Apakah kamu sering menemukan kalimat “Bersedia ditempatkan di mana saja” di dalam sebuah loker? Nah, pekerjaan yang saya lakoni ini punya kalimat yang mirip. Bunyinya, “Bersedia diberangkatkan kapan saja.” Dan, kondisi ini yang sering membuat saya pusing ketika mencari tiket pesawat.
Ya, saya harus pontang-panting mencari tiket pesawat karena serba mendadak. Kali ini, 6 jam sebelum tahun berganti, saya harus berangkat dari Balikpapan menuju Makassar.
Betul sekali, amanat ini baru saya terima kurang dari 6 jam sebelum pergantian tahun. Tidak perlu berlama-lama sambat, saya segera membuka aplikasi untuk melihat ketersediaan tiket pesawat sambil menggerutu.
Naluri hemat ketika war tiket pesawat
Lembaga tempat saya bekerja memang akan menanggung semua biaya perjalanan. Namun, tetap saja, naluri ngirit sudah kadung tertanam di dalam kalbu.
Wajar, dong, kalau harga tiket pesawat melambung tinggi. Namanya saja bulan vakansi. Apalagi kalau mau membeli H-1. Harga tiket pesawat dari Balikpapan ke Makassar yang biasanya hanya Rp900 ribuan (direct flight) kini mencapai angka Rp2,3 jutaan. Itu saja saya harus transit di Tanjung Redeb (Berau).
Makanya, saya mencoba mencari di aplikasi yang berbeda. Tapi, hasilnya tetap sama. Ketika mulai putus asa, saya seperti mendapat berkah dari semesta. Saya menemukan tiket pesawat untuk penerbangan langsung. Harga tiketnya Rp2,4 juta dan itu tipe business class. Terima kasih, semesta.
Bersedia ditempatkan di mana saja dan kapan saja, termasuk di business class. HEHE.
Saya, manusia dengan naluri ngirit ini tentu antusias. Minimal saya akan bisa merasakan kehidupan orang yang kebanyakan duit dengan pergi naik pesawat kelas bisnis.
Ternyata betul, ya. Allah akan mengangkat derajat manusia yang sabar. Nah, berikut pengalaman saya jadi orang kaya, walau untuk sesaat. Yah, sekitar 1 jam, lah.
Nggak perlu antre saat check in dan drop baggage
Saya berangkat melalui Bandara Sepinggan Balikpapan di mana counter check in antara kelas ekonomi dan bisnis tidak dipisah. Antrean sudah lumayan mengular.
Sebagai penumpang pemegang tiket pesawat kelas bisnis newbie, saya merasa kesal. Yah, sama aja dong ini saya harus antre juga.
Nah, saya inisiatif mencoba tanya ke salah satu petugas. Sang petugas dengan wajah sedikit tidak yakin setelah melihat tampang saya kemudian bertanya, “Kakaknya business class?”
Saya mengangguk dengan anggun.
Sang petugas kemudian berbisik ke bagian counter check memberi tanda bahwa saya adalah penumpang prioritas (bukan karena hamil atau lansia, ya). “Silakan habis ini langsung ke depan ya untuk drop bagasinya.” NAH!
Saya berjalan melewati barisan pemegang tiket pesawat kelas ekonomi. Kadang saya merasa mereka menatap saya dengan tajam dan saya balas dengan senyuman dan sedikit rasa sungkan. Rasanya aneh. Mungkin karena nggak terbiasa jadi orang kaya hehe.
Oya, tiket pesawat kelas bisnis memberimu benefit bagasi sampai 30 kilogram. Ini dua kalinya kelas ekonomi.
Masuk dan turun pesawat, pemegang tiket pesawat kelas bisnis selalu duluan
Pemegang tiket pesawat kelas bisnis mendapatkan privilege giliran masuk dan turun pesawat. Jadi, penumpang kelas bisnis akan didahulukan.
Biasanya, saya akan memilih paling terakhir untuk naik dan turun. Maklum, biasanya saya dapat tempat duduk di bagian tengah sampai belakang. Kali ini saya mendapat tempat di depan. Saya juga mendapat space duduk yang tentunya jauh lebih lega dibanding kelas ekonomi.
Tapi, sebetulnya, nggak ada yang terlalu spesial selain ruang duduk yang lebih lega. Kebetulan, layar TV atau LCD sudah nggak ada. Dampak efisiensi mungkin. Jendelanya juga sudah agak bruwet. Tapi yah, pemegang tiket pesawat kelas bisnis jadi prioritas.
