Dulu Saya Menganggap Toyota Calya Adalah Gerobak Diberi Mesin, tapi Kini Saya Menjilat Ludah Sendiri

Pengalaman Naik Toyota Calya dari Kudus ke Semarang: Rasanya seperti Naik Gerobak Ber-AC, Kapok!

Pengalaman Naik Toyota Calya dari Kudus ke Semarang: Rasanya seperti Naik Gerobak Ber-AC, Kapok! (Wilzz99 via Wikimedia Commons)

Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis ulasan singkat tentang Toyota Calya yang cukup pedas. Saya menyebutnya sebagai “gerobak diberi mesin”, sebuah ungkapan yang mencerminkan kekecewaan saya terhadap mobil ini saat pertama kali mencobanya.

Saat itu, saya merasa Calya terlalu sederhana, kurang mewah, dan seperti kendaraan utilitarian yang dibuat seadanya untuk pasar entry-level. Tapi, waktu berlalu, dan pengalaman hidup mengajarkan saya untuk lebih bersyukur. Di lalu lintas padat dan jalanan sering banjir, Calya justru menjadi teman setia yang andal untuk perjalanan harian, mudik ke desa, dan bahkan liburan keluarga, saya sadar bahwa penilaian saya dulu terlalu berlebihan.

Mobil ini memang bukanlah supercar, tapi ia menawarkan nilai yang luar biasa untuk uang yang dikeluarkan. Dan tempat rasa bersyukur dilabuhkan.

Desain eksterior Toyota Calya kini lebih agresif

Dulu, model awal terlihat polos dan kurang menarik, tapi versi terbaru—terutama setelah facelift—memiliki tampilan yang lebih modern dan agresif. Grille depan yang besar dengan aksen chrome, lampu depan smoked yang tajam, dan bumper bawah yang sporty membuatnya terlihat seperti MPV kelas atas, meski tetap LCGC.

Panjangnya hanya 4.110 mm, lebar 1.655 mm, dan tinggi 1.600 mm, membuatnya mudah diparkir di gang-gang sempit atau saat macet di Jalan Pandanaran. Ground clearance 180 mm juga membantu saat melewati banjir musiman di kawasan pesisir.

Pengalaman pribadi saya dimulai saat test drive. Saya ingat betul, hari itu hujan deras, dan saya khawatir mobil ini akan terasa ringkih. Tapi, bodinya yang dibuat dari baja ringan terasa kokoh. Velg alloy 14 inci dengan ban 175/65 R14 memberikan grip yang baik di jalan basah, meski bukan yang terbaik untuk off-road. Saya pernah membawanya ke daerah pegunungan di sekitar Ungaran, dan ia mampu menanjak tanpa masalah berarti.

Warna hitam metallic yang saya pilih membuatnya terlihat elegan, tidak seperti “gerobak” yang saya bayangkan dulu. Lampu LED depan (di varian G) cukup terang untuk malam hari, meski saya tambah fog lamp aftermarket untuk visibilitas lebih baik.

Salah satu fitur eksterior yang saya apresiasi adalah rear parking sensor. Di tempat parkir, parkir paralel sering jadi mimpi buruk, tapi sensor ini membantu saya menghindari benturan kecil. Pernah suatu kali, saat mundur di pasar malam, bunyi beep-nya menyelamatkan bumper dari troli pedagang.

Desain pintu sliding? Tidak ada dong, tapi pintu konvensionalnya ringan dan mudah dibuka anak-anak. Bagasi belakang cukup luas untuk belanja bulanan atau koper. Secara keseluruhan, Toyota Calya bukan lagi mobil murahan, tapi kendaraan praktis yang dirancang untuk kehidupan sehari-hari di Indonesia.

BACA JUGA: 5 Alasan Mengapa Pengendara Mobil Sigra-Calya Suka Ugal-Ugalan kayak Pajero-Fortuner

Interior dan kenyamanan

Masuk ke dalam kabin, pengalaman saya dengan interior Calya benar-benar mengubah pandangan saya. Dulu saya mengkritiknya karena terasa murah, tapi sekarang saya lihat sebagai efisien. Dashboard dengan warna bolder interior—campuran hitam dan cokelat—memberikan nuansa premium yang tak terduga untuk mobil seharga ini. Head unit audio touchscreen 6,8 inci mendukung Android Auto dan Apple CarPlay, yang bisa digunakan setiap hari untuk navigasi via Google Maps saat jemput anak sekolah. Suara speakernya standar, tapi cukup jernih untuk mendengarkan lagu-lagu Jawa favorit kalian.

Kursi tujuh penumpang adalah highlight utama. Baris pertama nyaman dengan penyetelan manual, dan saya merasa lega. Baris kedua bisa digeser untuk ruang kaki lebih, ideal saat bawa keluarga. Lalu baris ketiga lebih cocok untuk anak-anak atau perjalanan pendek, tapi pernah muat tujuh orang dewasa. AC-nya cepat dingin, bahkan di panas terik Semarang siang hari, dengan blower belakang yang menjangkau hingga baris ketiga.

Fitur-fitur kecil yang fungsional macam power window di semua pintu, central lock dengan remote, dan cup holder di setiap baris. Ruang penyimpanan banyak, seperti glove box besar untuk dokumen dan laci di bawah kursi depan untuk botol minum. Bahan jok mudah dibersihkan setelah anak-anak tumpah makanan.

Tapi, tak ada gading yang tak retak, Toyota Calya pun demikian. Kebisingan kabin saat kecepatan tinggi di tol cukup mengganggu, tapi bisa diatasi dengan tambah peredam suara. Secara keseluruhan, interior ini membuat perjalanan harian senyum.

Performa, efisiensi, dan keselamatan

Bagian performa adalah di mana Toyota Calya benar-benar bersinar. Mesin 1.2L 4-silinder Dual VVT-i menghasilkan 87 hp dan torsi 108 Nm, yang terdengar biasa saja, tapi cukup untuk kota seperti Semarang. Transmisi otomatis 4-speed yang saya pilih halus, meski kadang terasa lambat saat overtake di jalan raya, tapi saat dibawa ke tol dan top speed bisa sekitar 140 km/jam. Saran saya sih, jangan lakukan kalau sayang sama diri sendiri.

Selain itu, Toyota Calya enak dibawa santai, sebab efisiensi bahan bakar adalah juaranya. Di perjalanan campur kota dan tol, bisa dapat 15-18 km/liter dengan Pertalite—hemat banget dibanding mobil lain. Suspensi MacPherson strut depan dan torsion beam belakang menyerap guncangan jalan berlubang di kawasan industri dengan baik, meski terasa bouncy saat muatan penuh.

Calya punya dual SRS airbags, ABS dengan EBD, dan ISOFIX untuk kursi anak sebagai fitur keselamatannya. Rear parking sensor sudah saya sebut, tapi ada juga hill start assist di varian AT, berguna di tanjakan. Saat hujan deras dan banjir, stability control (meski basic) membantu menjaga kestabilan. Reputasi Toyota yang bisa diandalkan terbukti; servis rutin di bengkel resmi hanya Rp500.000-700.000 per 10.000 km. 

Jadi kesimpulannya, Toyota Calya telah mengubah persepsi saya tentang mobil ini. Sekarang, bagi saya, ia adalah mobil “mewah” yang andal, irit, dan praktis untuk kehidupan di Indonesia. Jika Anda mencari MPV budget-friendly untuk keluarga, Calya layak dipertimbangkan.

Penulis: Budi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Toyota Calya: Tangguh, Irit, tapi Joknya B Aja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version