Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

Terima Kenyataan bahwa Work-Life Balance Memang Bukan untuk Semua Pekerja

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
3 Oktober 2021
A A
Terima Kenyataan bahwa Work-Life Balance Memang Bukan untuk Semua PekerjaTerima Kenyataan bahwa Work-Life Balance Memang Bukan untuk Semua Pekerja terminal mojok.co

Terima Kenyataan bahwa Work-Life Balance Memang Bukan untuk Semua PekerjaTerima Kenyataan bahwa Work-Life Balance Memang Bukan untuk Semua Pekerja terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Work-life balance dengan segala pro-kontranya, jadi topik yang masih asyik untuk diperdebatkan. Namun, ia sekaligus jadi keresahan utama berjuta-juta pekerja di bumi pertiwi.

Pemantiknya cukup ngetwit ihwal work-life balance, total jam kerja dalam sehari, dan glorifikasi kerja lebih dari 8 jam. Nah, setelah twitnya viral, pasti akan banyak pekerja yang bereaksi. Eh, maksud saya, curhat massal di kolom reply dan quote retweet. Pasalnya, perkara work-life balance sudah menjadi keresahan berjamaah di kalangan pekerja formal. Ya, boleh dibilang, isu ini semacam pemersatu karyawan gitu, lah.

Ya, gimana nggak. Total jam wajib bekerja dalam sehari bagi pekerja itu 8 jam. Jika diakumulasi dalam seminggu jadi 40 jam—soal pembagian hari kerja, hari libur, dan jam kerja tergantung kebijakan perusahaan. Lebih dari itu, akan dihitung sebagai lembur. Mau bekerja di bidang apa pun, jika mengacu pada aturan baku, pakemnya akan seperti itu.

Namun realitasnya, sering kali para pekerja malah biasa-terbiasa-akhirnya terpaksa bekerja lebih dari jam wajib tersebut. Intensitasnya beragam: ada yang sesekali, sering kali, sampai dengan hampir selalu. Pokoknya, nggak kenal waktu. Beberapa di antaranya bahkan tanpa diberi uang lembur dan/atau benefit tambahan.

Menanggapi persoalan ini, wajar saja jika sebagian karyawan hanya bisa pasrah sambil mbatin, “Kerja segan, resign tak mau.” Mau kerja ya males. Mau resign nanti nggak ada pemasukan.

Selain menjadi persoalan paling mendasar, masalah work-life balance ini sudah mengakar di sebagian perusahaan. Celakanya, seakan jadi budaya kerja yang patut dibanggakan. Bahkan, nggak sedikit pekerja yang terjebak dalam situasi: yang punya passion hustle dalam bekerja siapa, yang harus mengorbankan work-life balance siapa. Kalau sesekali pas lagi urgent atau ada momennya boleh, lah. Kalau sampai keterusan? Kebangetan banget, Bos.

Meskipun begitu, perkara work-life balance di dunia kerja bakalan stuck kalau diperdebatkan dengan pembahasan yang itu-itu aja. Namun, ada beberapa saran dari saya, agar—setidaknya—bisa menerapkan work-life balance tipis-tipis.

#1 Pahami bidang/ruang lingkup pekerjaan yang dilamar

Ruang lingkup pekerjaan yang ada dan populer saat ini, suka atau tidak, nggak bisa dipukul rata bisa menerapkan work-life balance. Pasalnya, memang sudah menjadi tanggung jawab sekaligus konsekuensi dari pekerjaan yang dilakoni. Contohnya, pekerja di bidang jasa kesehatan, jasa transportasi, dan pelayanan pelanggan.

Baca Juga:

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

Bukan Jakarta, Tempat Paling Cocok untuk Memulai Karier Adalah Cilegon. Ini Alasannya!

Kendati demikian, meski diberlakukan sistem sif, jam kerja secara reguler masih 8 jam kerja sehari. Kelebihan waktu dalam bekerja, tetap akan dihitung sebagai lembur dan perusahaan nggak bisa semena-mena menerapkan durasi kerja semaunya.