Belum juga take off, sudah ditawari macam-macam
Tidak berselang lama saat saya baru saja menaruh pantat di kursi bisnis, Mbak Pramugari muncul langsung menawarkan jus buah. Saya boleh memilih antara jus jambu atau jus mangga. Saya tahu, itu jus kotakan tapi tetap saja saya senang.
Berhubung durasi perjalanan menuju Makassar sekitar 60 menit, maskapai menawari saya meal set. Waktu itu, saya mendapatkan pizza, puding, kacang koro, dan air mineral 330ml. Mereka menyajikan meal set dengan napkin, sendok mini, garpu, dan pisau.
Tahu apa yang menggelitik? Pramugari, dengan soft spoken bertanya, “Makanan akan kami sajikan setelah take off. Apakah berkenan untuk disajikan atau tidak?”
Kalau saja saya menjawab sesuai yang ada di otak mungkin begini jawabannya: “Mbak bercanda, ya? Retoris sekali. Kok pake ditanya to. Ya, sudah jelas berkenan banget.”
Rupanya saya belum cukup kaya untuk menolak sajian tersebut. Harga tiket pesawat sudah mahal, ya masak mau menolak makanan.
Observasi OKB (Orang Kaya Beneran dan Orang Kaya Baru)
Durasi penerbangan yang tidak terlalu lama membuat saya enggan untuk memejamkan mata. Akan lebih berfaedah untuk saya mengamati mana orang yang kaya beneran dan rela membeli tiket pesawat tipe bisnis ini. Mana tau ada yang seperti saya. Yang terpaksa membeli tiket pesawat kelas bisnis (terpaksa tapi senang).
Kursi kelas bisnis penerbangan ini ada 12 dan terisi 8 saja termasuk saya. Saya mulai dengan salah satu penumpang.
Seorang pria dengan kemeja kotak-kotak dan vest necis. Kalau boleh menebak, mungkin beliau adalah pejabat. Minimal orang penting. Hal ini terbukti setibanya di Makassar. Baru juga masuk bandara, ada ajudan atau mungkin protokoler yang menyambut beliau. Mereka sigap, langsung membawakan tas bapak tersebut.
Ada juga dua ibu-ibu yang kalau saya lihat juga bukan orang dengan UMR Jogja. Mereka mengenakan sepatu balerina merk Puma, kaca mata hitam, memangku tas lengkap dengan gantungan Labubu.
Terakhir, ada juga yang kalau boleh berasumsi beliau sama seperti saya yang baru pertama kali di kelas bisnis. Sepanjang perjalanan, dia banyak mendokumentasi. Mulai dari menu makanan, ambience di kelas bisnis, dan tentunya swafoto. Pemegang tiket pesawat kelas bisnis ada yang modelan gitu juga, ya.
Benefit pemegang tiket pesawat kelas bisnis after landing
“Kita telah tiba di Bandar Udara Sultan Hasanuddin. Kami akan memprioritaskan penumpang kelas bisnis untuk turun terlebih dahulu dari pesawat.”
Oke, saya turun dari pesawat dengan hati senang tapi agak nggak rela. Pengalaman jadi pemegang tiket pesawat kelas bisnis ini akan segera berakhir.
Pesawat parkir agak jauh dari pintu bandara dan mengharuskan kami menaiki shuttle bus. Saya sudah mengira akan menunggu beberapa waktu sebelum shuttle bus penuh terisi. Eh, kelas bisnis berbeda.
Bus langsung bergerak setelah orang ke-8, atau seluruh penumpang kelas bisnis, masuk ke dalam bus. Begitu juga dengan bagasi yang duluan tiba, dengan tag priority baggage. Mantap betul.
Sebetulnya, saya satu pesawat dengan teman saya yang juga berangkat dari Pontianak. Bedanya, dia dapat tiket pesawat kelas ekonomi.
Saya yang merasa harus agak jemawa ini tentu tidak melewatkan kesempatan untuk ngece dan segera mengetik dan menghubungi dengan kalimat, “Mana nih, kelas ekonomi lama juga, ya.”
Tak berselang lama, teman saya sudah melihat saya dari kejauhan dan membalas dengan singkat dan padat: “Penumpang kelas bisnis kok nggawa kardus amplang.”
Saya akui, kali ini saya kalah telak. Money can’t buy class, tapi setidaknya bisa membeli amplang.
Penulis: Mozara Kartika Putri
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Harga Tiket Pesawat Tujuan Dalam Negeri Nggak Ngotak! Harganya Lebih Mahal daripada ke Luar Negeri
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
