Zainudin Amali Mengundurkan Diri dari Menpora: Kenapa Nggak dari Dulu?  

Zainudin Amali Mengundurkan Diri dari Menpora: Kenapa Nggak dari Dulu?  

Zainudin Amali Mengundurkan Diri dari Menpora: Kenapa Nggak dari Dulu? (Pixabay.com)

Seperti yang sudah-sudah, Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI selalu saja penuh drama. Mulai dari pencalonan para ketua umum, pencalonan wakil ketua umum, hingga pemilihan para EXCO. Semuanya penuh drama, semuanya penuh agenda politik, dan semuanya sama saja, sama-sama tak memberikan banyak perubahan. Dan satu nama yang mungkin jadi sorotan adalah Menpora Zainudin Amali, yang sudah resmi menjabat sebagai Waketum PSSI rezim Erick Thohir.a

Kita mungkin sudah tahu bahwa Zainudin Amali ini bukan nama yang cukup akrab di dunia sepak bola. Sejauh kita mengikuti skena sepak bola nasional yang busuk ini, nama beliau sepertinya tak pernah berada di kubangan sepak bola nasional. Entah menjadi pemilik klub, manajer klub, atau pengurus klub. Di dunia sepak bola lokal, kiprahnya mungkin mentok hanya sebagai Menpora.

Tiba-tiba maju jadi calon waketum PSSI

Lalu, entah ada angin apa, orang ini dengan penuh percaya diri maju sebagai calon Waketum PSSI, dan terpilih pula. Terpilihnya juga penuh dengan drama. Setelah melalui pemilihan ulang, Sosok Ratu Tisha seharusnya jadi Waketum 1 karena menang perolehan suara. Sementara itu, Yunus Nusi seharusnya menjadi Waketum 2, dan Zainudin Amali tersingkir. Namun, mundurnya Yunus Nusi membuat Zainudin Amali naik menjadi Waketum. Zainudin Amali harusnya jadi Waketum 2, tapi entah ada “angin” apa, dia tiba-tiba jadi Waketum 1 dan Ratu Tisha jadi Waketum 2.

Terlepas dari drama murahan yang terjadi di KLB PSSI, menilik bagaimana pergerakan Zainudin Amali ini menarik. Setelah resmi menjadi Waketum PSSI, beliau akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai Menpora. Beberapa hari lalu, beliau sudah mengirimkan surat pengunduran dirinya kepada Kementerian Sekretariat Negara.

Meski sudah menyerahkan surat pengunduran diri, pihak Istana memang belum memberikan rilis resmi terkait ini. Zainudin Amali juga belum bertemu Presiden Jokowi untuk berpamitan dari kabinet. Dalam beberapa hari ke depan, status beliau memang masih sebagai Menpora. Tapi satu yang pasti, beliau sudah hampir pasti mundur dari posisinya sebagai Menpora.

Satu pertanyaan muncul terkait mundurnya Zainudin Amali dari kursi Menpora. Kok nggak mundur dari dulu aja, Pak? Bukannya kinerja Bapak ini memang jauh dari kata memuaskan dan bisa dibilang buruk, ya? Kok mundurnya baru sekarang ketika sudah menjabat sebagai Waketum PSSI?

Insiden Thomas Cup 2020

Begini. Mari kita coba tengok ke belakang terkait buruknya kinerja Menpora. Setidaknya dua peristiwa saja cukup untuk membuat Zainudin Amali seharusnya mundur dari kursi Menpora sejak dulu.

Pertama, adalah peristiwa gagalnya bendera Indonesia berkibar di ajang Thomas Cup 2020. Tim Indonesia yang menjuarai Thomas Cup 2020 setelah mengalahkan Tim Tiongkok, gagal mengibarkan bendera Indonesia ketika perayaan juara. Ini diakibatkan oleh adanya sanksi dari badan anti doping dunia, The World Anti-Doping Code (WADA). Ini adalah imbas dari Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI) yang tidak memberikan laporan kepada WADA tepat pada waktunya.

