Sebagai manusia yang pernah mencicipi kerasnya aspal Surabaya dan debu jalanan Sidoarjo, saya merasa punya otoritas moral untuk menulis ini.
Selama bertahun-tahun, Surabaya selalu membusungkan dada sebagai metropolisnya Jawa Timur. Kota Pahlawan. Kota dengan taman yang instagrammable, trotoar lebar yang (katanya) ramah pejalan kaki, dan mall-mall megah yang jumlahnya lebih banyak daripada jumlah mantan saya. Orang Surabaya memandang Sidoarjo dengan tatapan meremehkan, “Halah, Sidoarjo. Kota satelit, kota lumpur. Kalau nggak ada Surabaya, Sidoarjo mati.”
Eits, tunggu dulu, Ferguso.
Narasi itu mungkin berlaku 10 tahun lalu. Hari ini, di tahun 2026, di saat Surabaya semakin panas (secara harfiah dan metaforis) dan semakin tidak masuk akal harga tanahnya, Sidoarjo hadir sebagai antitesis yang menenangkan. Sidoarjo adalah oase bagi kaum kelas menengah yang lelah dipaksa menjadi “Suroboyoan” yang harus selalu gercep, keras, dan misuh setiap 5 menit sekali.
Izinkan saya membela kehormatan kota udang ini. Sidoarjo, dengan segala kemacetan Gedangan dan drama Aloha-nya, sebenarnya menawarkan hidup yang jauh lebih manusiawi ketimbang tetangganya yang angkuh itu.
Surabaya itu kota untuk bekerja, bukan untuk hidup
Mari kita bicara jujur. Surabaya itu diciptakan untuk memacu adrenalin dan kortisol.
Bangun pagi di Surabaya, Anda sudah disambut dengan hawa panas yang seolah-olah matahari ada di atas genteng persis. Keluar rumah, jalanan sudah penuh dengan pengendara motor yang skill menyalipnya setara pebalap MotoGP tapi dengan nyawa rangkap sembilan. Klakson bersahutan. Umpatan “janc*k” adalah salam pagi yang wajar.
Surabaya menuntut Anda untuk berlari. Hustle culture di Surabaya itu nyata, meski tak sepretensius Jakarta. Di Surabaya, kalau Anda lambat, Anda digilas.
Sebaliknya, begitu Anda melewati batas Bundaran Waru dan masuk ke Sidoarjo, ritme itu melambat. Serius. Coba rasakan.
Sidoarjo punya vibes kota kabupaten yang kental tapi dengan fasilitas kota besar. Orang-orang Sidoarjo, entah kenapa, wajahnya tidak setegang orang Surabaya. Di sini, hidup terasa lebih selow. Warkop-warkop di Sidoarjo tidak penuh dengan orang yang membahas proyek miliaran dengan nada tinggi, tapi penuh dengan bapak-bapak sarungan dan anak muda mabar yang tertawa lepas.
Di Sidoarjo, Anda tidak merasa berdosa kalau hidup santai. Di Surabaya, santai sedikit rasanya seperti sedang melakukan tindak kriminal kemalasan.
Pertahanan terakhir, harga rumah masuk akal
Ini poin paling krusial bagi Gen Z dan Milenial: papan.
Coba cari rumah tapak (landed house) di Surabaya dengan harga di bawah 500 juta yang lokasinya bukan di ujung dunia atau di gang senggol yang mobil nggak bisa masuk. Mustahil. Kalaupun ada, pasti sertifikatnya Petok D atau sengketa dengan juragan tanah.
Surabaya sudah penuh sesak. Apartemen menjamur, tapi siapa yang mau seumur hidup tinggal di kotak beton di langit?
Sidoarjo adalah juru selamat. Di sini, dengan harga yang sama, Anda bisa dapat rumah dengan halaman, dua kamar tidur, dan—yang paling penting—tetangga yang guyub. Perumahan di Sidoarjo, mulai dari Waru, Gedangan, sampai Candi, masih menawarkan mimpi kelas menengah yang realistis: Punya rumah sendiri sebelum usia 40.
Memang konsekuensinya adalah Anda harus bertarung dengan kemacetan legend di jalan raya Sidoarjo-Surabaya setiap pagi. Tapi, bukankah itu harga yang pantas dibayar demi pulang ke rumah yang homy dan bukan ke kos-kosan sumpek di tengah panasnya Surabaya?
Kuliner Sidoarjo lebih autentik, kurang gimik
Orang Surabaya boleh bangga dengan rawon setan atau sate klopo. Tapi soal kuliner harian yang menenangkan jiwa, Sidoarjo juaranya.
