Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Ekonomi

Wacana Tenor KPR 35 Tahun Bahaya, Malah Bikin Waswas Gen Z dan Milenial

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
12 Januari 2024
A A
Wacana Tenor KPR 35 Tahun Bahaya, Malah Bikin Waswas Gen Z dan Milenial

Wacana Tenor KPR 35 Tahun Bahaya, Malah Bikin Waswas Gen Z dan Milenial (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Pemerintah membuat wacana tenor KPR hingga 35 tahun untuk Gen Z dan Milenial. Memangnya boleh nyicil selama itu?

Rumah menjadi komoditas paling berharga saat ini, terlebih bagi Gen Z dan sebagian generasi Milenial yang baru memulai kehidupan berumah tangga. Memangnya apa lagi yang menjadi momok bagi generasi ini ketika menikah selain sulit punya rumah?

Belakangan muncul wacana dari pemerintah yang mengusulkan skema KPR dengan tenor 35 tahun khusus bagi Gen Z dan Milenial. Dalihnya untuk kemudahan para Gen Z dan Milenial memiliki rumah karena uang muka dan cicilannya akan jadi sangat kecil. Sekilas memang terdengar manis. Sangat amat manis seperti es cokelat gula aren plus boba tinggi gula yang berujung bikin penikmatnya diabetes ketika sering mengonsumsinya.

Komentar di berbagai media sosial, mayoritas merasa kebijakan ini tepat. Pikiran mereka sederhana, cicilan jadi lebih rendah karena tenor KPR panjang, bahkan jika dibandingkan dengan biaya sewa rumah per tahun.

Akan tetapi, langkah ini sebenarnya fatal ketika diadopsi dalam kebijakan resmi berskala nasional. Seperti yang saya bilang sebelumnya. Seperti gula yang kalau berlebihan akan menimbulkan diabetes.

Kenaikan harga rumah di Indonesia bikin merinding

Sebelum membahas lebih jauh, saya coba uraikan sedikit gambaran harga rumah saat ini. Dalam beberapa tahun, kenaikan harga rumah di Indonesia itu bikin merinding. Misalnya, pada tahun 2014, harga rumah subsidi ada di kisaran Rp80-an juta untuk yang berlokasi di kawasan non-perkotaan seperti Sukoharjo, Kendal, Kebumen, dan lain-lain. Pada tahun 2020 sudah menyentuh Rp150 juta.

Memang dalam Survei Harga Properti Residensial 2022, Bank Indonesia menyebutkan kalau kenaikan harga rumah tertinggi di kisaran 1,77 persen. Angka 1 persen ini diambil dari angka ratusan juta untuk harga rumah saat ini. Tapi, persentase ini dihitung melalui rata-rata kenaikan nasional.

Kalau dibedah lebih detail, misalnya per daerah, kenaikannya bisa mencapai lebih dari 5 persen per tahun. Dilansir dari Antaranews, laporan hasil riset dari 99 Group pada Oktober 2023 menyebutkan kota besar seperti Medan bahkan kenaikan harga rumah mencapai 8,8 persen per tahun. Lagi pula kenaikan harga itu dihitung dari harga pembelian secara langsung, bukan dengan skema KPR. Kalau dengan skema KPR, ada beban bunga di kisaran 5-10 persen per tahun.

Baca Juga:

UT, Kampus Terbaik Tempat Mahasiswa Tangguh yang Diam-diam Berjuang dan Bertahan Demi Masa Depan

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

Penyebab kenaikan ini tentu dipengaruhi oleh faktor dasar ekonomi, yaitu supply and demand. Logikanya, masyarakat Indonesia makin bertambah, bahkan mengalami ledakan demografi, menyebabkan permintaan kepemilikan rumah jadi tinggi. Tapi di sisi lain, ketersedian rumah makin terbatas karena fenomena scarcity (kelangkaan) yang diakibatkan oleh kepemilikan rumah yang dihegemoni oleh segelintir orang. Mereka menjadikan rumah sebagai komoditas transaksional untuk mendulang keuntungan. Perilaku ini kemudian membuat ketersediaan rumah jadi terbatas dan mengalami ketimpangan.

