Informasi
ADVERTISEMENT

Setelah setahun lebih menikah dengan warga Mojokerto, saya sadar kota ini punya semuanya

Setelah setahun lebih menikah dengan warga Mojokerto, saya sadar kota ini punya semuanya

Sebagai warga Lamongan, salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya adalah menikah dengan perempuan asal Mojokerto. Selain karena kebaikan hatinya, juga karena saya akhirnya bisa sering mampir ke Mojokerto.

Sudah setahun lebih usia pernikahan kami berjalan, dan konsekuensi logis dari status baru ini tentu saja saya jadi sangat sering bolak-balik bertandang ke Mojokerto. Dan setelah setahun lebih rutin wara-wiri dan mengecap ritme hidup di sini, saya harus angkat topi. 

Harus saya akui, Mojokerto ternyata bukan sekadar kota perlintasan atau daerah penyangga Surabaya. Mojokerto adalah sebuah ekosistem perkotaan yang nyaris sempurna: apa saja yang kamu cari, semuanya ada. 

Dari kopi kekinian hingga mall dan hotel, dunia hedon nggak pernah habis!

Salah satu indikator paling gampang untuk mengukur tingkat “kehidupan” sebuah daerah hari ini adalah ekosistem gaya hidup dan hiburannya. Dan untuk urusan ini, Mojokerto jujur membuat saya geleng-geleng kepala.

Di sini, pilihan tempat cangkruk dan hiburan itu rasanya nggak pernah habis. Ada saja tempat baru yang buka. Mau cari kedai kopi lokal dengan suasana syahdu buat melamun? Banyak. Mau cari kedai kopi modern dan jejaring coffee shop kekinian macam Fore, Calf, atau merek-merek populer lainnya? Berhamburan di mana-mana!

Butuh pusat perbelanjaan? Mall ada. Mau staycation atau butuh akomodasi yang nyaman? Pilihan hotel dari yang kelas melati sampai hotel berbintang juga siap menyambut. Mojokerto memanjakan warganya sekaligus menyambut pendatang dengan kesiapan infrastruktur gaya hidup yang sangat matang.

Surga “Healing” yang dekat: Trawas, Pacet, hingga Cangar

Kalau kamu tipe manusia modern yang sedikit-sedikit butuh healing karena mual melihat tumpukan pekerjaan kantor, Mojokerto adalah wilayah yang teramat sangat memanjakan paru-paru.

Gagasan refreshing di sini bukan sekadar wacana atau harus menunggu jatah cuti panjang. Hanya butuh perjalanan sekitar 30 sampai 45 menit saja dari pusat kota, kamu sudah disuguhi tiga kawah candradimuka pelepas stres paling ampuh di Jawa Timur: Trawas, Pacet, dan Cangar.

Mau cari lanskap kedai kopi di tengah kebun pinus, mau mandi air panas sambil menikmati udara dingin pegunungan, semua ada. 

Aksesibilitas dan tata kota Mojokerto yang bikin betah

Satu hal yang kerap membuat orang ragu menetap di daerah adalah ketakutan akan keterisolasian dan aksesibilitas yang buruk. Di Mojokerto, kekhawatiran semacam itu langsung gugur di ronde pertama.

Infrastruktur dan konektivitas moda transportasinya sudah sangat memanjakan warga. Mau mobilitas lokal antardaerah yang murah meriah? Armada Trans Jatim sudah berseliweran dengan rute yang rapi. Mau bepergian antarkota hingga luar provinsi? Stasiun Kereta Api terletak persis di area yang sangat strategis dekat pusat kota. Jalur bus interkota pun terkoneksi dengan sangat baik.

Selain itu, kondisi jalanan dalam kotanya rata-rata mulus dan tertata rapi. Bagi tipe orang yang kalau lagi gabut hobinya naik motor keliling kota tanpa tujuan jelas hanya untuk menikmati angin malam, Mojokerto adalah arena night ride yang sangat menyenangkan.

UMR sejahtera dan kualitas SDM Mojokerto yang mumpuni

Namun, yang membuat Mojokerto beneran berdiri tegap dan bikin warganya bangga bukan cuma soal hadirnya Fore atau deretan wisata pegunungan di Trawas. Sebuah kota tidak bisa dikatakan layak huni hanya karena pemandangannya bagus.

Pilar terpenting yang membuat Mojokerto begitu perkasa adalah fondasi ekonominya yang solid.

Bicara soal UMR, Mojokerto—baik wilayah Kota maupun Kabupaten—berada di jajaran daerah dengan standar upah yang sangat sejahtera di Jawa Timur. Angka UMR-nya masuk dalam kategori “papan atas” yang membuat daya beli masyarakatnya terjaga dengan sangat baik. Pekerja di sini punya apresiasi ekonomi yang jauh lebih manusiawi dibandingkan daerah-daerah tetangganya yang masih berkutat dengan isu upah murah.

Standar upah yang baik ini berbanding lurus dengan kualitas sumber daya manusianya. Masyarakat Mojokerto itu terpelajar, adaptif, dan memiliki etos kerja yang tinggi. Integrasi antara sejarah kebudayaan besar masa lalu (sebagai jantung peradaban Majapahit) dengan modernitas industri hari ini membentuk karakter warga lokal yang percaya diri, terbuka, namun tetap punya pijakan identitas yang kuat.

Yah, setelah setahun lebih intens berinteraksi dan menjadi bagian dari keluarga besar warga Mojokerto, saya sampai pada satu kesimpulan: rasanya tak ada alasan bagi warga Mojokerto untuk tidak bangga pada tanah kelahirannya.

Iya, kota ini adalah tempat yang selalu berhasil membuktikan bahwa daerah di Jawa Timur bisa maju, modern, dan keren tanpa harus kehilangan kehangatan manusianya. 

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 September 2026 oleh .

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.