Suka Duka Bekerja di Perusahaan Telemarketing, Semua Orang (Dipaksa) Jago Dagang kayak Jordan Belfort

Suka Duka Bekerja di Perusahaan Telemarketing, Semua Orang (Dipaksa) Jago Dagang kayak Jordan Belfort

Suka Duka Bekerja di Perusahaan Telemarketing, Semua Orang (Dipaksa) Jago Dagang kayak Jordan Belfort (Pixabay.com)

Fresh graduate rata-rata punya kegalauan yang sama: mau kerja nggak punya atau skill-nya dikit, tapi requirement dari perusahaan kelewat tinggi. Hal-hal seperti ini memang jadi dilema. Tapi tak berarti para fresh graduate ini nggak punya kesempatan sama sekali, sebab ada satu pekerjaan yang bisa jadi pilihan untuk orang-orang tersebut, yaitu telemarketing.

Saya sendiri pernah bekerja di salah satu perusahaan telemarketing. Meski pekerjaan ini saya anggap sebagai entry level, tapi gajinya nggak main-main. Gaji pokoknya UMR Jakarta, jika tembus target, komisi dan reward-nya cukup besar. Bisa sampai dua digit malah.

Meski hanya bekerja selama 16 bulan, tapi saya nggak bisa mungkiri, pekerjaan ini lumayan kalau untuk sekadar mengisi kantong pemasukan. Dan tentu saja, selama bekerja di telemarketing ini, saya banyak sekali mengalami suka maupun duka. Tapi tidak hanya di telemarketing, mungkin di tempat kerja di bidang lain pun sama, mengalami hal serupa.

Tapi kerja di perusahaan telemarketing itu gimana sih?

Kawan yang enak

Yang saya rasakan, sukanya kerja di telemarketing tempat saya yaitu mayoritas rekan kerja lingkupnya adalah kaum millenials. Jadi masih nyambung saat nongkrong, pokoknya nyambung lah.

Kedua, sukanya yaitu terkadang kita di akhir bulan pasti mengadakan entah jalan jalan atau makan bareng di luar. Untuk apa? ya bisa ditebak, demi meningkatkan loyalitas dan kekompakan team.

Itu sih klise ya, banyak pekerjaan yang modelnya seperti itu. Tapi ada satu keunggulan kerja di telemarketing yang orang nggak tahu: jadi makin dekat dengan Tuhan. Lho kok?

Kerja di perusahaan telemarketing bikin kita jadi banyak-banyak berdoa. Sebelum memulai kerja, kita semua berdoa bareng. Tidak hanya pas saat pagi saja, tapi siang pun kita juga berdoa bareng agar achievement target perusahaan dari setiap tim. Agar nggak kena hukum kalau nggak tembus target, wqwqwq.

Bla target kerja kita sudah terpenuhi, kita bisa pulang lebih awal dari teman-teman kita. Dan kita juga bisa nego sama leader kita juga bisa masuk siang. Sangat menyenangkan bukan?

Itu sukanya. Nah, kini kita masuk dukanya.

Duka kerja di perusahaan telemarketing

Saya tak bisa mungkiri, kerja di telemarketing itu menguras tenaga, terlebih mental dan batin. Kalau nggak kuat, pekerjaan ini nggak cocok banget. Bila tak kuat, saran saya mending cari kerja tempat lain atau jadi pengusaha saja. Bebas dari omelan maupun bebas mengatur jam kerjanya sendiri.e

Kedua, karena pekerjaan ini target oriented, jadi kalau nggak dapet target memang bakal kena semprot. Lagi-lagi, batin.

Ketiga, jangan berharap pulang tepat waktu, bisa-bisa baru kelar waktu malam hari. Kenapa?

Setelah last call, kita masih harus menjalani training dan diminta mendengar rekaman kawan kita yang jago dalam berdagang. Buat apa? Ya biar kita bisa dapat nasabah.

Kadang nggak cuman denger sih, disuruh nulis juga. Bayangin nulis percakapan selama 20 menit. Ya biar jago sih, sejago Jordan Belfort di Wolf of Wall Street. Jago dagang lho, bukan nipu.

Begitulah suka-dukanya bekerja di dunia telemarketing. Bila kita tidak pandai dalam berdagang, kita akan terus kena punishment dan mental psikis kita tidak akan baik baik saja. Ya memang itulah dunia kerja. Punishment dan reward berjalan beriringan. Ya meski tak sering.

Untuk teman-temanku yang masih bekerja di lingkup telemarketing, semoga sehat selalu diperlancar pekerjaannya dan sukses.

Penulis: Novian Syahnur Rahim
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Alasan Kenapa Telemarketing Jadi Pekerjaan Sejuta Umat

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version