Toyota Raize: Kerap Diejek LCGC Dikasih Turbo, padahal Mobil Ini Kuat, Bertenaga, dan yang Paling Penting, Irit!

Toyota Raize: Kerap Diejek LCGC Dikasih Turbo, padahal Mobil Ini Kuat, Bertenaga, dan yang Paling Penting, Irit!

Toyota Raize: Kerap Diejek LCGC Dikasih Turbo, padahal Mobil Ini Kuat, Bertenaga, dan yang Paling Penting, Irit! (HY ART via Unsplash)

Saat saya menukar kunci Toyota Rush dengan Toyota Raize 1.0 Turbo, kawan-kawan sekitar langsung bereaksi seperti yang sudah saya duga. Kira-kira, semua berucap yang sama. “Ngapain bro, Raize itu LCGC!”

Di atas kertas, narasi “turun kasta” atau downgrade itu memang terlihat valid. Saya menukar mobil 1.500cc berbadan bongsor, 7-seater, dan berpenggerak roda belakang (RWD) yang gagah, dengan sebuah crossover mungil 1.000cc, 5-seater, berpenggerak roda depan (FWD). Secara harga jual kembali pun, Rush masih memegang mahkota.

Belum lagi komentar pedas netizen otomotif yang sering berseliweran di kolom komentar YouTube:

“Ah, Raize mah cuma LCGC yang dikasih turbo.”

“Agya jinjit, mesin getar 3 silinder.”

“Mobil mainan, mana kuat nanjak.”

Saya hanya tersenyum kecut mendengarnya. Mereka yang berkomentar begitu mungkin lupa, atau belum pernah merasakan, bahwa angka di brosur tidak selalu menceritakan kebenaran di jalan raya.

Setelah ribuan kilometer bersama Raize, melewati jalur-jalur yang membuat pengemudi pemula gemetar, saya berani menyimpulkan satu hal: Keputusan ini bukan downgrade. Bagi saya, ini adalah upgrade kenyamanan dan performa yang tersamar dalam kemasan yang lebih ringkas.

Mitos kenyamanan: siapa yang sebenarnya “gerobak”?

Mari kita bicara jujur soal mantan mobil saya, Toyota Rush. Saya menghormati Rush sebagai mobil “badak”. Sasis ladder frame dan gardan belakangnya memang tangguh untuk disiksa. Tapi, ketangguhan itu memakan korban: punggung pengemudi.

Suspensi Rush cenderung keras dan memantul-mantul (bouncy). Lewat polisi tidur sedikit kencang, isi perut rasanya dikocok.

Lalu saya duduk di kokpit Toyota Raize. Banyak yang mengejeknya “LCGC naik kelas” karena material plastik dashboard-nya. Oke, plastiknya memang keras. Tapi begitu roda berputar, ceritanya berbeda.
Platform DNGA (Daihatsu New Global Architecture) pada Raize memberikan rasa berkendara yang solid. Rigid, tapi empuk.

Raize bisa meredam guncangan jauh lebih baik ketimbang Rush. Raize memeluk aspal dengan percaya diri, dan tidak limbung saat menikung. Jika kenyamanan adalah parameter kemewahan, Raize jelas lebih mewah daripada Rush yang utilitarian.

Pembuktian di Jalur Kaligesing

Keraguan terbesar pada Raize sebenarnya ada pada mesinnya yang cuma 1.000cc, 3 silinder. “Kuat nanjak nggak?” adalah pertanyaan wajib. Untuk menjawabnya, saya tidak membawanya ke parkiran mall. Saya membawanya ke jalur Purworejo-Yogyakarta via Kaligesing. Bagi yang belum tahu, jalur Kaligesing adalah mimpi buruk bagi mobil yang “napasnya” pendek.

Tanjakannya panjang, curam, dan berkelok-kelok tajam membelah Bukit Menoreh. Di jalur ini, mobil 1.500cc non-turbo sering kali harus ngeden, meraung di gigi 1 atau L, atau mematikan AC demi menjaga momentum.

Bagaimana dengan Raize? Saya terkejut. Sangat terkejut. Tanpa perlu mematikan AC, tanpa perlu ancang-ancang jauh, Raize melahap tanjakan Kaligesing dengan santai.

