Beberapa kendaraan pernah mengisi hidup saya. Salah satunya adalah Vario 110 CBS 2010 warna merah. Motor Honda pengganti All New BeAT-FI 2013 ini sudah saya pakai sejak SMA.
Anehnya, setelah nyaman dengan BeAT kesayangan, ternyata orang tua justru menjual dengan berbagai alasan. Nah, setelah itu kok saya malah merasa turun kasta. Awalnya pakai motor dengan sistem injeksi, menjadi motor Honda dengan karburator. Nah dari sini penderitaan saya bermula.
Fyi, saya mendapatkan Vario 110 adalah motor Honda tangan kesekian. Sudah begitu, saya mendapatkannya dari referensi orang yang memang niat makelaran.
Sehingga, pengalaman yang saya alami ini bisa jadi tidak terlepas dari kesalahan memilih kendaraan di awal. Mulai bahan bakar yang boros hingga kondisi mesin yang bikin boncos.
Bagaimana tidak merugi, jika tiap bulan si motor minta jajan sparepart berkali-kali. Kerusakannya pun selalu merembet hingga berfikir jika motor Honda ini memang benar benar rewel. Saya jadi selalu berhadapan dengan berbagai masalah yang merepotkan.
Penyakit gredek Vario 110 yang bikin gedek
Mungkin, bagi Mbak Dyan Arfiana Ayu Puspita, penyakit gredek Honda Vario memang bukan kerusakan fatal. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak.
Namun, saya punya argumen berbeda. Bagi saya, gredek Vario 110 memang bikin gedek. Utamanya saat kalian melintas di jalur Kota Malang di musim penghujan. Gredek motor Honda satu ini akan berkolaborasi dengan kondisi jalan yang berlubang di sepanjang jalur Malang. Nah, kolaborasi itulah yang membuat kepala pusing bukan kepalang.
Alih-alih tenang di sepanjang perjalanan. Kondisi gredek selalu meningkatkan hormon serotonin dalam tubuh saya hingga pengin misuh selama berkendara.
Ya misuh ke motor Honda satu itu, sama misuh ke Pemerintah Kota Malang yang nggak becus tangani jalan berlubang. Soalnya setelah kena jalan berlubang, kadang gredek di Vario 110 saya makin parah dan bikin susah. Akhirnya perlu jajan sparepart untuk motor yang merepotkan.
Sistem karburator bikin konsumsi BBM makin nggak terkontrol
Saya paham jika motor dengan sistem karburator memang lebih boros. Namun, Vario 110 ini memang beda.
Saya pernah perjalanan dari Banyuwangi ke Malang, dan harus mengisi bensin sampai tiga kali dengan kondisi tangki penuh di setiap SPBU-nya. Padahal, motor karbu lain tidak seboros itu. Motor teman saya untuk menempuh jarak yang sama hanya butuh dua kali isi BBM. Itu saja masih bisa sisa sampai di Malang.
Usut punya usut, ternyata jarum skep dan pilot jet yang ada di motor Honda saya itu tidak bawaan aslinya. Alasan itulah, kata mekanik bengkel, yang membuat konsumsi BBM tidak terkontrol.
Sehingga, meski sudah berkali-kali ganti, kondisinya tetap tidak berubah. Saya sampai lupa sudah berapa bengkel yang saya datangi di Kota Malang namun hasilnya tetap sama. Malang bukan kepalang gegara motor yang rewelan.
Kompresi mesin Vario 110 yang nggak mau naik jika nggak dipancing
Dulu, sebelum mengenal Vario 110, saya tahunya mancing itu ya cuma ikan. Nah, sekarang beda. Memancing juga bisa dilakukan untuk menaikan kompresi mesin motor Honda satu itu.
Inilah kerepotan yang sering saya alami. Niat hati berangkat awal agar tidak terlambat, namun apalah daya motor tidak mau diajak bekerja sama. Lagi-lagi saya mampir ke bengkel dan membelikan jajan. Jika ada waktu agak panjang ya saya minta mekanik untuk melakukan perbaikan menyeluruh.
Namun, karena sering diburu waktu, akhirnya saya minta saja ke mekanik pokok motor bisa jalan dan digunakan lagi. Ya satu caranya dengan mancing ini.
Sangking seringnya melakukan praktik ini, saya sampai hafal betul caranya. Cukup masukan oli baru dari lubang busi, setelah itu nyalakan motor dengan pedal starter berulang kali sampai oli yang dimasukan bisa menyegel ring piston yang ada di dalamnya.
Untuk ukuran cowok, oke-oke saya. Tapi kalau kalian wanita, sebaiknya serahkan pada ahlinya. Bener deh, saya tidak bohong.
Terakhir, yang mungkin saya selalu ingat satu-satunya hal yang saya sepakat dengan Vario 110 adalah sama-sama tidak senang dengan banjir. Saya nggak suka karena tentu sangat berisiko dan membahayakan pengendara. Sementara motor Honda saya nggak suka banjir karena kalau air masuk merendam lubang busi, pasti mesin mati. Wassalam.
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
