Site icon Mojok.co

Jadi Ibu di Kondisi Hari Ini Memang Tidak Mudah, tapi Harus Tetap Berisik

Jadi Ibu di Kondisi Hari Ini Memang Tidak Mudah, tapi Harus Tetap Berisik

Menjadi ibu sudah cukup repot tanpa harus ditambah urusan negara yang ikut bikin pusing. Uang belanja berkurang, kebutuhan keluarga makin banyak, sementara berbagai persoalan ekonomi dan kebijakan pemerintah ikut terasa sampai ke kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam sebuah diskusi tentang “Beratnya Jadi Ibu di Negara Gagal” bersama Gernata Titi dari Ibu Berisik dan Kalismardiasi, aktivis perempuan. Keduanya berbicara tentang dampak kondisi ekonomi terhadap keluarga, alasan ibu-ibu memilih untuk bergerak, sampai cara tetap waras ketika setiap hari rasanya ada saja masalah.

Ketika Masalah Negara Masuk ke Urusan Dapur

Menurut Gernata, dampak kondisi ekonomi paling mudah terlihat dari urusan yang sangat sehari-hari: uang belanja.

Penghasilan berkurang membuat keluarga harus mengatur ulang pengeluaran agar tetap cukup sampai akhir bulan. Ia mencontohkan seorang pekerja bank yang sebelumnya mendapat bonus dari target kredit. Ketika kondisi ekonomi membuat orang semakin sulit mengambil kredit, bonus yang dulu menjadi tambahan penghasilan ikut hilang.

Bagi keluarga, persoalannya bukan lagi sekadar soal angka di rekening. Keputusan untuk menikah atau memiliki anak pun bisa ikut dipikirkan ulang karena kondisi ekonomi yang tidak pasti.

Dampaknya bahkan bisa merembet lebih jauh. Dalam diskusi tersebut, Kalismardiasi menggambarkan kondisi keluarga yang terjebak dalam berbagai masalah sekaligus: ayah kehilangan pekerjaan lalu terjerat judi online, ibu menggunakan pinjaman online untuk bertahan, sementara anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gim karena minimnya ruang aman dan alternatif pendidikan.

Ada pula cerita tentang layanan bagi korban kekerasan yang ikut terdampak pemangkasan anggaran. Dalam situasi tertentu, pendamping bahkan harus mengandalkan urunan untuk membantu korban mendapatkan kebutuhan seperti rumah aman, biaya sekolah anak, hingga operasional pendampingan.

Kenapa Ibu-Ibu Memilih Berisik?

Persoalan ekonomi memang dirasakan banyak orang. Namun, dalam diskusi tersebut muncul pertanyaan: mengapa kemudian banyak ibu yang memilih turun dan bersuara?

Bagi Kalis, salah satu alasannya adalah karena ibu-ibu memiliki pengalaman langsung berhadapan dengan persoalan sehari-hari. Sementara Gernata melihat gerakan itu sebagai bentuk berbagi peran. Ketika suami bekerja mencari penghasilan, ia memilih membantu dengan caranya sendiri: ikut demonstrasi dan membuat suara mereka terdengar.

Gerakan tersebut kemudian tidak hanya dilakukan lewat demonstrasi. Ibu Berisik, misalnya, membuat konten pendek di media sosial agar keresahan yang mereka rasakan tidak berhenti sebagai keluhan pribadi. Mereka ingin menunjukkan bahwa persoalan tersebut juga dirasakan orang lain.

Melawan Tidak Harus Selalu Turun ke Jalan

Buat orang yang baru mulai peduli terhadap isu sosial, demonstrasi mungkin terlihat seperti satu-satunya cara untuk bergerak. Padahal, menurut Kalis, bentuk gerakan bisa bermacam-macam.

Salah satunya adalah menggunakan apa yang ia sebut sebagai “daulat uang receh”. Uang yang dimiliki sehari-hari tetap punya pilihan untuk dibelanjakan ke mana. Misalnya, memilih membeli kebutuhan di warung kecil atau usaha warga sekitar daripada sekadar mengikuti pola konsumsi yang sudah biasa.

Yang tidak kalah penting adalah mencari teman. Ketika seseorang mulai merasa sendirian karena berbeda pandangan dengan lingkungan sekitarnya, keberadaan kelompok kecil untuk berdiskusi bisa membuat perjuangan terasa lebih ringan. Bahkan grup WhatsApp berisi beberapa orang pun dianggap cukup untuk saling mengecek keadaan dan memastikan tidak ada yang menghadapi semuanya sendirian.

Pada akhirnya, menjadi ibu di tengah kondisi yang serba sulit bukan cuma soal bagaimana mengatur uang belanja atau mengurus anak. Ada persoalan yang lebih besar di luar rumah yang ikut menentukan bagaimana sebuah keluarga bisa bertahan.

Dan ketika masalah itu semakin terasa dekat, sebagian ibu memilih tidak hanya mengeluh di dapur. Mereka keluar, menulis, membuat konten, mengorganisir teman, sampai ikut demonstrasi.

Sebab, seperti pesan yang muncul di akhir diskusi, menjaga teman dan memperhatikan orang-orang di sekitar juga bagian dari perjuangan. Kalau mau berisik, barangkali tidak harus sendirian.

Exit mobile version