Ditambah aspek geografis dan ekonomi daerah yang membuat permintaan rumah itu menggumpal hanya di daerah-daerah tertentu. Selain itu, inflasi tahunan yang terus naik jadi penyubur makin tingginya harga rumah tiap tahunnya.

Tenor KPR hingga 35 tahun bukan solusi jangka panjang

Lantas apakah tenor KPR hingga 35 tahun ini bisa jadi solusi? Kalau jangka pendek, mungkin iya. Karena pertumbuhan Gen Z yang memiliki rumah akan naik drastis. Negara jadi punya gambaran statistik tentang keberhasilannya menyediakan rumah untuk generasi penerus.

Akan tetapi, bagaimana dengan jangka panjangnya? Dari segi nasabah dan perbankan sama-sama punya risiko jangka panjang yang mengerikan. Saya coba kasih ilustrasinya.

Kalau kamu adalah Gen Z dan berpikir ini jadi semacam “oase” di tengah harga rumah yang selangit, coba pikirkan dulu baik-baik. Misalnya, kamu mengajukan KPR Rp1 miliar dengan bunga 5 persen per tahun (persentase bunga yang sangat kecil). Jadi, bunganya adalah 1 miliar x 5 persen x 35 tahun = 1,75 miliar. Berarti total yang kamu bayarkan adalah 1 miliar (harga pokok) + 1,75 miliar (bunga) = Rp2,75 miliar. Nah selama 35 tahun kamu membayar Rp2,75 miliar, padahal harga awalnya Rp1 miliar.

Perhitungan ini kalau bunga KPR-nya flat, bukan floating dan di luar dari pertimbangan suku bunga acuan BI, inflasi, dan cost of fund dari perbankan. Indikator perhitungan tersebut sudah pasti membuat harga rumah akan jauh lebih besar dari perhitungan sederhana itu.

Lebih mengerikannya, ketika kamu mengambil KPR di usia 25 tahun (waaah, keren) dengan tenor 35 tahun, artinya KPR lunas di usia 60 tahun. Selama 35 tahun kehidupanmu, pertanyaannya, kamu yakin akan menjalaninya dengan mulus? Tanpa tantangan ekonomi? Lebih ekstrem, kamu yakin umurmu panjang? Kalau pekerjaanmu di BUMN yang masuknya super sulit itu sih nggak apa-apa, ya. Semua bisa lebih terjamin.

Tapi bagaimana dengan mereka yang kepastian kerjanya nggak terjamin. Bagaimana dengan mereka yang baru bisa mengambil KPR di usia 35 tahun? Mereka harus menghadapi tantangan kenaikan inflasi sementara usia produktifnya kian menurun. Siapa yang akan menanggung utang KPR mereka dengan tenor mencapai 35 tahun ketika mereka sudah masuk masa pensiun?

Bahaya dari sisi perbankan juga

Bahaya tenor KPR hingga 35 tahun ini juga nggak terbatas di sisi nasabah. Dari sisi perbankan juga menyimpan risiko sistemik jika skema ini diberlakukan tanpa pertimbangan matang. Ketika ini menjadi kebijakan nasional, perbankan harus siap dengan risiko gagal bayar dari nasabah. Okelah kalau gagal bayarnya masih kisaran ratusan debitur, tapi bagaimana jika mencapai jutaan?

Ingat krisis Subprime Mortgage tahun 2008? Kredit macet sektor properti di AS yang membuat efek domino terhadap situasi krisis di negara-negara Eropa. Krisis ini dipicu oleh gagal bayar para debitur properti yang awalnya diiming-imingi harga rumah yang sangat murah. Ledakan pengajuan properti oleh masyarakat kemudian membuat portofolio dari sektor properti ini menarik, sehingga oleh perbankan portofolio itu dilempar ke pasar sekunder dalam bentuk surat berharga.