Para pekerja di bidang ini biasanya sudah paham bahwa work-life balance akan bersifat tentatif. Ini tergantung load pekerjaan pada hari kerja. Jadi, bagi kalian yang mengidam-idamkan work-life balance, bisa memilih bidang pekerjaan yang sesuai dengan harapan.

#2 Pahami isi kontrak kerja dengan baik

Setelah sedikit dapat insight bahwa nggak semua ruang lingkup pekerjaan bisa menerapkan work-life balance, tentu memahami isi kontrak kerja dengan baik menjadi komponen penting berikutnya bagi para calon pekerja.

Jika dalam kontrak ada pernyataan, “Bersedia bekerja di luar hari/jam kerja,” kalian berhak bertanya mengenai intensitasnya: menjadi rutinitas atau hanya sesekali. Kalaupun harus bekerja lebih dari waktu yang sudah ditentukan, tanyakan kembali: apakah ada benefit tambahan atau bersifat sukarela? Sifatnya wajib atau opsional?

Sebagai calon karyawan, hal tersebut wajib ditanyakan dan diberi jawaban sejelas-jelasnya. Kalau nggak ditanya, hati-hati bisa jadi back fire. Pasalnya, hal ini kerap kali disepelekan. Padahal, perjanjian dalam kontrak kerja bisa sangat powerful bagi karyawan jika dalam prosesnya ada ketidaksesuaian. Wabilkhusus tentang jam kerja, tanggung jawab, dan hak yang didapat.

#3 Standar kesuksesan nggak ditentukan dari kerja lebih dari 8 jam

Dalam perdebatan work-life balance, selalu terselip glorifikasi kesuksesan berbanding lurus dengan total jam kerja. Bahkan, baru-baru ini pun ada seseorang yang ngetwit,

“Apakah ada yang udah sukses yang kerjanya 8-9 jam aja? Oiya, gw percaya nggak perlu pertaruhkan kesehatan demi kerjaan. Tapi gw belum nemu jagoan-jagoan yang masih percaya work-life balance. Ini yang lagi bareng fellowship semuanya pegang kerjaan di home country masing-masing.”

Memang nggak sepenuhnya salah, sih. Tapi, kan, standar kesuksesan tiap orang beda-beda. Terus, maksudnya bagi siapapun yang masih berharap work-life balance dalam berkarier nggak termasuk jagoan gitu? FYI aja, nih. Ada kok pekerja yang sukses dan kerjanya hanya 8-9 jam aja. PNS, misalnya.

Lagian, banyak perusahaan di berbagai negara sudah menerapkan work-life balance dari jauh-jauh hari, kerja hanya 4 hari dalam seminggu. Eh, perdebatan kita masih gini-gini aja, nih?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Oktober 2021 oleh

Tags: Jam Kerjakarierpekerjaanwork life balance
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

barista

Sampai Kapan Mau Jadi Barista?

26 Desember 2021
lulusan jurusan sejarah kerja di mana mojok

Jangankan Mendapat Pekerjaan, Lulus dari Jurusan Sejarah Saja Susah

26 Agustus 2021
fresh graduate

Cara Menjalani Pekerjaan yang Kamu Benci bagi Fresh Graduate

20 Desember 2021
Ngakunya Butuh Kerja, tapi Pas Dikasih Info Loker kok Malah Pilih-pilih, sih?

Ngakunya Butuh Kerja, tapi Pas Dikasih Info Loker kok Malah Pilih-pilih, sih?

27 Januari 2022
pekerjaan tambahan beban kerja ditolak stres mojok

Pekerjaan yang Bukan Tanggung Jawabmu Sebaiknya Ditolak biar Nggak Stres

7 Oktober 2020
Fenomena HRD Ghosting dan Cara Menghindarinya

Fenomena HRD Ghosting dan Cara Menghindarinya

19 November 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026
4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik Mojok.co

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik

7 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil Mojok.co

Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil

7 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”
  • “Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia
  • Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran
  • Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana
  • Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.