Kalau sore hari lewat jalan-jalan kampung di Karawang, kamu bakal sering nemuin pemandangan sekumpulan warga duduk santai di pinggir sawah, kadang lesehan dan juga ada pedagang yg sediakan kursi, sambil ngopi atau sekadar ngobrol ngalor-ngidul. Kelihatannya adem, syahdu, dan menenangkan.
Tapi coba pikir lebih dalam, kenapa sih warga kita harus nyari ruang terbuka sampai ke pinggir sawah?
Jawabannya sederhana tapi menyakitkan, karena ruang terbuka hijau publik yang layak buat nongkrong itu memang nyaris nggak ada. Sawah jadi pelarian, bukan pilihan estetika, tapi solusi darurat dari warga yang kehabisan opsi. Dan seperti kebanyakan solusi darurat, ujung-ujungnya malah menciptakan masalah baru yang nggak kalah runyam.
RTH publik Karawang jauh di bawah standar yang diwajibkan
Ini bukan asumsi asal jeplak. Berdasarkan penelitian soal implementasi kebijakan RTH di Karawang, ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan Karawang keberadaannya cuma sekitar 10 persen dari luas wilayah kota. Padahal Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 mewajibkan setiap kota punya RTH minimal 30 persen dari luas wilayahnya.
Jadi kalau dihitung-hitung, Karawang itu kekurangan sekitar dua pertiga dari kewajiban RTH yang seharusnya dipenuhi. Bukan kurang dikit, tapi kurang banyak banget. Dan siapa yang kena dampaknya? Ya warga yang butuh tempat buat sekadar duduk santai sore-sore tanpa harus muter otak nyari spot yang teduh dan nggak bayar.
Lahan di Karawang yang seharusnya jadi RTH malah dipakai buat yang lain
Yang bikin makin miris, bukan cuma soal kurangnya lahan, tapi lahan yang ada aja nggak dimanfaatkan sesuai fungsinya. Satu kasus yang jelas adalah kawasan Taman Ade Irma di sekitar Stasiun Karawang.
Pemkab Karawang dan PT KAI pada 3 Juli 2025 melakukan penertiban bangunan di kawasan tersebut karena kawasan itu diperuntukkan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH). Penertiban dilakukan untuk mengembalikan fungsi kawasan sebagai taman/RTH.
Pemda sudah ada itikad baik tinggal pemeliharaannya dan warganya juga harus ikut menjaganya agar RTH tersebut sesuai peruntukannya.
Taman yang dibangun di Karawang pun banyak yang gagal jadi tempat nongkrong beneran
Kalau ada yang mikir “ya kan Karawang punya taman kota,” saya juga sempat mikir gitu. Tapi ternyata taman-taman yang ada pun nasibnya nggak jauh lebih baik. Ada taman kota yang makin sepi dan makin tidak terawat seiring waktu, bikin citra daerahnya ikut memburuk.
Belum lagi pembangunan taman di beberapa titik Karawang diakui sendiri oleh dinas terkait sebagai proyek yang dilakukan tanpa konsep yang jelas. Alias asal bangun di lahan kosong tanpa mikirin fungsi dan kenyamanan jangka panjang.
Jadi kalaupun ada taman, belum tentu nyaman buat dijadiin tempat nongkrong. Wajar kalau akhirnya warga milih pinggir sawah, minimal di sana ada angin sepoi-sepoi gratis.
Begitu ramai jadi tempat nongkrong, pedagang pun ikut nimbrung dan bahu jalan jadi korban
Ini efek domino yang menurut saya paling jarang dibahas. Begitu satu titik pinggir sawah di Karawang mulai ramai jadi tempat nongkrong, nggak lama kemudian bakal muncul gerobak-gerobak pedagang yang ikut mangkal di situ. Namanya juga cari peluang, di mana ada keramaian, di situ ada rezeki. Masalahnya, pedagang-pedagang ini kebanyakan gelar lapak persis di bahu jalan, bukan di lahan kosong yang memang disediakan buat berjualan.
Akibatnya dua lapis sekaligus. Pertama, estetika pemandangan sawah yang tadinya jadi alasan orang betah nongkrong, malah jadi berantakan sama gerobak dan sampah bungkus makanan berserakan. Kedua, dan ini yang lebih krusial, bahu jalan yang harusnya jadi ruang cadangan buat kendaraan berpapasan atau berhenti darurat, jadi ikut kepakai buat lapak dagangan. Jalan yang tadinya cukup lebar, mendadak menyempit. Pengendara motor atau mobil harus ekstra hati-hati kalau mau lewat, apalagi pas jam ramai pengunjung.
Padahal aturan sudah jelas mengatur bahwa lokasi berjualan pedagang kaki lima seharusnya ditetapkan dengan mempertimbangkan supaya tidak mengganggu kepentingan umum. Tapi ya, di lapangan, aturan itu kalah sama kebutuhan cari nafkah dan minimnya penertiban yang konsisten di Karawang.
Fenomena ini malah dimaklumi, bukan dipertanyakan
Ini bagian yang paling bikin saya gregetan. Alih-alih jadi alarm keras buat pemerintah daerah, fenomena nongkrong di pinggir sawah ini, lengkap dengan pedagang dan jalan yang menyempit, malah dianggap lucu-lucu aja, bahkan romantis. Padahal kalau dipikir jernih, itu bukan kearifan lokal. Itu bentuk penyesuaian diri warga terhadap ketiadaan fasilitas publik yang layak, yang lama-lama malah menciptakan masalah baru.
Kita terlalu cepat memaklumi sesuatu yang seharusnya jadi bahan evaluasi serius. Nongkrong di sawah itu boleh-boleh aja, saya juga suka. Tapi jangan sampai kebiasaan itu justru dijadikan pembenaran bahwa Karawang nggak butuh RTH publik yang layak, cuma karena warganya “kreatif” nyari alternatif sendiri, sampai berujung jalan yang dulunya lega jadi sesak gara-gara lapak dagangan.
Sawah bukan solusi, itu gejala
Warga yang duduk-duduk di pinggir sawah, ditambah pedagang yang ikut nimbrung dan bahu jalan yang makin sempit, bukan lagi cerita tentang bahagia itu sederhana. Itu gejala berlapis dari kegagalan tata kota menyediakan ruang publik yang manusiawi. Kalau dibiarkan terus dimaklumi, kita nggak akan pernah sampai pada pertanyaan yang lebih penting, kenapa warga Karawang harus nongkrong di pinggir sawah, sampai akhirnya menyeret masalah baru berupa jalan sempit dan semrawut, cuma buat menikmati udara sore?
Karawang butuh RTH publik yang beneran dirancang buat manusia, lengkap dengan penataan pedagang yang jelas dan konsisten, bukan cuma proyek tempelan di lahan sisa. Kalau nggak, jangan heran kalau sepuluh atau dua puluh tahun lagi, pemandangan warga nongkrong di pinggir sawah dan pedagang yang mepet ke jalan masih akan jadi “budaya” yang terus dirayakan, padahal sebenarnya itu tanda bahaya yang sudah lama diabaikan.
Penulis: Diaz Robigo
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Dear Pemda Karawang, Karawang Butuh Pohon yang Banyak, Bukan Tanaman Hias Unyu Nirfaedah!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
