Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

Mohammad Rafatta Umar oleh Mohammad Rafatta Umar
6 April 2026
A A
Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Berhadapan dengan pengendara yang egois dan tidak taat aturan lalu lintas sangatlah menyebalkan. Ini sudah jadi persoalan klasik di berbagai daerah. Tapi, kalau boleh saya berpendapat, warga Pasar Minggu Jakarta Selatan (Jaksel), bisa jadi orang yang paling pantas menyandang gelar paling nggak taat aturan lalu lintas. 

Penilaian itu bukan tanpa alasan. Sudah kurang lebih 20 tahun saya tinggal di Pasar Minggu. Di tempat ini saya menyaksikan sendiri bagaimana pengendara bertindak semena-mena di jalan. Dan, ini membuat pendatang baru kaget ketika mampir ke Pasar Minggu pertama kali. 

Daripada terus berbasa-basi, langsung saja saya jelaskan mengapa warga Pasar Minggu pantas menyandang gelar masyarakat paling tidak taat aturan lalu lintas di Indonesia. Mari kita simak sama-sama..

Warga Pasar Minggu nggak bisa liat celah nganggur, langsung dipakai untuk lawan arah

Penyakit pengendara motor di Pasar Minggu yang sulit disembuhkan adalah kebiasaannya untuk lawan arah. Bila mereka melihat sedikit celah di jalan untuk lawan arah maka mereka akan melakukannya agar cepat sampai tujuan. Tidak peduli apakah perbuatannya mengganggu laju jalur yang dilawannya. Tidak peduli bila kita memasang tatapan sinis kepada pelawan arah itu, mereka tetap saja lawan arah dengan ekspresi muka yang datar.

Bahkan, saking terbiasanya menghadapi pengendara motor seperti itu di Pasar Minggu, saya malah jadi menormalisasinya. Contohnya gini, tidak jarang bila sedang berkendara dan ada pengendara motor di jalur saya yang lawan arah, saya malah berhenti sejenak agar pengendara tersebut bisa lewat.

Padahal mah saya bisa saja tidak peduli dan tetap melaju tanpa memberikan mereka kesempatan untuk lewat. Kan itu memang hak saya untuk melewati jalur tersebut, bukan mereka. Tapi, entah mengapa saya malah sering berhenti ketika menghadapi keadaan seperti itu di Pasar Minggu. Rasanya hal ini sudah menjadi bagian hidup ketika tinggal di sini.

 Lampu lalu lintas tidak terlalu berguna

Kapan-kapan coba kalian amati lampu lalu lintas yang terletak di sekitar pasar tradisional Pasar Minggu. Dan, silakan nilai sendiri seberapa tidak bergunanya lampu lalu lintas tersebut.

Bagi pengendara di Pasar Minggu, lampu merah bukan berarti harus berhenti, melainkan boleh saja jalan asal jalanan di depannya memang kosong dan tidak ada yang lewat. 

Baca Juga:

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

Logika semacam itu tetap saja sangat berbahaya. Bila ada kendaraan yang ngebut, bisa jadi orang yang menerobos lampu merah itu ketabrak. Namun, potensi bahaya tersebut seringkali diabaikan. Entah apa yang mereka cari dan kejar sehingga harus buru-buru sampai tujuan dengan cara-cara yang berbahaya.

Hal ini juga berlaku pada pelican crossing di Jalan Raya Pasar Minggu. Meskipun pejalan kaki sudah memencet tombol agar lampu merah menyala dan bisa menyeberang, tetap saja banyak pengendara yang ngebut dan menerobos. 

Trotoar bukan hanya milik pejalan kaki

Keadaan pejalan kaki di Pasar Minggu memang tidak terlalu aman. Mereka tidak diberi ruang spesial di sini. Bukannya ada trotoar yang dibuat khusus untuk pejalan kaki? Oh iya memang ada. Tapi, seringkali trotoar juga dipakai kendaraan bermotor untuk menghindari macet yang panjang. Hal ini sering terjadi di Jalan Raya Ragunan menuju Jalan Warung Jati.

Memang betul tidak semua warga Pasar Minggu seperti itu. Masih ada kok yang punya adab di jalanan dan patuh, tapi ya segelintir saja. Sementara hal-hal yang saya sebutkan di atas dapat disaksikan setiap harinya di Pasar Minggu. Yidak hanya sekali atau dua kali. 

Kalau ditanya solusinya apa agar warga Pasar Minggu tobat dan taat aturan lalu lintas, saya pun bingung jawabannya. Pada area di mana banyak pengendara lawan arah sudah sering diadakan razia oleh Polantas. Tapi, bila razia itu sudah selesai, para pengendara akan kembali melawan arah. 

Mungkin memang warga Pasar Minggu harus selalu diawasi 24 jam oleh polantas, tapi sepertinya itu tidak mungkin dilakukan karena akan membuat polisi kita kerepotan. Bukannya polisi kita tidak mau dibuat repot? Eh, maaf maksudnya oknum polisi. 

Penulis: Mohammad Rafatta Umar
Editor: Kenia Intan

 BACA JUGA TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 April 2026 oleh

Tags: Jakartajakarta selatannjakselPasar Minggupasar minggu jakarta
Mohammad Rafatta Umar

Mohammad Rafatta Umar

Mahasiswa Ilmu Politik di Jaksel yang pesimis sama negara.

ArtikelTerkait

11 Kuliner Legendaris di Jakarta yang Wajib Dicicipi Terminal Mojok

11 Kuliner Legendaris di Jakarta yang Wajib Dicicipi

25 Januari 2022
Kenapa Bakmi Jawa dan Soto Bening Susah Banget Ditemukan di Jakarta?

Kenapa Bakmi Jawa dan Soto Bening Susah Banget Ditemukan di Jakarta?

25 September 2024
Ngapain sih (Masih) Nekat Berlibur di Puncak Saat Libur Panjang? Udah Jelas-jelas Bakal Macet Nggak Ngotak, Masih Aja ke Sana puncak bogor

Warga Jakarta yang Pas-pasan Liburan Pasti ke Puncak Bogor karena Memang Nggak Ada Alternatif Lain

25 Agustus 2025
Ruwetnya Jakarta bagi Warga Pemalang yang Sudah Lama Tinggal di Solo dan Jogja

Ruwetnya Jakarta bagi Warga Pemalang yang Sudah Lama Tinggal di Solo dan Jogja

21 Maret 2023
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co

Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini

19 Maret 2026
Membantah Nasihat Ibu, Rela Hidup Menderita di Jakarta (Shutterstock)

Rela Tetap Bertahan dan Menderita di Jakarta walau Disuruh Ibu Pulang Kampung karena Yakin di Jakarta Semua Mimpi itu Ada

24 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

4 April 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

Jalan-jalan ke Pantai saat Libur Panjang Adalah Pilihan yang Buruk, Hanya Dapat Capek Saja di Perjalanan

1 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026
Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen Mojok.co

Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen

31 Maret 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua
  • Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali
  • Gaya Hidup Pemuda di Desa Saat Ini bikin Kaget: Habiskan Gaji Kecil buat Ikuti Tren Orang Kaya, Target Kerja Sebatas buat Beli iPhone Lalu Resign
  • Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup
  • Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung
  • Putus Kuliah dari PTS Elite demi Masuk “Jurusan Buangan” di PTN: Menang di Gengsi, tapi Lulus Jadi “Gelandangan” Dunia Kerja

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.