Dalam perjalanannya, ternyata para nasabah banyak yang mengalami gagal bayar sehingga berefek pada bank yang harus pailit karena menanggung kewajiban di pasar sekunder. Kejatuhan sebuah bank berbahaya karena berpengaruh pada ekosistem keuangan secara nasional, lho.

Mungkin persentase terulangnya krisis Subprime Mortgage itu kecil, tapi peristiwa itu harusnya dijadikan pertimbangan pemerintah sebelum benar-benar memberlakukan kebijakan tenor KPR hingga 35 tahun ini. Terlebih jumlah Gen Z dan Milenial sangat mendominasi. Kalau ada 5 persen dari 50 juta Gen Z dan Milenial yang mengajukan KPR ternyata gagal bayar, perbankan pasti kelabakan. Karena bank juga punya tanggung jawab ke pengembang, kreditur, dan investor di pasar sekunder. Yakin pemerintah siap menanggung?

Ada baiknya, daripada ngebet memberikan tenor KPR hingga 35 tahun, pemerintah tertibkan saja cukong dan taipan yang sukanya menghegemoni rumah dengan jumlah banyak padahal nggak butuh-butuh amat.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Serba-serbi KPR: Tips dan Trik agar Pengajuan KPR Diterima dan Bisa Dapat Bunga yang Rendah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Januari 2024 oleh

Tags: bankbeli rumahgen zharga rumahKPRMilenialpilihan redaksiskema KPRtenor KPR
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Gang 41 Ngaliyan Semarang, Gang Sempit yang Jadi Pintu Doraemon Mahasiswa UIN Walisongo

Gang 41 Ngaliyan Semarang, Gang Sempit yang Jadi Pintu Doraemon Mahasiswa UIN Walisongo

2 November 2023
6 Alasan Orang Kaya Bayar Pakai Kartu Kredit meski Bergelimang Duit

6 Alasan Orang Kaya Bayar Pakai Kartu Kredit padahal Bergelimang Duit

5 Agustus 2024
3 Rekomendasi Coffee Shop di Jogja dengan Jam Buka Pagi Terminal Mojok

3 Rekomendasi Coffee Shop di Jogja dengan Jam Buka Pagi

17 Juni 2022
Layar Hitam di Episode 14 Yumi's Cells: Pengingat bahwa Komunikasi dalam Hubungan Itu Penting terminal mojok.co

Layar Hitam di Episode 14 Yumi’s Cells: Pengingat bahwa Komunikasi dalam Hubungan Itu Penting

31 Oktober 2021
Membangun MRT di Surabaya Memang Ideal, tapi Kurang Masuk Akal Terminal Mojok

Membangun MRT di Surabaya Memang Ideal, tapi Kurang Masuk Akal

22 Agustus 2022
Kasihan Motor Saya jika Pertalite Beneran Dihapus

Beli Pertalite Pakai Aplikasi: Kalau Bisa Dibikin Ribet, Kenapa Tidak?

25 Juni 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja Mojok.co

Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja

16 Januari 2026
Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

14 Januari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Juga Pasar Minggu yang Nggak Kalah Seru

13 Januari 2026
Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama publikasi jurnal

Publikasi Jurnal Kadang Jadi Perbudakan Gaya Baru: Mahasiswa yang Nulis, tapi Dosen yang Dapat Nama, Logikanya di Mana?

19 Januari 2026
Jalan Daendels Jogja Kebumen Makin Bahaya, Bikin Nelangsa (Unsplash)

Di Balik Kengeriannya, Jalan Daendels Menyimpan Keindahan-keindahan yang Hanya Bisa Kita Temukan di Sana

13 Januari 2026
Bekasi Justru Daerah Paling Nggak Cocok Ditinggali di Sekitaran Jakarta, Banyak Pungli dan Banjir di Mana-mana

Bekasi: Planet Lain yang Indah, yang Akan Membuatmu Betah

13 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.