Tidak ada yang lebih berbahaya daripada lamunan kelas pekerja di jam dua siang. Ketika fokus menurun, penat melanda, dan pekerjaan terasa lebih layak untuk ditinggal. Dan lamunanku siang kemarin adalah: bagaimana rasanya punya uang 1 miliar di Jogja? Sepertinya kalau diinvestasikan dalam Surat Berharga Negara (SBN), hidupku akan layak disebut financial freedom.
Lamunan ini begitu manis. Apalagi ketika tidak memikirkan mendapat penghasilan tiap bulan tanpa kerja.
Pagi ngopi, siang nongkrong di toko buku, dan tidur lebih awal. Tapi fantasi itu segera pecah ketika analisis finansial bekerja. Fantasi tadi siang langsung ditampar realitas getir. Ternyata uang 1 miliar belum cukup untuk hidup financial freedom di daerah dengan harga soto 5 ribuan bernama Jogja.
Kalau kamu punya fantasi financial freedom yang sama, segera cuci muka. Lalu, tataplah foto para pejabat dan mengumpatlah. Karena uang 1 miliar yang terkesan besar tidak benar-benar cukup membuatmu merdeka di Jogja.
Kenapa SBN?
Pasti pertanyaan paling awal adalah: kenapa yang dipikirkan langsung SBN? Kenapa uang 1 miliar itu tidak kamu habiskan saja? Atau, misalnya, untuk membangun kos-kosan seperti tren investasi di Jogja? Tentu lamunan yang masih punya akal sehat ini langsung mengutuk dua opsi itu.
Jika pengeluaranmu sekitar 5 juta, uangmu habis sekitar 16 tahun kemudian. Dan kalau usiamu masih 30-an, kamu sudah kehabisan uang jauh sebelum pensiun dan jadi pelanggan poliklinik.
Jika kamu ingin financial freedom dengan membangun kos-kosan di Jogja, bersiaplah sedikit gigit jari. Karena kamu harus punya lahan di lokasi strategis, dan harganya sudah di atas 4 juta per meter. Belum lagi biaya bangun, perawatan, hingga memastikan ada penyewa.
Uang 1 miliar hanya bisa memberimu kos 6 kamar dengan luas lahan 100 meter lebih sedikit. Penghasilan per bulan “hanya” sekitar 4 juta dan kamu masih harus mengurus semuanya.
SBN menawarkan hal lain: penerimaan tiap bulan yang tetap serta dilindungi negara. Untuk SBN jenis SR025 dengan tenor 3 tahun (SR025T3), kamu mendapat bunga kupon sebesar 6,8% tiap bulan.
Artinya, tiap bulan kamu mendapat keuntungan sampai batas tenor dan uang modalmu kembali. Lebih menarik daripada model investasi yang menanti tenor untuk mendapat profit.
Alasan dilindungi negara ini juga bukan sindiran pada pemerintah yang sedang berantakan. Karena SBN diterbitkan negara, investasi ikut dijaga dalam penyelenggaraan negara. Kecuali Indonesia mengalami krisis hebat, bencana berkepanjangan, atau presiden menantang negara lain (lagi), investasimu relatif aman.
Tentu lebih lega ketika uangmu dijaga entitas yang too big to be fail, apalagi sekelas negara. Tinggal beri utang pada negara, dan kamu mendapat keuntungan tiap bulan hanya dengan bernapas.
Tapi apakah uang 1 miliar yang bersumber dari lamunan siang hari tadi adalah jawaban financial freedom? Mari kita lihat realitas yang getir di Jogja ini.
Duit 1 miliar tidak membuatmu financial freedom di Jogja
Mari kita bayangkan lagi perihal uang 1 miliar tadi. Untuk SR025T3, kamu akan mendapat kupon kotor sebesar 5,6 juta. Setelah dipotong PPH final 10%, kamu akan mendapat 5,1 juta per bulan.
Dengan begitu, kamu bisa membayangkan financial freedom itu. Misal, nggak harus bekerja, kena macet di perempatan Pingit, atau menjual nyawa di Ring Road. Coba bayangkan betapa indahnya hidup dengan passive income setiap bulan di Jogja.
