Suzuki Gixxer SF 250: Mesinnya Sederhana, Desainnya Biasa Saja

Suzuki Gixxer SF 250: Mesinnya Sederhana, Desainnya Biasa Saja

Suzuki Gixxer SF 250: Mesinnya Sederhana, Desainnya Biasa Saja (pixabay.com)

Motor 250 cc, meski termasuk motor kelas atas, namun bukan berarti pemiliknya jarang. Motor jenis ini mudah ditemui di jalan. Entah karena pabrikan yang serius dalam mengembangkan pasar motor jenis ini, atau memang orang Indonesia makin kaya. Namun yang pasti, motor 250 cc memang menggoda, terutama untuk pencinta motor gahar.

Akhir 2021 kemarin, Suzuki memperkenalkan motor sport 250 cc untuk pasar Indonesia dengan tajuk Suzuki Gixxer SF 250. Telat sih, kompetitor lainnya udah mulai punya motor 250 cc sejak 10 tahun lalu. Bahkan berhasil bikin owners gap, eh ini baru mulai.

Hidup dalam gua, Bro?

Nah, anehnya lagi Gixxer SF 250 bawa karakter mesin yang langsung diketawain sama owners motor 250 cc lainnya. Loh, kenapa? Ya gimana ya kompetitornya udah 250 cc dual silinder dan banyak teknologinya, lha ini baru satu silinder. Beneran hidup di gua kayaknya.

Yang lebih menyedihkan adalah, banyak yang mengira bahwa Suzuki Gixxer SF 250 ini bakal bernasib seperti CBR 250R. Kok bisa?

#1 Mesin

Namanya orang beli motor, yang harus diperhatikan ya mesin. Terutama motor 250 cc, yang jelas menjual karakter mesin yang kuat. Kalau mesinmu biasa saja, ya kurang menarik.

Masalahnya, Suzuki Gixxer SF 250 ini cuman pakai satu silinder. Padahal kompetitor sudah pakai dua silinder. Ketika yang lain sudah lari, Gixxer malah milih jalan santai. Ya nggak santai juga sih, tau lah maksud saya.

Apa Suzuki nggak belajar dari Honda CBR250R yang sempet dikatain “Tiger dikasih fairing”? Belajar dari kesalahan diri sendiri itu memang bagus, tapi kalau bisa belajar dari kesalahan orang lain, why not?

#2 Desain yang tak tegas

Apa yang bikin motor 250 cc itu digandrungi selain mesinnya? Yak betul, desainnya.

Lihat CBR250RR. Yang kita saksikan adalah keindahan, ketegasan, dan identitas yang jelas. Kalau kita beli CBR250RR, yang kita dapat adalah motor yang indah, desain yang tegas, dan identitas yang bisa dilihat di situ.

Sekarang lihat Suzuki Gixxer SF 250. Apakah dapat vibes yang sama? Saya sih nggak.

Soalnya, begini. Kalau memang Gixxer SF 250 ini motor sport, kok windshield-nya tinggi? Tinggi untuk ukuran motor sport, tapi nggak melindungi kita dari hempasan angin. Lah?

Kedua, ada behel di belakang. Lah, motor sport kok pake behel. Katanya sih sport touring, tapi kok aneh alasannya.

Ketiga, ergonomi. Oke, motor ini nggak menunduk, berarti enak. Tapi, nggak pas juga. Namanya motor sport, ya emang posisi riding-nya harus menunduk. Biar rasanya kek balapan gitu. Lha kalau nggak menunduk, kenapa pake motor sport?

Jadinya, identitas motor ini nggak jelas, seperti yang saya bilang tadi. Motor sport, tapi nggak menunduk. Motor sport, tapi pake windshield. Malah mendign GSX 150R, jelas desainnya. Nyatanya motor tersebut laku keras, meski harus senggol-senggolan dengan CBR150R dan Yamaha R15. 

#3 Suku cadang

Banyak dealer Suzuki yang tutup karena persaingan pasar yang kejam. Ya tidak bisa dimungkiri lagi, pasar motor di Indonesia dikuasai Yamaha dan Honda. Nah, ini jadi masalah untuk Suzuki Gixxer SF 250. Kalau kita beli motor ini, sedangkan bengkelnya aja pada tutup, terus kalau ada masalah, terus mau servis di mana?

#4 Harga

Harga adalah kunci saat beli motor. Mau cinta kek mana sama motornya, kalau duitnya nggak ada ya percuma.

Nah, Suzuki Gixxer SF 250 ini dibanderol 49 juta. Masalahnya, dengan spesifikasi tersebut, banyak orang bakal berpikir untuk mencari R25 atau Ninja 250 FI bekas. Atau kalau beruntung, CBR250RR bekas. Kalau ini, butuh pemilik yang BU.

Apakah ini berarti Gixxer SF 250 overpriced? Nggak juga, tapi terlalu banyak opsi yang jauh lebih mendingan ketimbang motor tersebut. Ujungnya, Suzuki bukannya ikut bertarung, tapi makin dihajar sama pabrikan lain. Salah siapa? Nggak tahu sih.

Dari paparan di atas, kita bisa bilang kalau Gixxer kurang recommended untuk dibeli. Tapi, layaknya sepak bola, motor pun punya fans-nya sendiri-sendiri. Kalau kalian pencinta Suzuki garis keras, gas aja sih. Asal ada duitnya.

Penulis: Andri Aditya Wicaksono
Editor: Rizky Prasetya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Exit mobile version