Rahasianya ada pada Turbo. Torsi 140 Nm sudah “jambak” di putaran bawah (sekitar 2.400 RPM). Di saat mobil lain sibuk mencari tenaga di RPM tinggi yang berisik, Raize cukup “bersiul” halus. Turbonya memberikan dorongan instan yang membuat tanjakan curam terasa landai.

Saya melibas tikungan menanjak Kaligesing tanpa kendala, bahkan masih sanggup menyalip truk yang kepayahan.

Talaga Bodas? Sepele buat Raize

Belum puas, saya siksa lagi mobil ini ke Talaga Bodas, Garut.

Ini level yang berbeda. Jalannya tidak begitu lebar, aspalnya tidak semua mulus, dan kemiringannya di beberapa titik cukup ekstrem. Banyak MPV besar yang menyerah di sini, bau kampas kopling gosong adalah aroma wangi yang biasa tercium.

Sekali lagi, mitos “1.000cc tak kuat nanjak” terpatahkan. Dengan transmisi di mode manual (atau S), Raize merayap naik dengan percaya diri. Tidak perlu mematikan AC, transmisi D-CVT yang sering diragukan itu justru menyalurkan tenaga dengan halus, tanpa hentakan yang bikin mual.

Di puncak Talaga Bodas, sambil melihat kawah putih, saya merenung. Mobil sekecil ini, yang sering diejek “mesin parutan kelapa”, ternyata punya nyali sebesar ini.

BACA JUGA: Toyota Veloz, Mobil yang Sangar di Jalan Datar tapi Lemas di Tanjakan

Paradoks irit tapi bertenaga yang tak berlaku untuk Toyota Raize

Nah, ini bagian favorit saya. Biasanya, mobil yang tenaganya enak, bensinnya boros. Tapi Raize adalah sebuah anomali.

Dulu saat pakai Rush 1.500cc, konsumsi BBM dalam kota saya berkutat di angka 1:9 sampai 1:11 km/liter. Kalau macet parah di Bekasi, jarum bensin turunnya bikin deg-degan. Tenaganya ada, tapi “minumnya” juga kuat.

Sekarang dengan Raize, di rute dalam kota yang sama macetnya, saya bisa dapat 1:13 sampai 1:15 km/liter. Lebih gila lagi kalau mengendarai mobil ini dengan santai ke luar kota atau jalan tol. Angka 1:25 km/liter itu bukan bualan belaka.

Kok bisa? Karena mesinnya cuma 1.000cc. Saat cruising santai atau macet-macetan, dia minum bensin selayaknya LCGC. Tapi begitu butuh tenaga buat nyalip atau nanjak, Turbonya aktif memberi tenaga setara mesin 1.500cc.

Jadi, Raize itu ibarat punya dua kepribadian. Raize bisa seirit Agya saat santai, tapi bisa seganas Rush saat dibutuhkan. Dompet aman, adrenalin jalan.

BACA JUGA: Toyota Innova Reborn, Mobilnya Orang Beradab dan Memahami Kenyamanan Adalah Segalanya, Beda dengan Pengendara Fortuner yang Arogan

Apa arti sebuah upgrade?

Perjalanan mengganti Rush ke Toyota Raize mengajarkan saya untuk mendefinisikan ulang makna upgrade. Selama ini, kita dididik oleh gengsi sosial bahwa upgrade mobil haruslah ke yang cc-nya lebih besar, dimensinya lebih panjang, dan harganya lebih mahal. Kita rela mengorbankan kenyamanan harian demi terlihat gagah di mata tetangga.

Padahal, upgrade yang sesungguhnya adalah ketika kualitas hidup kita membaik saat berkendara. Buat apa mobil besar kalau suspensinya bikin sakit pinggang? Buat apa cc besar kalau boros bensin dan ngos-ngosan di tanjakan kayak keberatan dosa?

Toyota Raize memberikan saya efisiensi. Ia memberikan saya kelincahan di kota, dan kekuatan di gunung. Ia memberikan saya fitur safety canggih (TSS) yang tidak dimiliki Rush lama saya, padahal sama-sama di tipe tertingginya. Jadi, bagi kalian yang masih ragu atau takut dibilang “turun kasta”, percayalah pada rasa, bukan pada kata orang. Sebab bagi saya, upgrade bukan cuma soal seberapa mahal mobil dan aksesoris yang bisa dipamerkan, tapi seberapa nikmat perjalanan yang bisa saya rasakan.

Penulis: Akhmad Yunus Vixroni
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Mobil Toyota yang Remuk Redam di Pasaran

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version