Anda pernah makan lontong kupang di pinggir jalan Sidoarjo? Itu bukan sekadar makanan, itu pengalaman spiritual. Kerang kecil-kecil yang dimasak dengan petis, bawang putih goreng, dan perasan jeruk nipis, lalu dimakan sambil minum es degan ijo. Kombinasi itu adalah penetral racun kehidupan. Di Surabaya ada, tapi vibes-nya beda. Di Surabaya, makan kupang rasanya buru-buru. Sementara di Sidoarjo, makan kupang adalah ritual kontemplasi.
Belum lagi bandeng asap dan otak-otak bandengnya. Sidoarjo tidak butuh kafe-kafe estetik yang jual kopi susu gula aren seharga 35 ribu cuma buat foto Instagram. Sidoarjo menawarkan rasa yang jujur. Warung-warung di Sidoarjo jarang yang gimiknya berlebihan. Enak ya enak, murah ya murah. Titik.
Sidoarjo tidak berusaha menjadi Jakarta
Ini yang bikin saya respek. Surabaya, sadar atau tidak, sedang berusaha keras menjadi “Jakarta kedua”. Mal dibangun di mana-mana. Kemacetan makin mirip. Gaya hidup makin hedonis. Orang-orangnya mulai individualis. Masuk kompleks perumahan elit di Surabaya barat, rasanya kayak masuk negara lain. Satpamnya galak, pagarnya tinggi-tinggi.
Sidoarjo? Sidoarjo tetaplah Sidoarjo.
Ia tidak malu dengan identitasnya. Ia menerima nasibnya sebagai kota penyangga. Tidak berusaha menjadi metropolitan yang gemerlap. Mal di Sidoarjo (sebut saja Lippo atau Suncity) ya begitu-begitu saja, tidak semegah Tunjungan Plaza atau Pakuwon Mall. Tapi justru itu poin plusnya.
Pergi ke mal di Sidoarjo itu santai. Anda bisa pakai celana pendek dan sandal jepit tanpa dipandang sinis oleh mbak-mbak SPG make-up. Di Surabaya, ke TP (Tunjungan Plaza) pakai sandal jepit butuh mental baja (kecuali Anda Chindo old money). Di Sidoarjo, kesederhanaan adalah norma, bukan anomali.
Berdamai dengan lumpur dan banjir
”Tapi kan Sidoarjo banjir, Mas? Ada lumpur Lapindo juga.”
Oke, mari kita bahas gajah di pelupuk mata ini. Lumpur Lapindo memang tragedi. Banjir di beberapa titik memang menyebalkan. Tapi, mari kita lihat dari sisi lain.
Lumpur Lapindo sekarang sudah jadi destinasi wisata dark tourism. Orang Sidoarjo punya kemampuan adaptasi yang luar biasa. Mereka berdamai dengan bencana. Tanggul lumpur itu sekarang jadi tempat nongkrong sore-sore melihat matahari terbenam. Puitis, kan? Romantisme di atas tragedi.
Soal banjir? Surabaya juga banjir, Bos. Bedanya, kalau Surabaya banjir, walikotanya akan langsung turun tangan dan viral di medsos. Kalau Sidoarjo banjir, warganya cuma geleng-geleng kepala, gulung celana, terus lanjut ngopi. Mentalitas “nrimo ing pandum” warga Sidoarjo ini yang bikin hidup lebih tenang. Nggak gampang stres.
Kesimpulannya, Sidoarjo adalah tempat pulang
Surabaya adalah tempat untuk mencari uang. Ia adalah medan perang. Ia adalah kantor, pabrik, dan pasar. Silakan habiskan energimu di Surabaya dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Silakan bertarung, sikut-sikutan, dan misuh-misuh di sana.
Tapi saat matahari terbenam, tubuh dan jiwa butuh istirahat. Dan tempat istirahat terbaik bukanlah di tengah medan perang, melainkan di barak yang tenang di pinggiran.
Sidoarjo menawarkan ketenangan itu. Jaraknya cukup dekat untuk dijangkau (terima kasih Tol Trans Jawa dan jalan arteri yang makin lebar), tapi cukup jauh untuk memisahkan diri dari hiruk-pikuk metropolis yang bising.
Tinggal di Sidoarjo membuat kita sadar bahwa hidup bukan cuma soal mengejar target dan gengsi. Hidup juga soal menikmati Kupang Lontong di sore hari, menyapa tetangga yang sedang menyiram tanaman, dan tidur nyenyak tanpa suara bising knalpot brong.
Jadi, buat teman-teman di Surabaya yang merasa hidupnya makin sesak dan sumpek, cobalah main ke selatan sedikit. Lewati Bundaran Waru. Siapa tahu, di balik kemacetan Aloha itu, kalian menemukan kedamaian yang selama ini hilang.
Pasuruan mungkin bikin hidup lebih tenang daripada Malang. Tapi Sidoarjo? Sidoarjo bikin hidup lebih waras daripada Surabaya.
Penulis: Roh Widiono
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Saya Warga Sidoarjo, tapi Nggak Pernah Bangga dengan Kota Sendiri.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
