Informasi
ADVERTISEMENT

Nestapa Wisata Mangrove di Desa Bedono Kecamatan Sayung Demak: Kurang Promosi Berujung pada Sepi Pengunjung

Nestapa Wisata Mangrove di Desa Bedono Kecamatan Sayung Demak, Kurang Promosi hingga Sepi Pengunjung

Akses jalan menuju lokasi wisata mangrove lumayan susah

Jujur aja, sebagai orang Demak yang sudah biasa berhadapan dengan jalanan buruk, saya masih sering kewalahan ketika melewati jalanan Bedono. Bisa dikatakan jalanan Bedono—dan bahkan jalan di sekitaran Kecamatan Sayung—memang paling buruk di Kabupaten Demak. Wajar saja, wilayah ini memang jadi langganan diterjang abrasi. Bahkan dilansir dari BBC News Indonesia, selama 20 tahun terakhir, abrasi telah menenggelamkan dua dusun serta membuat lebih dari 250 kepala keluarga (KK) dipindahkan dari sini.

Sementara itu, lokasi wisata mangrove di Desa Bedono berada di ujung desa. Untuk bisa ke sana, kita harus melewati beberapa rintangan seperti jalanan tanah yang terjal dan terik matahari yang menyengat. Bahkan kalau air laut sedang pasang atau turun hujan, jalan di sini jadi sangat berbahaya sebab berubah jadi berlumpur. Pengendara motor yang lewat sini harus ekstra hati-hati biar nggak tergelincir.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sebenarnya jalanannya sudah dicor, sih, tapi baru sebagian saja. Sisanya ya jalan tanah yang mengkhawatirkan.

Kurangnya promosi

Saya pernah mencoba bertanya pada beberapa kawan yang berasal dari Demak mengenai wisata mangrove yang ada di Desa Bedono. Kebanyakan dari mereka nggak tahu mengenai wisata ini. Mereka malah lebih mengenal wajah Bedono dengan segala hiruk pikuk rob daripada wisata mangrovenya.

Kalau boleh saya katakan, wisata satu ini memang dari dulu kurang gencar dalam hal promosi. Maka nggak heran kalau sebagian besar warga Demak nggak begitu tahu. Bahkan destinasi wisata ini nggak punya akun Instagram untuk promosi, apalagi YouTube, TikTok, atau platform media sosial lainnya. Padahal di era sekarang ini promosi lewat media sosial sangat penting, lho, apalagi terkait pariwisata.

Kurang perawatan dan pemeliharaan

Tahun lalu sebelum “resmi” telantar, saya melihat wisata mangrove kurang terawat. Hal ini terlihat dari beberapa spot foto yang kayunya sudah lapuk. Banyak daun kering berguguran di jalur tracking, serta toilet yang nggak dijaga kebersihannya. Padahal perawatan dan pemeliharaan fasilitas di tempat wisata itu sangat penting, lho. Apa lagi tujuannya kalau bukan untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan pengunjung yang datang.

Saya menduga, mungkin karena sepi pengunjung dan kurangnya pemasukan sehingga pihak pengelola kurang memperhatikan perawatan dan pemeliharaan wisata mangrove ini? Entahlah, saya juga nggak tahu.

Itulah setidaknya empat persoalan besar yang dihadapi wisata mangrove Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Saya berharap destinasi wisata satu ini bisa diperbaiki sehingga Desa Bedono tetap bisa menjadi desa wisata. Sayang juga kan kalau dibiarkan telantar.

Penulis: Ahmad Nadlif
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Derita Menjadi Buruh di Sayung Demak.

ADVERTISEMENT

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Juli 2023 oleh .

Ahmad Nadlif

Mas-mas jawa biasa.

Exit mobile version