Yth. Kandidat Pilkada 2020, Hentikan Politik Basa-basi dan Jualan Kaum Milenial

Dinasti Politik Cuma Tema Basi yang Dilempar oleh Calon Kering Imajinasi terminal mojok.co

Dinasti Politik Cuma Tema Basi yang Dilempar oleh Calon Kering Imajinasi terminal mojok.co

Bisakah kandidat pemenang pilkada 2020 kelak, membantu memecahkan cicilan KPR dan rekening kaum milenial yang sudah kosong di tengah bulan? Jika berani, mari ngopi dan tinggalkan politik basa-basi yang usang. Kami, “kaum milenial” siap terlibat dalam politik baru yang mencerahkan.

Pertanyaan sekaligus tawaran ini, saya ajukan secara terbuka kepada siapa pun kandidat yang maju di pilkada 2020. Tawaran yang menurut saya (secara usia saya masih kategori milenial) konkret sebagai persoalan kaum milenial. Setidaknya dari pengalaman saya dan curhatan-curhatan teman sesama kaum milenial di pojok warung kopi, saya memahami beberapa hal. Ya, bahwa beratnya cicilan KPR dan rekening yang sering kering kerontang sebelum tutup bulan, cukup memusingkan kepala kami.

Terasa menyebalkan ketika ada politisi di pilkada 2020 yang obral janji. Bahkan menjadikan milenial sebagai komoditas bahan kampanyenya. Lantas amnesia begitu dilantik menjadi penguasa.

“Milenial, kok transaksional. Pesimistis dan nggak menawarkan gagasan.” ujar seorang kawan menanggapi ucapan saya melalui media sosial.

Benar, benar, sekali. Ini transaksional. Mungkin juga pesimistis. Tapi, tidak pula basa-basi gimik politisi. Mereka biasanya bilang, politik itu tanpa mahar, politik gagasan, politik dengan visi-misi, dan lain-lain. Yang begini ini justru sudah gimik, ujungnya, bagi-bagi remah kue kekuasaan.

Maka, tidak pula mengherankan jika iklan kampanye kandidat di pilkada 2020 layaknya casting sinetron Indosiar. Ditambah meme-meme foto plus kutipan motivasional untuk memaksakan si kandidat tampak lebih muda. Ada yang (berpura-pura) berubah menjadi milenial dengan mengubah penampilan secara artifisial. Ada yang mengajak sanak famili, kerabat, dan kolega untuk turut memeriahkan dan memberi dukungan. Bahkan bayar endorsement artis, selebgram-selebtwit-seleb facebook.

Singkatnya, kandidat sampai tim pendukung calon kepala daerah nggak mau kalah melabeli diri sebagai yang paling dekat dengan milenial.

Saya pinjam celotehan teman saya, Fatih Zam di status Facebooknya. “Di kotaku sedang musim pilkada. Macam-macam ujarannya. Saatnya milenial blablabla, tanpa mengerti milenial itu apa dan seperti apa yang ingin diperlakukan. Pula ucapan, semua hal ditentukan oleh politik, maka jangan berpangku tangan. Tapi ujarannya mendangkalkan laut politik sekadar kontestasi, poles janji, dukung mendukung, dan setelahnya bagi-bagi.”

Ucapan ini mengingatkan saya pada pemeo lawas, “Hidup dimulai di usia 40 tahun.” Dan kali ini saya modifikasi tambahan baru “Tapi, dalam politik, kami semua milenial.” Maka lihatlah berlakunya kembali pemeo lawas itu pada pilkada 2020.

***

Sudah cukup untuk berbasa-basi. Apalagi, jika menjadikan milenial sebagai komoditas bahan kampanye di baliho. Terkesan elok sebagai citra, tapi tidak sebagai fakta. Sebalnya lagi, baliho itu dipasang tanpa mengindahkan tata letak keindahan. Mulai di pohon-pohon, tiang-tiang listrik, dan pengkolan jalan sampai tanah lapang pemakaman. Ah, mungkin politisi juga korban reality show Dunia Lain yang ingin para pemburu hantu juga mengenal mereka.

Boleh saja baliho-baliho kampanye artifisial itu dipasang untuk menyemarakkan kampanye. Tapi, selain memperhatikan tata letak keindahan, yang penting nantinya kompatibel dengan pelaksanaan program kerja nyata, Bos. Tidak halu, agar sesuai pesan Pak Jokowi, “Kerja, kerja, dan kerja.” Eh, tapi kok malah dikerjain. Maaf keceplosan.

