Vespa Matic Adalah Motor yang Paling Tidak Layak untuk Dibeli karena Overpriced, Boros, dan Paling Dibenci Tukang Servis Motor

Vespa Matic, Motor Paling Tidak Layak untuk Dibeli (Unsplash)

Vespa Matic, Motor Paling Tidak Layak untuk Dibeli (Unsplash)

Vespa, merek skuter ikonik asal Italia, sering menjadi simbol gaya hidup mewah. Di Indonesia, Vespa matic seperti model Sprint, Primavera, atau LX semakin populer. Khususnya di kalangan urban yang mencari kendaraan bergaya retro. 

Namun, di balik pesonanya, ada sejumlah alasan mengapa Vespa matic mungkin tidak worth to buy. Terutama bagi orang yang mengutamakan kepraktisan, efisiensi, dan biaya rendah.

Baca juga: Punya Motor Vespa Itu Menyenangkan, tapi buat Kendaraan Harian, Nggak Dulu

Vespa matic nggak punya kickstarter

Pertama, absennya kickstarter menjadi salah satu kelemahan utama Vespa matic. Di era di mana keandalan menjadi prioritas, Vespa matic sepenuhnya bergantung pada starter elektrik. 

Jika aki tekor atau mogok di tengah jalan, Anda akan kesulitan menghidupkan mesin. Bayangkan jika situasinya di jalanan macet, di mana bengkel resmi Vespa tidak selalu dekat. Pasti bakal repot banget harus dorong motor atau panggil towing, yang tentu merepotkan dan mahal.

Desain Vespa cuman lebih mengutamakan estetika daripada fungsi. Enak milih motor yang ada kickstarter kayak motor Jepang seperti Honda Scoopy atau Yamaha NMAX.

Bobot motor lebih berat

Kedua, bobot motor yang berat membuat Vespa matic kurang lincah untuk harian. Vespa Sprint, misalnya, memiliki berat sekitar 115-120 kg, yang lebih berat dibandingkan kompetitor seperti Honda PCX (sekitar 110 kg). Ini terasa saat bermanuver di lalu lintas padat atau parkir di tempat sempit.

Bagi wanita atau pemula, bobot ini bisa jadi tantangan, terutama saat harus angkat motor jika jatuh atau dorong saat mogok. Selain itu, berat ini mempengaruhi handling di jalanan berlubang, yang masih menjadi masalah umum di Indonesia.

Jalanan di kota-kota seperti Semarang sering bolong-bolong, dan Vespa matic dengan suspensi yang lebih kaku kurang nyaman menyerap guncangan dibandingkan motor Jepang yang dirancang untuk kondisi tropis.

Tenaga mesin Vespa matic itu biasa aja

Ketiga, tenaga mesin yang biasa saja, bahkan pas-pasan untuk mobilitas harian. Mesin Vespa matic biasanya berkapasitas 125-150cc dengan tenaga sekitar 10-12 hp, yang memang cukup untuk cruising dalam kota tapi kurang responsif saat tanjakan atau kecepatan tinggi.

Banyak yang bilang akselerasinya lambat, terutama saat boncengan atau bawa barang. Bandingkan dengan Yamaha Lexi yang punya tenaga lebih bertenaga dengan harga lebih murah. Alasan lain terkait ini adalah sistem pendingin udara yang membuat mesin cepat panas di iklim panas Indonesia.

Saat ngebut atau macet panjang, suhu mesin naik cepat, berisiko overheat dan mengurangi umur pakainya.

Ban Vespa matic itu mahal!

Keempat, harga ban yang mahal dan proses penggantian yang rumit. Ban Vespa matic sering menggunakan ukuran spesifik seperti 110/70-12 atau 120/70-12, yang harganya bisa mencapai Rp800 ribu sampai Rp1,5 juta per pasang, lebih mahal dari ban motor biasa.

Yang lebih parah, penggantian ban memerlukan pembongkaran knalpot karena ada sensor di leher knalpot yang rentan error jika tidak hati-hati. Banyak tukang ban pinggir jalan kesulitan, dan sering kali harus ke bengkel resmi yang biayanya tambah mahal. Ada juga pengalaman buruk di mana sensor ABS atau emisi rusak setelah ganti ban.

Bayar pajak mahal tapi jalan tetap rusak

Pajak tahunan yang mahal menjadi beban tambahan. Vespa matic termasuk dalam kategori motor premium, sehingga pajaknya bisa mencapai Rp500 ribu sampai Rp800 ribu per tahun, tergantung cc dan tahun produksi. Nominal segitu lebih tinggi dibandingkan motor Jepang sekelas.

Ironisnya, meski bayar pajak mahal, kondisi jalan di Indonesia masih banyak yang bolong-bolong dan rusak, seperti di daerah pedesaan atau pinggiran kota. Sia-sia rasanya, karena pajak seharusnya untuk infrastruktur, tapi realitanya pengendara Vespa tetap harus hati-hati menghindari lubang yang bisa merusak velg atau suspensi.

Di jalanan di kawasan industri sering tidak mulus, membuat pengalaman berkendara kurang menyenangkan.

Baca juga: Alasan Vespa Matic Dibenci Tukang Servis Motor

Overpriced dan perawatan Vespa matic itu mahal

Banyak pemilik Vespa matic di Indonesia mengeluh kalau barang ini ternyata overpriced. Vespa Sprint baru bisa mencapai Rp50-60 juta, sementara kompetitor seperti Honda ADV atau Yamaha XMAX menawarkan fitur lebih lengkap dengan harga serupa atau lebih murah. Ini membuat Vespa lebih sebagai barang mewah doang.

Lalu, biaya maintenance dan service yang tinggi. Bengkel resmi Vespa terbatas, tidak sebanyak jaringan Honda atau Yamaha yang ada di setiap kecamatan. Servis rutin bisa habis Rp500 ribu sampai Rp1 juta belum termasuk spare parts impor yang langka dan mahal. Misalnya, filter udara atau belt CVT bisa dua kali lipat harga parts motor Jepang.

Sudah begitu, Vespa matic tidak cocok untuk modifikasi murah. Jika ingin custom, biaya mahal karena parts orisinal mahal dan banyak tukang servis benci Vespa karena rumit.

Terakhir, kurangnya fitur modern. Vespa matic jarang punya konektivitas Bluetooth atau ABS standar di semua model, sementara motor kompetitor sudah punya walau harga lebih murah.

Jadi, kalau ada yang minta saya menentukan satu motor yang jangan dibeli, saya akan langsung menyebut: Vespa matic. Pokoknya jangan kalau kamu nggak suka ribet.

Penulis: Budi

Editor: Yamadipati Seno 

BACA JUGA Vespa Matic, Motor Mahal yang Nggak Masuk Akal, Harga Setara Mobil Bekas, Fiturnya Minim!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version