Yamaha Vega Force: Takhta Tertinggi Motor Entry Level yang Tak Boleh Dilewatkan

Yamaha Vega Force: Takhta Tertinggi Motor Entry Level yang Tak Boleh Dilewatkan

Yamaha Vega Force: Takhta Tertinggi Motor Entry Level yang Tak Boleh Dilewatkan (Unsplash)

Bodinya yang ramping menyelinap lincah di sela kemacetan. Garis desainnya yang tegas, tampak tajam saat membelah jalanan. Tidak ada kesan ringkih, hanya siluet atletis yang terlihat tangguh di atas aspal. Di antara banjir motor matik yang makin bongsor, sosoknya sukses mencuri perhatian. Dia adalah Yamaha Vega Force.

Sebelum puputan atau ganti nama jadi Vega Force, motor keluaran Yamaha ini bernama Yamaha Vega. Lahir di penghujung milenium pada 1999, Yamaha Vega menduduki puncak kejayaan pada era Vega R di tahun 2006. Kala itu, Yamaha Vega R jadi kecintaan karena mesinnya yang badak dan konsumsi bahan bakarnya yang irit.

Sekarang, lewat Vega Force, ia bertransformasi jadi lebih pintar dengan teknologi injeksi. Dan perubahan tersebut justru semakin menguatkan Yamaha Vega Force sebagai takhta tertinggi motor entry level yang tak boleh dilewatkan.

Apa itu motor entry level?

Banyak orang mengira, entry level merujuk pada motor murahan. Padahal, maksudnya bukan itu. Dalam dunia otomotif, entry level adalah kategori kendaraan yang dirancang sebagai pintu masuk bagi konsumen baru. Ia adalah gerbang pertama sebelum seseorang naik kelas ke motor yang lebih besar atau lebih mahal. Nah, namanya saja gerbang pertama, maka, haruslah sesuatu yang menarik, menyenangkan dan nggak bikin trauma. Dan Yamaha Vega Force memiliki semua kriteria tersebut.

Menarik, karena Yamaha Vega Force punya desain yang jauh dari kesan jadul. Pilihan warnanya berani dan stylish. Ada black yellow, ada black red. Paduan grafis atau stiker dengan aksen warna cerah yang tajam membuat motor ini tidak terlihat membosankan. Seolah, Vega Force ini sengaja ingin menghapus kesan “motor bapak-bapak”, yang dulu kadung melekat.

Menyenangkan, karena karakter mesin 115cc miliknya sangat responsif. Perpindahan giginya halus, terasa lincah diajak selap-selip, dan sangat stabil saat bermanuver. Singkatnya, mengendarai Yamaha Vega Force tidak perlu effort berlebihan. Doi manut saja ke mana pun setang diarahkan.

Dan nggak bikin trauma, karena urusan konsumsi bahan bakarnya benar-benar irit. Motor ini mampu menempuh jarak hingga lebih dari 60 km hanya dengan satu liter bensin. Biaya perawatannya pun sangat ramah di dompet. Apalagi, Yamaha tetap mempertahankan sistem kampas kopling lembaran konvensional daripada sistem kopling modern yang terkadang lebih kompleks. Ini adalah bukti bahwa Vega Force memang dirancang untuk kerja keras dalam jangka waktu yang sangat lama tanpa banyak drama.

Ada DNA balap di Yamaha Vega Force

Sepintas, melihat Yamaha vega Force mungkin akan membuat kita bertanya-tanya: Apa iya motor ini bisa diajak susah? Maksudnya, apa dia cukup tangguh di segala situasi?

Jawabannya adalah: Iya. Rahasianya ada pada penggunaan Forged Piston. Forged piston adalah piston motor yang dibuat dengan teknik tempa, bukan sekadar dicetak dalam cetakan logam cair. Dengan demikian, piston jadi jauh lebih kuat, tahan panas, dan ringan. Dan kalian tahu? Teknologi ini biasanya hanya ditemukan pada motor-motor sport atau motor balap. Mantap kali, kan?

Itu sebabnya, ketika kamu mengggeber Vega Force untuk menanjak sambil membawa barang belanjaan yang berat, mesinnya tidak akan mudah ngos-ngosan, tidak pula jadi panas berlebih. Ditambah lagi, mesin Yamaha Vega Force ini bertipe overstroke. Artinya, langkah pistonnya lebih panjang dibanding lebarnya. Efeknya apa? Sekali gas, motor langsung berakselerasi tanpa perlu menunggu lama. Gas!!

BACA JUGA: Yamaha Vega ZR, Motor Bebek Paling Merepotkan: Tenaga Loyo, Susah Nyala, Penyakitnya Banyak!

Sisi lain Yamaha Vega Force

Setelah rangkaian puja dan puji, mari kita bedah borok tersembunyi si Yamaha Vega Force ini. Ups, nggak tersembunyi-tersembunyi amat, ding. Malahan, terlihat sekali. Itu loh, fiturnya yang kelewat hemat, kalau tidak mau dibilang pelit. Bayangkan, di saat motor matic lain sudah mulai pakai lampu LED atau panel instrumen digital, Vega Force masih setia dengan lampu bohlam kuning. Hmm, udah cem lampu di kandang anak ayam aja ya, Gaes. Sudahlah lampunya mirip lampu penghangat kendang ayam, spidometernya pun masih setia dengan jarum analog yang masih jauh dari kesan modern. Analog!

Masih ada lagi borok lainnya. Buat kamu yang punya postur badan bongsor mungkin akan merasa sedikit cepat pegal saat perjalanan jauh. Soalnya, dimensi jok Yamaha Vega Force ini tidak terlalu lebar. Sehingga, bokong kamu harus banyak-banyak kompromi. Belum lagi sistem pengereman belakang yang masih menggunakan sistem tromol. Di satu sisi, sistem rem tromol memang membuat perawatannya jadi lebih murah. Tapi soal ‘pakem’, jangan harap sistem tromol ini mampu menyaingi performa rem cakram ganda.

Meski demikian, dengan harganya yang cuma 19 jutaan saja, semua dosa itu tampak remeh dan dimaafkan. Dan tentu, tidak serta merta membuat Yamaha Vega Force ini jadi turun kasta. Mau dibilang apa juga, Yamaha Vega Force tetaplah pemegang takhta tertinggi motor entry level yang tidak boleh dilewatkan. 

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Vega R, Motor Yamaha Paling Bersahaja. Cerminan Hidup Stabil, Hemat, dan Nggak Banyak Drama

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat

Exit mobile version