Kemarin (23/2/26), masyarakat Bondowoso dihebohkan dengan berita amblesnya Jembatan Sentong. Jembatan tersebut adalah yang menjadi penghubung vital Bondowoso-Jember. Dari berbagai berita yang berseliweran di media sosial, dapat diketahui kalau akses antara 2 kabupaten tersebut harus ditutup sementara, dan dialihkan ke jalur alternatif.
Yang menjadi masalah, jembatan tersebut jauh-jauh hari sudah dikabarkan retak, pertanda bahwa butuh diperbaiki. Akan tetapi, tak ada respons dari Pemkab, hingga akhirnya jembatan tersebut ambles. Padahal, kalau mau Pemkab Bondowoso bisa saja melakukan tindakan pencegahan supaya akhirnya nggak perlu nutup akses.
Sebagai masyarakat Bondowoso, saya sudah cukup kenyang sehari-hari membaca berita tentang bobroknya fasilitas infrastruktur Kota Bondowoso, terutama persoalan jalan. Bukan hanya dari berita saja, bahkan saya sendiri juga merasakan.
Melalui tulisan ini, saya ingin menyalurkan amarah saya yang terpendam, karena persoalan jalan saja Pemkab Bondowoso belum benar-benar menyeriusinya.
Pemkab harusnya bergerak dari awal, bukan saat sudah terjadi apa-apa
Asal tau saja, Jembatan Sentong ini ambles bukan tanpa tanda-tanda sebelumnya. Retakan sudah muncul, dan kabar pun sudah banyak beredar. Tetapi, respons Pemkab tak kunjung tiba. Sampai akhirnya benar-benar ambles dan salah satu akses vital Bondowoso-Jember harus ditutup total. Ironisnya, setelah ambles, barulah muncul kesigapan dan sok-sokan grusa-grusu.
Yang saya bingungkan, kenapa mesti nunggu rusak total dulu baru dianggap genting?
Kalau saja sejak retakan pertama muncul langsung ada evaluasi teknis, atau minimal pembatasan tonase kendaraan, mungkin masyarakat nggak perlu nanggung risiko sebesar ini. tapi, yang terjadi malah sebaliknya. Memang, sih, sepertinya pemerintah kita sudah terbiasa dengan pola biarin dulu, nanti diperbaiki kalau sudah parah. Ini parah, sih!
Respons semacam ini tentu saja blunder. Infrastruktur itu bukan sekadar urusan kosmetik yang cuma asal tambal saja. Ada keselamatan pengguna yang dipertaruhkan. Kalau cara kerjanya selalu nunggu krisis, yah, krisis terus dong, yang datang. Masak warga mau terus-terusan dijadikan pihak pertama yang merasakan dampaknya?
BACA JUGA: Bondowoso, Kota yang Nggak Kenal Macet, Nggak Bisa Macet, dan Aneh kalau Macet
Pembukaan jalur alternatif yang rusak adalah bukti bahwa daerah pinggiran Bondowoso tak terurus dengan baik
Amblesnya jembatan penghubung Bondowoso-Jember menyebabkan para pengendara mesti melewati jalur alternatif. Tentu saja, jalur alternatif ini nggak sama dengan jalur utama, biasanya sering disebut dengan jalan tikus. Ruasnya lebih sempit, dan kapasitas tebal aspalnya nggak seperti jalan provinsi.
Ironisnya, jalan alternatif yang disediakan rupanya mengalami kondisi yang tak kalah mengenaskan daripada fenomena jembatan ambles. Nggak sampai 2×24 jam, kondisi jalan alternatif sudah mulai terdampak lantaran memuat beban yang lebih daripada biasanya. Maklumlah, aspal tipis.
Sialnya, perbaikan jembatan penghubung Bondowoso-Jember diperkirakan menghabiskan waktu 8 bulan. Tentu saja masyarakat perlu khawatir dengan kondisi jalan alternatif yang digunakan, mengingat dalam satu hari pakai saja sudah blepotan. Sebetulnya ada jalan alternatif lain, tetapi kondisinya nggak mungkin digunakan. Bisa sih dilewatin, tapi mungkin cuma motor trail atau mobil offroad.
Kegusaran masyarakat tersebut membuktikan satu hal, bahwa jalan di daerah-daerah pinggiran Bondowoso kurang mendapat perhatian serius dari Pemkab. Padahal, jalan adalah fasilitas umum yang amat penting untuk diperhatikan karena masyarakat menggunakannya untuk aktivitas sehari-hari.
RRI mencatat bahwa Kepala Dinas BSBK Kabupaten Bondowoso menyebut jalan rusak di Bondowoso mencapai kurang lebih 100 titik, dengan variasi kerusakan yang berbeda. Bahkan dikabarkan banyak pengendara yang menjadi korban dari lubang-lubang menganga. Lebih-lebih, cuaca yang memasuki musim hujan ini menjadikan jalanan rusak makin menyeramkan.
Di sinilah seharusnya Pemkab Bondowoso merealisasikan janjinya yang akan gerak cepat. Genap satu tahun menjabat, kok rasa-rasanya nggak ada perubahan sama jalan-jalan di daerah pinggiran, ya?
Jalan rusak itu persoalan hidup dan mati
Mungkin ada yang mengira kalau jalan rusak itu cuma bikin perjalanan nggak nyaman. Paling-paling ban bocor, atau motor oleng. Padahal, kalau mau lebih cermat lagi, dampaknya nggak main-main.
Jalur Bondowoso-Jember merupakan salah satu urat nadi ekonomi. Ada petani yang mengirim hasil panennya, pedagang yang distribusi barang, dan para pekerja bolak-balik mencari nafkah. Ketika akses utama ditutup dan dialihkan ke jalan alternatif yang kondisinya nggak kalah memprihatinkan, otomatis biaya transportasi naik, bahkan risiko kecelakaan meningkat..
Kalau perbaikan jembatan memakan waktu hingga 8 bulan, berarti 8 bulan pula ekonomi warga harus berjalan pincang. Bagi saya, itu amat mengerikan. Karena lagi-lagi, kita-kita ini, warga, yang kena dampaknya.
Itu mengapa Pemkab harus berbenah diri untuk senantiasa melakukan tindakan preventif, pencegahan sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi, jauh sebelum kepada tindakan pencegahan, harusnya diperbaiki dululah ya. Bukan cuma sekadar diperbaiki, tapi juga diseriusi. Pak Bupati, ada banyak loh, jalan rusak yang menanti buat Anda perbaiki!
Penulis: Ahmad Dani Fauzan
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Siasat yang Bisa Diambil Bondowoso supaya Naik Kelas dan Tidak Jadi Kabupaten Medioker
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
