Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros (Unsplash.com)

Di Indonesia, nama Toyota Kijang Kapsul masih sering disebut-sebut sebagai mobil keluarga legendaris. Banyak orang bilang mobil ini “bandel”, “awet”, dan “cocok buat harian”. Tapi kalau kita bedah lebih dalam, Kijang Kapsul sebenarnya cuma unggul di satu hal: spare part yang murah meriah. Selain itu? Ampas. Desain kuno, mesin lemah, fitur minim, keselamatan nol, dan yang paling bikin kantong jebol: boros bahan bakarnya luar biasa.

Mobil yang diproduksi antara 1997-2004 ini memang pernah jadi raja jalanan karena harganya terjangkau dan suku cadangnya mudah didapat. Tapi di era modern seperti sekarang, Kijang Kapsul sudah ketinggalan zaman banget. Banyak orang yang awalnya tertarik karena harga bekasnya cuma 40-70 jutaan, akhirnya menyesal karena biaya operasionalnya yang bikin miskin. Mobil ini layak disebut “mobil jelek”.

Sejarah singkat Kijang Kapsul, mobil era 90-an yang tak berkembang

Kijang Kapsul lahir sebagai generasi ke-4 Toyota Kijang dengan bodi “kapsul” yang lebih aerodinamis dibanding pendahulunya. Mesinnya pakai 1.5L sampai 2.0L bensin (7K, 1RZ, atau 2RZ) dan ada varian diesel 2.4L. Saat itu, mobil ini dipuji karena kabin luas yang bisa muat 7-8 orang plus barang.

Namun, teknologi yang dipakai sudah jadul. Suspensi per daun, rem tromol di belakang (banyak varian), AC double blower yang rakus listrik, dan head unit kaset/CD. Setelah facelift tahun 2000-an, sedikit ada perbaikan, tapi tetap jauh dari standar mobil MPV modern seperti Avanza atau Innova. Mobil ini memang bertahan lama di pasar bekas, tapi itu karena orang Indonesia suka yang “awet murah”, bukan karena memang bagus.

Faktanya, semakin tua, semakin banyak masalah yang muncul.

Satu-satunya kelebihan cuma spare part murah dan mudah didapat

Ini memang benar adanya. Kijang Kapsul juara banget soal suku cadang. Karena produksi massal dan banyak bengkel umum yang paham, harga spare partnya super terjangkau. Busi cuma Rp20 ribu, filter oli Rp30 ribu, kampas rem Rp100 ribu, bahkan mesin overhaul pun tidak sampai Rp10 juta. Suku cadang aftermarket juga melimpah di toko-toko online atau toko onderdil.

Ini yang bikin banyak orang tetap setia sebab kalau rusak sedikit, ya ganti. Wong murah. Tapi stop di situ dulu. Spare part murah bukan berarti mobilnya bagus. Justru karena mobilnya sering rusak, orang terpaksa sering ke bengkel. Jadi kelebihan ini malah jadi jebakan yang kelihatan murah, tapi pada akhirnya bikin repot dan boros waktu.

BACA JUGA: Mobil Kijang LGX: Tetap Nyaman meski Ketinggalan Zaman

Mesin lemah dan underpower, tenaga pas-pasan untuk ukuran MPV

Mesin Kijang Kapsul terkenal “bandel”, tapi bandel bukan berarti kuat. Varian bensin 1.8L atau 2.0L sering disebut underpower. Tarikan awal berat, apalagi kalau muatan penuh. Naik tanjakan kampung jelas bakal langsung ngos-ngosan. Top speed maksimal 120-130 km/jam pun mesin sudah meraung-raung.

Banyak pemilik komplain tarikan mobil ini “lemot” dibanding mobil sekelasnya. Diesel memang sedikit lebih bertenaga, tapi suaranya berisik masuk kabin. Jadi pilihan mana pun, mesinnya tidak pernah bikin puas.

