Beberapa teman masa kecil di Jogja yang kebetulan sekarang menetap di Jakarta, pernah mengatakan kepada saya bahwa ingin kembali dan hidup slow living di Jogja. Caranya, ia akan mengumpulkan dan menabung sebanyak mungkin. Lalu, cari tanah dan bangun kos-kosan di Jogja. Ia membayangkan cukup menerima passive income sembari merokok kretek dan menghitung kicauan burung tiap pagi.
Akan tetapi, sebagai pengelola pemula kos-kosan di Jogja, saya hendak menyarankan bahwa ada banyak jalan berliku saat mengelolanya. Barangkali, ia akan membuat bangunan yang estetik, sesuai selera masa kini, kamar yang cukup sepuluh saja, dan full perabotan. Cukup dengan kisaran harga sejuta hingga sejuta setengah rupiah per bulan, sepertinya hidup akan tenang.
Nah, ternyata, bayangan tersebut tidak seindah kenyataan. Hal tersebut saya alami setidaknya dalam dua bulan terakhir. Apa saja masalahnya?
Tidak sembarang bisa memilih warna cat tembok
Saya sungguh tidak menduga bahwa warna cat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan anak kos. Menurut mereka, warna cat tembok untuk kos adalah putih. Entah putih vanilla atau putih pucat, yang penting warnanya putih.
Nah, sedangkan kos yang saya kelola, cat tembok bagian dalamnya kebetulan warna hijau. Konon, kata Gen Z masa kini, warna hijau adalah warna Gen Boomers. Mulanya, tidak hanya bagian dalam, melainkan juga bagian luar yang juga berwarna hijau. Bahkan, beberapa teman menyebutnya sebagai hijau miskin. Saya tidak mengerti apa maksudnya. Hahaha.
Sekarang, sih, yang bagian luar, oleh pemiliknya, sudah diubah menjadi warna putih. Meskipun, ya, tetap saja bagian dalamnya berwarna hijau.
Full perabotan tidak berarti menyenangkan anak kos
Di kos yang saya kelola, hampir semua fasilitas ada. AC, kamar mandi dalam, cermin, lemari, meja dan kursi belajar, dipan untuk tempat tidur, korden, kloset duduk, hingga wastafel. Sepertinya menyenangkan, bukan? Semua lengkap sehingga anak kos cukup membawa tas berisi pakaian, dan, ya, menikmati kos saja.
Ternyata, nggak juga. Ketika beberapa orang datang, mereka malah meminta tidak menggunakan kursi dan meja belajar atau cermin atau lemari atau bahkan dipan untuk tempat tidur. Batin saya, “Lha malah kosongan, yak?”
Alasannya, terlalu penuh. Butuh ruang yang lebih luas. Saya jadi paham bahwa ternyata tidak semua anak kos butuh full perabotan.
Harga murah tidak berarti mudah dapat anak kos
Menurut saya, dengan harga sejuta sebulan, kos ini termasuk lebih murah dibandingkan yang lainnya di sekitar UII, Jakal atas. Seperti yang saya sebutkan di atas, selain full perabotan, tersedia WiFi full access. Iuran sampah dan air, karena kebetulan menggunakan PAM, sudah ditanggung pemilik.
Bahkan, tersedia dapur bersama, kulkas, dan sebuah benda yang menurut saya jarang di kosan lainnya, yaitu mesin cuci. Jadi, anak kos tidak perlu repot cari laundry karena bisa menggunakannya.
Yang lebih menarik, jika anak kos mampu langsung bayar setahun, dapat bonus sebulan. Artinya, anak kos cukup bayar sebelas bulan saja. Bahkan, jika anak kos tidak mampu bayar setahun, bisa bayar per bulan.
Nah, dengan berbagai fasilitas seperti itu, ternyata tidak mudah mengelola kos-kosan di Jogja. Saya menduga persaingan antarkos semakin rumit. Belum tentu yang murah, justru mendapat perhatian anak kos. Seorang teman, yang kebetulan mengelola kos juga, dan harganya lebih mahal lima ratus ribu, justru penuh.
Ada penjaga lebih disukai
Kalau era saya, sepertinya tidak ada induk semang atau penjaga kos, justru disukai. Sekarang, sepertinya berbeda. Ada induk semang lebih disukai. Barangkali karena kos yang saya kelola adalah kosan putri. Jadi, alangkah lebih aman apabila ada penjaganya.
Benar begitu?
Oh, iya, kosan yang saya kelola adalah kos putri di sekitar UII. Tentu saya mengelola tidak sendiri, melainkan bersama istri. Jadi, aktivitas di kosan lebih banyak istri daripada saya. Maka, sebenarnya artikel ini disampaikan oleh istri, tetapi keluhan dalam bentuk tulisan disampaikan oleh saya.
Penulis: Iday Daiyah Adawiyah
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.