Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Yamaha V80, Motor Bekas Tua Bangka yang Hampir Bikin Celaka

Budi oleh Budi
25 Juli 2023
A A
Yamaha V80, Motor Bekas Tua Bangka yang Hampir Bikin Celaka (Unsplash)

Yamaha V80, Motor Bekas Tua Bangka yang Hampir Bikin Celaka (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Yamaha V80 1978 adalah motor bekas yang sudah berumur. Namun, ia adalah motor bebek yang tangguh dan kuat. Asalkan nggak dipakai nanjak-nanjak aja. Dan, kalau tetap maksa dikendarai di jalanan menanjak curam, itu namanya nekat dan kamu bisa kualat.

Ebay, teman saya, datang dengan pandangan yang penuh rasa riya saat membawa Yamaha V80 ke rumah saya. Dia baru saja meminang motor bekas tersebut. Biar Honda Scoopy nggak sendirian katanya. “Kan ramai kalau ada motor lain di rumah selain Scoopy. Biar ada teman.”

“Terus istri gimana? Kok ngebolehin beli motor lagi?”

“Dia mah senang-senang aja. Kebetulan juga suka sama motor retro sih. Kemarin pas tak bonceng bilang joknya enak, tebel empuk.” Jawab Ebay.

Yamaha V80, motor bekas dengan jok super nyaman

Nggak salah memang, jika, jok motor jadul terasa empuk. Desain yang simpel berbentuk kotak serta dilapisi busa tebal merata menjadikan siapa saja yang menaikinya bakal bilang hal yang senada. Nyaman!

Desain jok Yamaha V80 memang berbeda dengan motor zaman sekarang. Masalahnya adalah motor zaman sekarang lebih mengedepankan sisi visual dan sporty. Hal ini malah memangkas sisi empuknya jok. Mau tak mau, kenyamanan yang menjadi korban.

“Ayo jalan-jalan ke Rahtawu pakai motor ini!” Celetuk Ebay dengan kepercayaan diri yang pastinya agak kelewatan.

Tapi ya sudah, saya manut saja. “Beliin kopi lho, ya.” Saya setuju.

Baca Juga:

Honda Stylo Motornya Orang Kaya yang Ogah Beli Vespa Matic Overprice, tapi Nggak Level kalau Cuma Naik BeAT atau Scoopy

Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah

Sejujurnya, saya agak skeptis sama Yamaha V80. Saya paham, motor bekas satu ini sangat berjaya pada masanya. Bahkan untuk sekelas motor yang langsung diimpor dalam keadaan utuh, rasanya saya terlalu lancang walau sekadar meragukan ketangguhan kualitas motor Jepang. Tapi, itu kan 45 tahun yang lalu. Sudah pasti ada penurunan performa seiring makin tuanya motor.

Tapi demi kopi gratis, tak apalah. Saya memasrahkan keyakinan ini pada motor bekas Yamaha V80 tahun 1978 dan sang pemilik, Ebay.

Motor bekas yang larinya lambat

Suara khas motor 2-tak terdengar berisik di halaman. Sekali selah langsung nyala. Lumayan sehat untuk motor bekas lansiran 1978. Menurut Ebay, motor V80 miliknya adalah generasi ketiga dari mesin berkode V series. Sebelumnya, di Indonesia, telah ada Yamaha V50M (kapasitas mesin 50cc) tahun 1973 serta Yamaha V75 dengan kapasitas mesin lebih besar 75cc.

“Jadi, motorku ini yang paling muda di antara seri yang lain, mesinnya agak gede, sekitar 80cc. Gimana, mantab, kan?”

“Lumayan,” jawab saya. 

Ebay memanasi mesin motor bekas ini selama satu menit. Setelah itu, dia memuntir grip gas. Bodi Yamaha V80 yang serba kotak bergetar. 

Kami melaju dengan kecepatan tak lebih dari 60 km/jam. Larinya yang agak lambat ditambah suara knalpot khas 2-tak cukup membuat telinga saya budek sebelah. Namun, ada satu hal yang saya suka. Saat belok, bebek jadul ini pada lampu seinnya nggak cuman berkedip tapi ada suara yang turut timbul. Tit-tit-tit-tit-tit, gitu bunyinya. Satu fitur yang bikin notice kalau lampu sein belum dimatikan sehabis belok.

Footstep belakang di swing arm bikin kaki bergetar

Rasanya cukup menyenangkan mengendarai bebek jadul ini melewati persawahan dengan santai. Namun, posisi foot step belakang yang saya injak nempel langsung di swing arm. 

Alhasil, sepanjang jalan, kaki jadi ikutan nggak bisa diam sampai agak tremor. Ngayun terus dari tadi. Rasanya kaki nggak bisa diam selama perjalanan. Dengan jarak tempuh yang menghabiskan waktu 30 menit lebih, cukup membuat kaki kram.

Tiba di gapura Rahtawu

Setelah menghabiskan waktu lebih dari 30 menit dengan kontur jalan yang mendatar, kami sampai di jalan awal menuju daerah Rahtawu. Dari sini jalan mulai menanjak, dan Yamaha V80 yang kami kendarai bisa melewati tanjakan pertama meski mesin lumayan ngeden dari tadi.