Tapi, bukankah faktanya begitu? Presiden punya stafsus milenial, meski belum terdengar kerjanya apa. Kecuali, saat rame-ramenya surat cinta Andre Taufan Garuda Putra (salah satu stafsus milenial) kepada camat-camat untuk melibatkan perusahaannya dalam penanganan pandemi Covid-19. Saya tak perlu panjang lebar, toh doi juga sudah menjadi mantan.

Apalagi ada masalah yang tak kalah krusial bagi kelompok milenial kebanyakan, yang masih kesulitan membeli rumah karena mahalnya tanah-tanah di perkotaan. Mungkin saya sendiri sedikit beruntung. Saya tinggal di kota kecil yang masih ada program rumah bersubsidi, meski harus mencicil 10 sampai 20 tahun, okelah. Tapi, mereka yang tinggal di perkotaan? Silakan survei saja, sebagaimana Anda (para kandidat pilkada 2020) melakukan survei popularitas dan elektabilitas.

Sistem kerja yang fluktuatif turut menjadi faktor penyebab milenial terus berpindah-pindah pekerjaan dan menerima upah pas-pasan, khususnya di sektor buruh. Inilah problem struktural yang butuh obat penyembuhnya tanpa politik basa-basi.

Politik basa-basi yang mengobral janji untuk menggaet milenial adalah kata-kata yang memuakkan untuk kami dengar. Lagi pula, milenial tak butuh bujuk rayu palsu itu. Yang kami butuhkan, para kandidat pilkada 2020 punya jurus jitu sebagai solusi persoalan yang menurut saya klasik sekaligus sistemik.

“Ah, itu kan itu cuma kamu saja, milenial yang malas, apatis, dan pesimistis.” Seru seorang kawan menyanggah lagi. Ia kemudian membandingkan saya dengan sosok semacam Adamas Belva Syah Devara, dan Andi Taufan Garuda Putra yang pernah jadi stafsus. Termasuk Angela Tanoesoedibjo, Putri Indahsari Tanjung, hingga Gibran Rakabuming Raka, dan sosok-sosok milenial yang konon sukses merintis dunia usaha lalu melenggang ke gelanggang politik. 

Ya, perbandingan kawan saya mungkin itu tidak salah, tapi juga tidak benar. Pertanyaannya, apakah sosok seperti mereka itu cukup representatif dalam mewakili milenial yang konon jumlahnya sekitar 34% dari total penduduk Indonesia? 

Ditambah lagi, mereka mendapat privilese sejak lahir. Dapat fasilitas pendidikan dari bapaknya yang sudah menguasai korporasi bisnis. Milenial lain yang kurang beruntung bisa apa? Tentu cuma bisa browsing profil mereka melalui Wikipedia dan meratapi betapa hidup tidak adil. 

***

Milenial memang idealnya tidak boleh pesimistis. Harus optimistis! Mungkin inilah kesialan saya, yang pernah kena doktrin senior kampus untuk membaca Beyond Good and Evil, Friedrich Wilhelm Nietzsche. Buku yang bikin pusing kepala sekaligus menumbuhkan jiwa pesimistis saat melihat perilaku politik gincu yang mengebiri lompatan kemajuan.

Di satu sisi, dunia telah memberikan kegemerlapan yang mengasyikan ala TikTok, YouTube, dan medsos lain. Lah sedangkan saya kok masih bicara buku yang memusingkan? Sampai-sampai lupa, ruang hiburan itu pun mulai disusupi para politisi dan buzzer buat mengampanyekan politik basa-basi dalam jargon rayuan pada kelompok milenial.

Saya tahu Anda (para kandidat pilkada 2020) sedang berpikir dan bekerja keras menggaet suara kelompok milenial. Begitu juga saya yang sedang berpikir dan bekerja keras mencari jalan keluar setelah ada pesan pemberitahuan, bahwa cicilan KPR sudah jatuh tempo, sementara rekening kering kerontang.

Sekali lagi, hentikan politik basa-basi yang isinya jualan kaum milenial. Kami siap terlibat, tapi seiring bukan digiring. Ayo ngopi! 

BACA JUGA Suka Duka Saya Ketika Menjadi Fans DPR RI. Biasmu Siapa, Hyung?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Exit mobile version