan adalah mogok.
Jogja dan Sejarah Mogok
Menurut Zainal Arifin Mochtar, mogok sebenarnya punya hubungan kuat dengan sejarah Jogja. Ia menyebut Suryopranoto sebagai “Raja Mogok Jogja”, seorang bangsawan dari Pura Pakualaman yang memilih tidak mengabdi kepada pemerintah setelah sebelumnya pernah bekerja sebagai amtenar.
Suryopranoto bahkan pernah menulis tentang perkumpulan dan perserikatan. Baginya, kemampuan masyarakat untuk berkumpul dan berserikat merupakan dasar penting dalam melakukan perlawanan.
Mogok sendiri tidak selalu harus dilakukan dengan turun ke jalan. Ada pula bentuknya dengan cara berhenti melakukan sesuatu. Zainal Arifin Mochtar memberi contoh gerakan Samin yang memilih tidak melakukan apa-apa sebagai bentuk penolakan.
Bahkan, menurutnya, aksi mogok pernah dilakukan oleh anak-anak sekolah. Mereka memilih tidak belajar sebagai bentuk ketidaksetujuan terhadap sesuatu.
Perlawanan Butuh Persiapan
Selain kemampuan berkumpul dan berserikat, Surya Pranoto juga menekankan pentingnya kemampuan menghadapi persoalan hukum. Sebab, ketika sebuah perkumpulan melakukan aksi atau mogok, ada kemungkinan mereka harus berhadapan dengan pengadilan.
Dari sini, perlawanan tidak hanya soal keberanian turun ke jalan. Ada kemampuan untuk berkumpul, membangun organisasi, memahami persoalan hukum, dan bergerak bersama.
Mungkin itu sebabnya mogok layak kembali dibicarakan. Bukan karena semua persoalan harus diselesaikan dengan hal itu, tetapi karena sejarah menunjukkan bahwa masyarakat punya lebih banyak cara untuk menyampaikan penolakan daripada sekadar demonstrasi.
Dan ternyata, salah satu contohnya pernah tumbuh dari Jogja.