Jalan nambah naik tajam. Motor bebek lahiran 78 ini seakan ogah buat lanjut. Namun sang pemilik tetap menyemangati sambil memutar grip gas lebih dalam. “Ayo Ndes, kuat.”

Opsi tiga perpindahan gigi motor bekas ini nggak membantu banyak. Ya mau gimana, gigi persenelingnya cuman tiga doang. Kalau ketemu jalanan yang terlalu ekstrem, ya wasalam. Apalagi motor tua ini tak pakai boncengan.

Ujungnya, motor yang kami naiki nggak sanggup menanjak lebih tinggi. Menyerah di tanjakan kedua. Selain hampir melorot, nahasnya lagi kami mau ditabrak dari belakang. Haduh! 

“Asuuu!” Teriak pengendara di belakang.

Kami menyerah, dan memutuskan untuk putar balik karena nggak mungkin kuat sampai di tempat ngopi. Di saat kayak gitu, Ebay masih kepikiran mbak-mbak warkop. “Haduh, nggak jadi ketemu Mbak-mbak manis.”

“Ingat istri, Ndes.”

Knalpot Yamaha V80 copot

Menjelang sore, kami memutuskan untuk pulang. Apalagi jika melihat tanjakan yang bikin kami melorot bukan yang paling curam di daerah Rahtawu. Agak mustahil kalau tetap maksa buat naik. 

Cukup sudah perjuangan mbahnya motor bekas ini. “Yang penting Yamaha V80 sudah pernah mencoba melibas tanjakan di daerah Rahtawu,” gerutu Ebay. Motor tua plus kapasitas mesin cuman 80cc sudah pasti bukan pilihan tepat dibawa ke daerah yang jalanannya naik turun tajam. Goblok memang.

Yamaha V80 tahun 1978 mulai menyusuri jalan menurun. Jelas dari suara knalpotnya, motor bekas ini tak terengah-engah kayak tadi pas dipakai menanjak. Raungan mesin nggak ngeden lagi. Berbekal engine brake, rem tromol depan belakang serta suspensi depan tipe leading link yang kalau di rem mentul-mentul kami menurun dengan pasti. 

Selewat gapura Rahtawu, Yamaha V80 masih bisa meliuk seakan sudah lupa bahwa tenaga mesinnya terlihat sia-sia di depan tanjakan curam.

Sekitar 50 meter dari gapura tadi, suara aneh terdengar. “Krak!”

“Mesinnya lepas?”

Bukan, itu suara knalpot.

“Sial, knalpotnya copot,” kata Ebay panik.

MAMAM!

Penulis: Budi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Yamaha All New NMAX 155: Bikin Motor kok Nanggung Banget, Nggak Worth untuk Dibeli

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Juli 2023 oleh

Tags: Honda Scoopymotor bekasmotor tua yamahayamahayamaha v80
Budi

Budi

Seorang montir tinggal di Kudus yang juga menekuni dunia kepenulisan sejak 2019, khususnya esai dan fiksi. Paling suka nulis soal otomotif.

ArtikelTerkait

Yamaha Alfa Bukan Motor Gagal meski Kalah Pamor dari F1ZR

Yamaha Alfa Bukan Motor Gagal meski Kalah Pamor dari F1ZR

15 September 2025
Ribut-ribut Pilih Honda Atau Yamaha, Padahal Suzuki Tetap yang Terbaik

Ribut-ribut Honda Atau Yamaha, Padahal yang Terbaik Tetap Suzuki

27 Juli 2023
5 Motor Yamaha yang Sebaiknya Nggak Dibeli, Mending Ngonthel Sekalian

5 Motor Yamaha yang Sebaiknya Nggak Dibeli karena Bikin Kecewa, Mending Ngonthel Sekalian

13 Agustus 2024
Tips Memilih Honda Vario 150 Bekas walau Kilometer Tinggi Terminal Mojok

Tips Memilih Honda Vario 150 Bekas walau Kilometer Tinggi

11 April 2022
Yamaha Vixion: Motor yang Mudah Dicintai, tapi Mudah Juga Ditinggalkan Mojok.co

Yamaha Vixion: Motor yang Mudah Dicintai, tapi Mudah Juga Ditinggalkan

23 Juli 2025
Yamaha Mio 3 Kebiasaan Buruk Pemilik Matik yang Gampang Kambuh. (Unsplash.com) tiara 120 s mio soul karbu

Yamaha Mio: 3 Kebiasaan Buruk Pemilik Matik yang Gampang Kambuh

22 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Kritik untuk Kampus: Menulis Jurnal Itu Harusnya Pilihan, Bukan Paksaan!

19 Maret 2026
Kebumen Aneh, Maksa Merantau tapi Bikin Pengin Pulang (Wikimedia Commons)

Kebumen Itu Memang Aneh: Suka Memaksa Anak Muda untuk Segera Merantau, sekaligus Mengajak Kami untuk Segera Pulang

21 Maret 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026
5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-Mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

17 Maret 2026
Jalan Nasional Purworejo Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA Mojok.co

Jalan Nasional Purworejo-Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA

16 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.