Sudah selesai membayangkannya? Sekarang kita kaji seberapa besar uang fantasimu tadi.
Jika kita merujuk dengan UMR Kota Jogja sebesar 2,8 juta, kamu sudah punya pemasukan 2 kali lipat. Atau sedikit di bawah UMR Jakarta pusat. Tapi, pengeluaranmu tidak hanya berdasarkan UMR.
Dua kali UMR Jogja tadi menjamin hidupmu tidak kelaparan, telanjang, atau kehujanan. Tapi semua serba mepet. Kamu hanya bisa hidup mengontrak, tapi bisa di kost eksklusif.
Gampang bisa punya kendaraan pribadi, tapi bukan motor sport atau mobil penenggak diesel. Ngopi tiap malam di coffee shop semenjana bisa saja, belanja beberapa buku, dan bikin konten hidup slow living. Catatan: kamu masih bujang.
Ketika kamu sudah berkeluarga, maka 5,1 juta adalah pemasukan yang hampir berkecukupan. Tapi kamu tetap ngontrak, lebih banyak makan di warteg, dan mengurangi jatah ngopi.
Dan jika kamu sudah punya anak, maka kamu harus mencari pemasukan tambahan. Dan dengan segala strategi ngirit ini, kamu belum bisa beli rumah di Jogja. Kamu juga belum bisa membeli barang bernilai tinggi tanpa menabung dulu, apalagi financial freedom.
Syarat financial freedom sebenarnya
Sebenarnya banyak pendapat tentang financial freedom. Beberapa orang menyebutnya “uang cukup untuk hidup” yang berarti kebutuhan dasarmu terpenuhi tanpa bekerja.
Ada yang menyebut kamu bisa mengakses kebutuhan sekunder dan tersier dengan mudah. Ada juga yang berpendapat pemasukan per bulan lebih tinggi daripada kebutuhan primer sampai tersier.
Juga ada perdebatan financial freedom itu perihal kepemilikan properti dan alat kerja secara personal sebagai penentu. Namun satu yang pasti, uang 5 juta lebih sedikit itu hanya mampu memenuhi kebutuhan standarmu. Tanpa bisa memiliki properti atas nama sendiri. Dan jika kamu berkeluarga, uang itu harus dijaga baik-baik sembari menabung untuk dana darurat.
Aku melihat uang 1 miliar memang belum menjanjikan financial freedom. Kecuali kamu punya modal awal seperti rumah dan kendaraan pemberian Papa Mama. Uang serba mepet tidak membuatmu bebas dari usaha untuk menaikkan taraf hidup. Dan kamu tidak merdeka ketika otakmu masih sibuk menakar dan menghitung pengeluaran tiap bulan.
Uangmu tidak berharga
Sudah selesai melamunnya? Sekarang cuci muka dan jawab pertanyaan ini: dari mana kamu mendapat uang 1 miliar tadi?!
Dengan menabung dari penghasilanmu di Jogja yang tidak seberapa itu? Menanti rumah orang tua yang masih dikenai pajak turun waris? Menjual NFT yang sudah tak laku? Atau punya mesin waktu, kembali ke tahun 2022, dan pasang taruhan untuk Prancis di Piala Dunia?
Ini bukan perkara bagaimana kamu mendapat 1 miliar saja. Tapi nilai uang kita yang kelewat lemah, hingga mengumpulkan dana sebesar itu menjadi sulit. Dan ketika uang yang diperoleh dengan cara ajaib itu sudah di tangan, ternyata nilainya tidak seberapa.
Jadi sudahi saja mimpi financial freedom di Jogja. Bangunlah, beli vitamin, dan tidur cukup. Besok kamu masih kerja. Dan mimpi merdeka perkara keuangan biarlah menemanimu di malam gelap. Karena hari ini, uang yang terkesan besar hanyalah debu di halaman negara yang berantakan.
BACA JUGA Kuli Bangunan dengan Kesadaran akan Financial Freedom: Jangan Bergantung 1 Sumber Penghasilan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