Ini tentu membuat publik geram. Bayangkan saja, penantian panjang Indonesia dalam meraih gelar Thomas Cup harus ternodai dengan kasus ini. Menpora tentu menjadi salah satu orang yang disalahkan. Bagaimana tidak, Kementerian Pemuda dan Olahraga yang seharusnya menjadi penanggung jawab hal ini malah terkesan abai dan banyak berdalih ini itu.

Desakan untuk mundur terus bergema, khususnya di media sosial. Apakah Menpora langsung mundur sebagai bentuk tanggung jawab? Tentu saja tidak. Sekarang sanksinya memang sudah dicabut, tapi kegeraman publik jelas masih ada.

Masih ingat Tragedi Kanjuruhan, Zainudin Amali?

Peristiwa kedua adalah Tragedi Kanjuruhan. Ini adalah tragedi yang memilukan yang sayangnya belum tuntas hingga saat ini. Sebenarnya ada banyak yang dimintai tanggung jawab atas tragedi ini. PSSI dan PT. LIB tentu menjadi yang utama. Selain itu, aparat kepolisian yang menembakkan gas air mata juga dimintai pertanggungjawaban. Satu lagi, yaitu Menpora.

Mengapa Menpora, ya sebab Menpora gagal memberikan ketegasan atas kasus ini. Ini kasus kemanusiaan, kejahatan tingkat tinggi dengan korban lebih dari 135 jiwa. Ketegasan Menpora sebagai Kementerian yang menaungi semua kegiatan olahraga tentu dibutuhkan untuk mengusut tuntas. Apakah itu dilakukan oleh Menpora? Tentu saja tidak. Menpora malah terkesan abai dan seperti tak peduli dengan Tragedi Kanjuruhan. Tidak ada aksi nyata hingga detik ini.

Desakan untuk mundur lagi-lagi bergema. Semua yang bertanggung jawab atas Tragedi Kanjuruhan termasuk Menpora lagi-lagi didesak untuk mundur. Dan siklusnya terulang. Apakah Menpora lalu mundur sebagai bentuk tanggung jawab? Lagi-lagi tidak. Sudah tahu tidak becus dalam menangani kejadian seperti ini, malah ditambah tidak tahu diri. Lengkap sudah.

Dua peristiwa ini sebenarnya sudah cukup untuk membuat Zainudin Amali mundur dari kursi Menpora. Bahkan, ketika namanya muncul sebagai calon Waketum PSSI, dia juga tidak memutuskan untuk mundur. Keputusan mundurnya malah muncul ketika dia sudah resmi menjadi Waketum PSSI. Kenapa, Pak? Takut kehilangan jabatan, ya? Gitu amat jadi orang.

Menpora yang tak pernah beres

Lagian, posisi Menpora kita selama ini itu pelik banget, nggak ada yang beres. Namanya aja Kementerian Pemuda dan Olahraga. Tapi yang memimpin malah jarang banget orang yang benar-benar muda (atau setidaknya berjiwa muda) dan ngerti olahraga. Kalau pun ada yang agak ngerti olahraga dan cukup muda, eh dia malah korupsi. Hadeeuuhh, mumet ndase!!

Tapi ya untung saja Zainudin Amali masih agak sedikit tahu diri, walau telat banget tahu dirinya. Ketika dirinya resmi menjadi Waketum PSSI, beliau langsung mengirimkan surat pengunduran diri ke Istana. Sekarang tinggal kita tunggu saja rilis resmi dari Istana terkait pengunduran diri beliau dari kursi Menpora. Semoga tidak lama prosesnya.

Oh iya, satu lagi. Berhubung sudah memutuskan untuk mundur dari Menpora, mbok ya atasannya di PSSI itu juga disuruh mundur dari kursi Menteri BUMN, lah. Nggak etis kalau ada yang rangkap jabatan, apalagi rangkap jabatannya jadi Ketua PSSI dan Menteri. Kesannya kok malah jadi rakus banget gitu. Sekali lagi, tolong buat Zainudin Amali, atasannya di PSSI itu disuruh mundur juga, ya!

Gimana, Pak Erick Thohir? 

Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Guyonan Twitter Partai Gerindra: Usaha Menutupi Luka Hati Prabowo

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Exit mobile version