Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama (Hijrah Abu via Unsplash)

Saya bersyukur lahir dan besar di Kota Tangerang. Bukan karena kotanya paling indah, apalagi paling estetik buat konten media sosial, tapi karena satu hal yang sering disepelekan orang: mudah dan murah buat jalan-jalan.

Kalimat “wisata mahal” memang sering terdengar di telinga. Tapi lama-lama saya sadar, mahal atau tidaknya wisata sering kali bukan soal tempatnya, melainkan akses menuju ke sana. Bandingkan saja dengan daerah seperti Serang atau Pandeglang. Banyak destinasi alamnya bagus, tapi transportasi belum terintegrasi. Mau tidak mau harus naik kendaraan pribadi, belum lagi urusan pungli yang kadang bikin liburan terasa seperti ujian mental.

Sebagai anak Tangerang, saya punya privilege yang jarang saya sadari sebelumnya: kalau bosan, saya bisa keluar rumah dan langsung sampai tempat wisata tanpa harus mikir bensin, parkir, atau “uang tambahan tak terduga”. Dan ini betul-betul membantu.

Tangerang, kota dengan banyak taman dan ruang bernapas

Tangerang mungkin bukan kota tujuan wisata utama, tapi urusan ruang terbuka hijau, kota ini tidak pelit. Ada sekitar 32 taman tematik, mulai dari taman gajah tunggal, taman burung, sampai taman Situ Cipondoh.

Situ Cipondoh jadi tempat favorit saya karena lokasinya dekat dari rumah. Cukup jalan kaki sekitar satu kilometer, sudah bisa menikmati hal-hal menyenangkan di tempat ini. Di sana ada danau, jogging track, dan floating market kecil yang menjual jajanan. Kalau lagi suntuk, duduk di bangku taman sambil menatap riak air danau sudah cukup bikin kepala adem.

BACA JUGA: Tangerang Selatan (Memang) Masih Jelek, tapi Apa Ada Kota Pinggir Jakarta yang Lebih Baik?

Yang menyenangkan, untuk mengakses Situ Cipondoh tidak perlu tiket masuk. Tidak perlu rencana ribet. Mau melamun bisa, mau jogging santai juga aman. Di kota yang ritmenya makin cepat, ruang-ruang seperti ini terasa penting, untuk menyendiri dan menenangkan diri.

Transportasi umum yang bikin wisata jadi masuk akal

Masalah utama orang malas jalan-jalan biasanya satu: transportasinya gimana. Macet bikin capek, nyetir jauh bikin pantat pegal, dan ongkos bensin sering bikin mikir dua kali. Tapi inilah yang bikin Tangerang juara, sebab tersedia banyak transportasi umum. Jadi ya, naik transportasi umum jadi opsi yang realistis. Ada Bus Tayo dan angkot Si Benteng untuk keliling kota. Mau ke luar kota? Tinggal pilih Transjakarta atau KRL.

Ke Jakarta bisa naik Transjakarta T11 atau T12 dari Terminal Poris Plawad, atau Koridor 13 dari CBD Ciledug. Mau ke Istiqlal tinggal naik T12. Mau ke Petamburan pakai T11. Tinggal sesuaikan arah, tidak perlu pusing.

Tangerang juga punya empat stasiun KRL: Poris, Batu Ceper, Tanah Tinggi, dan Tangerang. Mau KRL-an buat nongkrong, kuliah, atau kerja rasanya cukup nyaman. Kalau turun stasiun dan ojol lagi susah, masih ada ojek pangkalan yang setia menunggu dan mengantar hingga tempat tujuan. Sebagai catatan, jangan lupa tanya hanya dan lakukan penawaran. Saya kurang menyarankan naik opang jika ga kepepet keadaan sebab tarif yang lebih mahal jika dibandingkan opang.

Wisata murah ala mahasiswa

Sebagai mahasiswa, saya merasakan betul bahwa wisata murah itu soal strategi. Mau Jumatan di Istiqlal lalu jalan kaki ke Monas? Bisa. Ongkos Transjakarta pulang pergi sekitar tujuh ribu rupiah. Mau ke Ancol, Bogor, UI, atau sekadar turun di Palmerah buat lihat Gedung DPR, semua bisa diakses dengan KRL.

Kalau tempat wisatanya berbayar, kartu tanda mahasiswa sering jadi penyelamat. Tinggal tunjukkan, harga tiket bisa lebih ramah dibandingkan umum.

BACA JUGA: Nggak Semua Tangerang Itu Mewah dan Modern seperti BSD dan Alam Sutera, Masih Ada Kabupaten Tangerang!

Catatannya satu: murah kalau tidak jajan sembarangan. Bawa bekal dari rumah jauh lebih masuk akal daripada kalap beli makanan yang ujung-ujungnya bikin saldo menipis tanpa sadar. Membawa bekal dari rumah juga menghindari pedagang yang menggetok harga. Walaupun dagangan PKL masih ramah dikantong lebih baik bertanya harga daripada kena getok.

Privilege yang sering tidak disadari 

Pengalaman ini bikin saya sadar, wisata bukan cuma soal niat, tapi soal akses. Tinggal di kota dengan transportasi terintegrasi dan ruang publik yang layak adalah privilege yang sering dianggap biasa.

Dan sebagai anak Tangerang, saya benar-benar bersyukur tentang ini. Saya tidak selalu butuh uang banyak untuk sekadar keluar rumah dan bernapas sebentar. Kadang cukup naik bus, duduk di taman, atau KRL-an tanpa tujuan yang terlalu muluk.

Di tengah narasi bahwa liburan harus mahal dan jauh, Tangerang mengajarkan satu hal sederhana: jalan-jalan itu bisa murah serta mudah, asal kotanya melakukan pembenahan berupa akses yang mudah.

Penulis: Faris Firdaus Alkautsar
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Tangerang Rasa Timur Tengah: Jadi Pusat Bisnis, Minim RTH

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version