Bayangkan, Yamaha mengeluarkan Yamaha Aerox Alpha, motor yang upgrade-nya bener-bener total. Dan Honda cuma bikin Vario Evo 160, yang nggak ada bedanya sama yang kemarin-kemarin
Dalam dunia otomotif, menurut hemat saya pembaruan model atau generasi sebuah produk motor sering kali diperlakukan begitu-begitu saja. Maksud saya updatenya hanya seputar mengganti desain lampu, menambahkan aksesoris, atau dengan mengubah sedikit bentuk bodi. Jarang ada perubahan yang signifikan dan mengesankan.
Seolah dengan mengubah hal-hal basic tadi, konsumen diajak percaya bahwa kendaraan yang kemarin masih layak dipakai mendadak terasa ketinggalan zaman. Semata hanya karena ada launching terbaru dari motor yang sama.
Tapi kesan itu berubah tatkala saya mencoba membandingkan Yamaha Aerox Alpha dengan Honda Vario Evo 160. Hanya melihat sekelebat saya justru langsung terkesima dengan Yamaha Aerox Alpha. Bukan, bukan berarti Vario Evo 160 tidak layak dipertimbangkan. Tetapi rasa-rasanya Honda memang stagnan, dan tak kepikiran untuk selalu di depan.
Yamaha Aerox Alpha lebih berani menunjukkan karakternya
Yang pertama menarik perhatian saya dari Aerox Alpha adalah desainnya. Yamaha berani membuat karakter skutik sport dengan bodi yang tegas, dual projector LED, dan posisi berkendara yang sporty.
Bahkan Yamaha membawa bahasa desain Super Sport yang terinspirasi dari R1M. Bagi saya, ini jelas membuat Aerox Alpha terlihat seperti motor yang memang ingin menunjukkan identitas, bukan sekadar memperbarui tampilan.
Lain hal dengan Vario Evo 160 yang tentu saja punya pendekatan berbeda. Desainnya memang lebih mudah diterima untuk penggunaan harian dan tetap mempertahankan karakter Vario yang sudah dikenal.
Masalahnya, sebagai orang yang sejak dulu cukup gandrung keras dengan Honda, saya justru berharap Honda sesekali mengambil gebrakan besar terlebih dalam merancang kebaharuan di kelas matic.
Yamaha Aerox Alpha tidak hanya mengandalkan kapasitas mesin
Di atas kertas, Vario Evo 160 memang memiliki mesin 156,9 cc, sedangkan Aerox Alpha menggunakan mesin 155,09 cc dengan teknologi VVA. Jadi, kalau sekadar melihat angka kapasitas mesin, perbedaannya tetap tidak terlalu jauh.
Justru yang membuat Aerox Alpha menarik adalah soal bagaimana Yamaha mengembangkan karakter mesinnya, terutama pada varian TURBO yang sudah menggunakan YECVT dan Y-Shift.
Fitur tersebut memberi pilihan karakter akselerasi yang lebih beragam, sesuatu yang menurut saya menarik bagi pengendara yang tidak hanya menggunakan motor untuk berangkat kerja atau kuliah.
Fitur tambahan yang punya guna
Urusan fitur juga menunjukkan perbedaan keduanya. Aerox Alpha pada varian tertentu sudah menawarkan Y-Connect, TFT infotainment display, navigasi Google Maps, traction control, hingga ABS.
Tentu tidak semua fitur tadi akan terpakai setiap hari. Tetapi beberapa di antaranya memang punya fungsi yang jelas berguna bagi pengendaranya. Meskipun Vario Evo 160 juga tidak kosong-kosong amat.
Honda memberikan pembaruan seperti USB Type-C dan Pop Up Center Hook yang kelewat lebih sederhana tetapi dekat dengan kebutuhan harian. Dalam hal ini, Aerox Alpha menurut saya jauh lebih mencolok. Dan sebagai pengagum Honda, justru di sinilah saya ingin Honda lebih berani bereksperimen. Tulung lah tulung.
Saya hanya ingin Honda tidak lagi nyaman menjadi stagnan
Pada akhirnya, saya tidak sedang mengajak kalian untuk berbondong-bondong membenci atau meninggalkan produk Honda termasuk salah satunya Vario Evo 160 dan pindah ke Aerox Alpha.
Vario atau produk Honda lainnya tetap punya alasan kuat untuk dipilih: desainnya lebih familiar, karakter berkendaranya lebih umum diterima, dan harganya juga berada di bawah Yamaha Aerox Alpha. Artinya, keduanya memang menyasar kebutuhan yang tidak sepenuhnya sama.
Justru karena saya adalah penggemar Honda, saya merasa boleh sedikit maido. Karena Honda punya sejarah panjang menghadirkan motor yang dekat dengan keseharian konsumennya, tetapi kedekatan dengan konsumen jangan sampai membuatnya terlalu nyaman dengan formula yang justru akan membuat boring.
Melihat Yamaha Aerox Alpha, saya malah berharap Honda berani membuat Vario atau produk motor berikutnya dengan perubahan yang membuat penggemarnya berkata, “Nah, ini baru Honda yang benar-benar baru.”
Semoga aja.
Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