Boros bahan bakar, alasan utama kenapa mobil ini ampas

Ini poin terpenting, karena Kijang Kapsul super boros. Konsumsi BBM-nya benar-benar bikin kantong jebol. Varian bensin 1.8L non-EFI di kota bisa cuma 1:7 km/liter (1 liter untuk 7 km). Kalau macet parah, bisa drop jadi 1:6. Di luar kota paling banter 1:8-1:9. Varian EFI sedikit lebih baik, sekitar 1:8-1:9 di kota, tapi tetap jauh dari irit.

Bayangkan kalau dipakai harian untuk antar jemput anak atau kerja selama seminggu bisa Rp300-400 ribu hanya untuk bensin. Diesel memang sedikit lebih irit (bisa 1:10-12), tapi tetap tidak layak disebut hemat. Lebih baik beli mobil baru LCGC yang irit 1:15-20. Jadi ya, Kijang Kapsul ini mobil boros yang bikin pengeluaran bulanan membengkak. Spare part murah tidak akan menolong kalau tiap bulan harus isi bensin dua kali lipat dibanding mobil lain.

Fitur keselamatan Kijang Kapsul minim: bahaya besar di jalan

Ngomongin fitur keselamatan di Kijang Kapsul itu kayak ngomongin mitos, alias nggak ada. Tidak ada airbag, tidak ada ABS, rem belakang banyak yang masih tromol, sabuk pengaman tengah baru ada di varian tertinggi setelah facelift. Singkatnya: minim, untuk nggak bilang nggak ada sama sekali. Struktur body-on-frame memang kuat, tapi tidak cukup melindungi penumpang saat (amit-amit) tabrakan.

Di era sekarang di mana mobil murah sekalipun sudah punya ABS dan dual airbag, Kijang Kapsul terasa seperti kendaraan berbahaya. Banyak kecelakaan melibatkan Kijang Kapsul karena rem kurang responsif atau handling yang kurang stabil di kecepatan tinggi. Ini bukan mobil keluarga yang aman, tapi mobil yang bikin was-was setiap keluar rumah.

Kenyamanan yang kurang: berisik, panas, dan kuno

Bicara kendaraan, kita harus bicara kenyamanan, dan Kijang Kapsul, well, tidak bisa dibilang nyaman. Kabin Kijang memang luas, tapi tidak kedap suara, sama sekali. Suara mesin, angin, dan jalan masuk semua. Suspensi per daun bikin guncangan terasa keras di jalan rusak. AC double blower dingin sih, tapi bikin boros dan suara blower keras. Head unit jadul, tidak ada USB atau Bluetooth standar. Desain interior masih pakai bahan plastik keras yang cepat retak dan terlihat kumuh.

Banyak yang bilang setelah 1-2 tahun pakai, mobil ini mulai berisik di bagian depan (suara dencit), karet body mengelupas, dan bushing aus. Jadi kenyamanannya cuma di awal-awal saja. Setelah itu, rasanya seperti naik mobil tempur yang sudah uzur.

Jangan tertipu harga murah, Kijang Kapsul bukan pilihan bijak

Kijang Kapsul memang punya spare part murah dan mesin yang relatif jarang rewel total. Tapi itu satu-satunya kelebihan. Sisanya ampas. Sudah boros bensin yang bikin miskin, tenaga lemah, keselamatan minim, kenyamanan rendah, dan desain kuno yang sudah tidak relevan.

Kalau budget terbatas, lebih baik cari mobil LCGC atau MPV bekas yang lebih muda seperti Avanza, Xenia, atau bahkan Innova generasi pertama yang sudah ada fitur lebih baik.

Jadi, sebelum tergiur harga 50 jutaan, hitung dulu biaya bensin dan perawatan jangka panjang. Kijang Kapsul bukan legenda, tapi museum berjalan yang cuma menang di spare part murah. Mending pilih yang lain, biar tidak menyesal akhirnya.

Penulis: Budi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Saya Curiga, Jangan-jangan Toyota Kijang Itu Ditanami Susuk

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version